Ketegangan AS-Iran Bakal Hambat Aliran Modal Asing ke Indonesia?

Kompas.com - 08/01/2020, 13:19 WIB
Rudal balistik surface-to-surface Shahab-3 dipamerkan dalam perayaan Garda Revolusi Iran di Lapangan Baharestan, Teheran, pada 26 September 2019. AFP/STRRudal balistik surface-to-surface Shahab-3 dipamerkan dalam perayaan Garda Revolusi Iran di Lapangan Baharestan, Teheran, pada 26 September 2019.

JAKARTA, KOMPAS.com - Eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, menurut Direktur Riset Center of Reforms on Economics (CORE), Piter Abdullah, tentu akan berdampak terhadap perekonomian global, khususnya melalui jalur pasar keuangan.

Memburuknya hubungan AS dan Iran merusak tren sentimen positif di pasar keuangan global yang terbangun pasca kesepakatan perang dagang AS dan China.

"Kekhawatiran akan terjadinya perang antara Amerika dan Iran akan menahan aliran modal asing masuk ke negara-negara berkembang termasuk ke Indonesia dan tentunya akan berdampak negatif terhadap IHSG dan juga rupiah," kata Piter kepada Kompas.com, Rabu (8/1/2020).

Baca juga: Sri Mulyani Awasi Dampak Konflik Iran-AS ke Ekonomi RI

Selain itu, ketegangan antar kedua negara tersebut juga bisa berdampak ke perekonomian melalui jalur perdagangan.

Salah satunya dengan kenaikan harga minyak mentah dunia.

"Kenaikan harga minyak akan berpengaruh besar ke APBN. Kenaikan harga BBM bisa menyebabkan beban subsidi yang meningkat signifikan," ujarnya.

Lebih lanjut Piter menjelaskan, kala ketidakpastian global meningkat alternatif pilihan investasi yang umumnya dipilih adalah emas.

"Jadi tidak heran bila ketegangan AS dan Iran memicu kenaikan harga emas," ucapnya.

Baca juga: Konflik AS-Iran Memanas, Pertamina Evakuasi Pekerjanya di Irak

Lain halnya, dengan Kepala Ekonom BNI, Kiryanto yang menyebut ketegangan AS-Iran tidak memberi efek negatif yang signifikan karena sifatnya temporer atau jangka pendek.

Ini bisa dilihat dari kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di awal tahun ini.

"IKK naik karena dunia usaha optimis outlook ekonomi RI di 2020 ini akan relatif lebih baik dibanding 2018 dan 2019 karena tekanan faktor eksternalnya, trade war dan Brexit mereda," katanya.

Sementara, dari faktor internalnya, Kiryanto mengatakan adanya topangan oleh kondisi makroekonomi yang stabil, inflasi rendah, efek perang dagang relatif terbatas untuk ekonomi RI, dan harga sebagian komoditas membaik.

Selain itu, stabilitas politik terjaga dan komitmen pemerintah untuk percepat belanja modal mulai awal tahun ini.

Baca juga: Konflik AS-Iran Memanas, Pertamina Evakuasi Pekerjanya di Irak

Lalu, adanya UU Omnibus Law sebagai sapu jagat untuk menyelesaikan semua kendala teknis operasional di lapangan, investasi langsung akan membesar.

Adapun kebijakan moneter atau makroprudensial Bank Indonesia yang akomodatif pro pertumbuhan serta kebijakan fiskal Kementerian Keuangan yang counter-cyclical untuk mendorong aktivitas ekonomi.

"Keyakinan dunia usaha inilah yang membuat IKK membaik dan akan bertahan di sepanjang 2020 ini. Pendek kata, lebih banyak good news ketimbang bad news," ucap Kiryanto.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X