Lifting Migas Sepanjang 2019 Tak Capai Target

Kompas.com - 09/01/2020, 15:23 WIB
Para pekerja di industri hulu migas sedang melaksanakan pekerjaannya di lapangan. SHUTTER STOCKPara pekerja di industri hulu migas sedang melaksanakan pekerjaannya di lapangan.

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas bumi ( SKK Migas) mencatat produksi migas siap jual (lifting) sebesar 1,806 juta barel setara minyak (Barel Oil Equivalent Per Day/BOEPD) sepanjang 2019.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan angka ini setara dengan 90,5 persen dari target APBN 2019, yakni sebesar 2,025 juta BOEPD.

Namun, realisasi ini sudah lebih tinggi dibandingkan rencana kerja atau WPNB SKK Migas.

"Realisasi ini setara 101,1 persen dari taget WPNB yang disepakati dengan KKKS," ujarnya, di Kantor SKK Migas, Jakarta, Kamis (8/1/2019).

Baca juga: Luhut soal Penurunan Lifting Migas: Kita Punya Data 1,6 Miliar Barrel...

Untuk lifting migas, realisasinya pada tahun lalu hanya mencapai 746.000 barel per hari. Angka ini setara 96,3 persen target APBN yakni sebesar 775.000 barel per hari.

Menurut Dwi, potensi lifting minyak Indonesia bisa mencapai 752.000 barel per hari. Namun, terdapat beberapa kendala yang menyebabkan realisasi lifting 2019 ke level 746.000 barel per hari.

Beberapa insiden yang menyebabkan realisasi berkurang diantaranya, kebocoran Exxon Mobil Cepu Limited di Cepu. Hal ini menyebabkan adanya penurunan liftint hingga 2.900 barel per hari.

"Kebocoran pipa, permasalahan kelistrikan di PHE OSES  unplanned shut down 46 Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS), isu H2S Spike HCML, kebakaran hutan Riau mengurangi produksi minyak Chevron Pacific Indonensia," tutur dia.

Baca juga: Lifting Migas RI Baru 89 Persen dari Target

Kemudian untuk realisasi lifting gas sepanjang 2019 mencapai 5.934 MMSCFD. Angka ini setara dengan 84,5 persen target APBN 2019, yakni sebesar 7.000 MMSCFD.

Lifting gas disebut berpotensi mencapai 6.000 MMSCFD. Akan tetapi diakibatkan adanya gas yang belum terserap maka lifting gas 2019 belum mampu mencapai potensi tersebut.

"Itu disebabkan curtailment pembatalan pembelian gas, belum terjual," ucap Dwi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X