[POPULER MONEY] Dana Pensiun BUMN akan Dilebur | Pengaruh Iran vs AS ke Ekonomi RI

Kompas.com - 09/01/2020, 06:06 WIB
Para pelayat berkumpul di sekitar kendaraan yang membawa peti jenazah Jenderal Qasem Soleimani di Kerman, Iran, pada 7 Januari 2020. Soleimani tewas setelah mobil yang ditumpanginya diserang AS di Bandara Internasional Baghdad, Irak, pada 3 Januari 2020. AFP/ATTA KENAREPara pelayat berkumpul di sekitar kendaraan yang membawa peti jenazah Jenderal Qasem Soleimani di Kerman, Iran, pada 7 Januari 2020. Soleimani tewas setelah mobil yang ditumpanginya diserang AS di Bandara Internasional Baghdad, Irak, pada 3 Januari 2020.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian BUMN berencana menyatukan pengelolaan dana pensiun karyawan perusahaan pelat merah, yang selama ini dikelola masing-masing secara internal.

Berita tersebut menjadi yang terpopuler sepanjang hari kemarin, Rabu (9/1/2020). Sementara berita lain yang juga terpopuler adalah tentang keberadaan Natuna bagi Singapura.

Berikut berita terpopuler sepanjang hari kemarin:

1. Tiru Kanada, Erick Thohir Mau Dana Pensiun Karyawan BUMN Dilebur

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir ingin mencontoh Kanada dalam pengelolaan dana pensiun karyawan BUMN. Nantinya, dana pensiun dari para karyawan perusahaan plat merah akan disatukan atau dilebur dan dikelola secara profesional.

“Yang selama ini dikelola internal akan disatukan, ini supaya dana pensiun bisa membesar dan lebih baik lagi," ujar Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga di Jakarta, Selasa (7/1/2020). Selengkapnya silakan baca di sini.

2. AS-Iran Kian Memanas, Ini Dampaknya ke Ekonomi RI

Hubungan Amerika Serikat dan Iran kian memans pasca serangan Amerika Serikat ke Baghdad yang menewaskan pimpinan militer Iran Qasem Solaemani, Hal ini memicu kekhawatiran publik mengenai perang dunia ketiga lantaran keterlibatan negara-negara ke masing-masing pihak.

Direktur Riset Centre of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah menilai, ketegangan kedua negara yang berlarut bisa menyebabkan defisit migas RI kian melebar. Pasalnya, dalam beberapa hari terakhir pasca serangan terjadi, harga minyak dunia terus terkerek naik.

"Ketegangan ini juga bisa berdampak ke perekonomian melalui jalur perdagangan misalnya dengan kenaikan harga minyak. Tentunya kita berharap kedua pihak bisa menahan diri dan menyelesaikan perbedaan dengan jalan damai," jelas Piter ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (7/1/2020). Selengkapnya silakan baca di sini.

3. Tanpa Natuna, Singapura Gelap Gulita

Nama Natuna dalam beberapa hari terakhir tengah santer dibicarakan. Ini setelah China mengeluarkan klaim memiliki hak di Perairan Natuna yang masuk sebagai Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia. Selain potensi perikanan, Natuna juga menyimpan cadangan gas raksasa di bawah lautnya. Bahkan cadangan gasnya, disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia. Gas alam di Natuna sendiri sebenarnya sudah lama dieksploitasi. Lapangan gas dengan produksi yang terbesar saat ini yakni Blok Corridor di West Natuna yang dikelola ConocoPhillip. Gas yang disedot dari lapangan ini hampir seluruhnya disalurkan ke Singapura. Selengkapnya silakan baca di sini.

4. Iran Tembakan Rudal ke Markas Militer AS, Rupiah Langsung Melemah

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar AS pada pembukaan perdagangan di pasar spot pada Rabu (8/1/2020). Mengutip data Bloomberg, pada pukul 08.21 WIB, rupiah dibuka pada level Rp 13.935 per dollar AS, melemah 57 poin atau sebesar 0,41 persen dibanding penutupan Selasa Rp 13.878 per dollar AS.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, ketegangan antara AS dan Iran yang berujung pada serangan balasan Iran ke basis militer AS di Iraq dinilai akan mendorong rupiah melemah.

"Dini hari tadi ada serangan militer balasan dari Iran ke basis militer AS di Iraq dengan menembakkan rudal. Menumbuhkan sentimen hindar resiko yang akan membayangi perdagangan di pasar keuangan hari ini termasuk rupiah," kata Ariston kepada Kompas.com. Selengkapnya silakan baca di sini.

5. Tembus Rp 4.778 Triliun, Ini Rasio Utang RI dan Negara Tetangga

Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah mencapai Rp 4.778 triliun hingga akhir 2019. Jika dibandingkan dengan posisi utang di periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 4.418,3 triliun, maka sepanjang tahun 2019 utang pemerintah bertambah sebesar Rp359,7 triliun.

Namun demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, rasio utang yang sebesar 29,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) tersebut masih terjaga aman. Pasalnya dalam UU No 17 Tahun 2013 tentang Keuangan Negara dijelaskan, rasio utang pemerintah diperbolehkan hingga menyentuh 60 persen dari PDB. Selengkapnya silakan baca di sini.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X