KNTI Setuju Lobster Dibudidaya, Asal Utamakan Petambak Kecil

Kompas.com - 09/01/2020, 17:22 WIB
Fajar, sedang menangkap lobster hasil budidaya di karamba miliknya yang berada di kawasan pantai  Ulele, Banda Aceh, Jumat (26/1/2018). Lobster jenis mutiara, batu, dan bambu ini dijual ke sejumlah rumah makan dan restoran, baik yang ada di Aceh maupun di luar daerah dengan harga sekitar Rp 400.000 per kilogram. KOMPAS.COM / RAJA UMARFajar, sedang menangkap lobster hasil budidaya di karamba miliknya yang berada di kawasan pantai Ulele, Banda Aceh, Jumat (26/1/2018). Lobster jenis mutiara, batu, dan bambu ini dijual ke sejumlah rumah makan dan restoran, baik yang ada di Aceh maupun di luar daerah dengan harga sekitar Rp 400.000 per kilogram.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah tengah merencanakan pemanfaatan benih lobster untuk diekspor ke luar negeri maupun dibudidaya di dalam negeri hingga mampu mengalahkan Vietnam.

Ketua Harian Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dani Setiawan mengaku pihaknya lebih mendorong Indonesia membudidayakan lobster di dalam negeri alih-alih dieskpor.

Menurut dia, Indonesia harus mencontoh Norwegia dalam mengembangkan budidaya di dalam negeri.

Baca juga: Simpang Siur Rencana Edhy Cabut Larangan Ekspor Benih Lobster Era Susi

 

Seperti diketahui, Norwegia merupakan pembudidaya salmon yang berhasil menduduki eksportir 2 dunia meski tak selalu mudah pada awalnya.

"Mereka mulai merubah dari proses menangkap salmon menjadi budidaya yang dilakukan nelayan kecil pada tahun 1990-an. Memang melalui tahap yang tidak singkat, tapi tidak lepas dari kesungguhan mereka. Akhirnya berhasil," kata Dani di Jakarta, Kamis (9/1/2020).

Namun perlu dicatat, Dani ingin budidaya dalam negeri menciptakan persaingan pasar yang sehat, yang berimplikasi pada kesejahteraan nelayan kecil. Artinya, budidaya mesti memerhatikan kontribusi petambak kecil, bukan hanya dikuasai petambak besar.

"Jadi budidaya perlu ditumbuhkan agar manfaat budidaya ini tidak hanya diambil pemain besar tapi juga rakyat kebanyakan, sehingga kita melihat budidaya menjadi jangkar perekonomian nasional," terang Dani.

Baca juga: Susi Tidak Setuju Lobster Dibudidaya, Apa Alasannya?

Sepakat dengan Dani, Ketua Dewan Pakar KNTI Alan F Koropitan mengatakan budidaya harus memperhatikan nelayan kecil. Pasalnya, mayoritas nelayan Indonesia adalah nelayan kecil. 

Berdasarkan data KKP tahun 2018 yang dikeluarkan Pusdatin, 96 persen armada laut RI berukuran di bawah 10 GT pada 2016. Sedangkan, armada di atas 30 GT hanya berkisar 1 persen dari jumlah 543.845 kapal.

"Jadi itu memenuhi perairan kita di bawah 12 mil," kata Alan.

Selain itu, Alan menyoroti stok ikan dunia menurun 4,1 persen dalam 80 tahun terakhir. Artinya, sudah saatnya nelayan tak bergantung pada hasil tangkapan.

Belum lagi, potensi luas laut RI yang bisa digunakan untuk budidaya adalah 12 juta hektar dan baru 285.527 hektar yang digunakan. Potensi air tawar masih 2,5 juta hektar dan potensi budidaya air payau masih tersisa 2,2 juta hektar.

"Dari 2,2 juta hektar, baru 500.000-600.000 yang terpakai dan itupun sudah merajai India, Vietnam, dan China. Jadi memang harus budidaya. Tidak ada pilihan lagi selain beradaptasi (untuk budidaya)," pungkasnya.

Baca juga: Jokowi Kesal Harga Gas Industri Mahal, Ini Kata SKK Migas

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X