Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Dipangkas, Apa Kata Sri Mulyani?

Kompas.com - 10/01/2020, 07:57 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ketika melantik pejabat eselon II, III, dan IV Kementerian Keuangan di Jakarta, Jumat (29/11/2019). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ketika melantik pejabat eselon II, III, dan IV Kementerian Keuangan di Jakarta, Jumat (29/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Dunia dalam laporan pertengahan tahunnya merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global di tahun 2020 menjadi hanya 2,5 persen.

Pada pertengahan tahun lalu, lembaga internasional tersebut sempat melaporkan, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020 bakal tumbuh di kisaran 2,7 persen.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, hal tersebut terjadi lantaran ketidakpastian global masih terjadi dari tahun 2018 hingga tahun 2019.

 

Baca juga: Bank Dunia Kembali Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global

Ditambah lagi, harapan membaiknya perekonomian global di awal tahun justru tak terjadi lantaran terjadi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ini akibat serangan pesawat tak berawat milik Amerika Serikat ke Baghdad, yang menewaskan pimpinan militer Iran Qasem Soleimani.

"Ketidakpastian global masih akan bersistem. Jadi kita akna terus seimbang aja. Di sisi lain kita sudah melihat di 2018 dan 2019 dengan gejolak global, kita mampu menjaga ekonomi dalam negeri. Tapi Indonesia sebagai satu negara kita ingin memperbaiki performance-nya," ujar Sri Mulyani ketika ditemui di Kementerian Luar Negeri Jakarta, Kamis (9/1/2020).

"Global environment ini tadinya diharapkan 2020 lebih positif, dibuka dengan belum ada dua minggu, ada ancaman perang," jelas dia.

Sri Mulyani mengatakan, meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak akan melanjutkan eskalasi ketegangan hingga tahap perang dengan Iran.

 

Baca juga: Sri Mulyani Awasi Dampak Konflik Iran-AS ke Ekonomi RI

Namun, dirinya sangsi dengan ucapan Trump jika melihat pola komunikasinya dalam satu tahun terakhir ketika menghadapi perang dagang dengan China. Sehingga menurutnya pemerintah akan terus bersikap hati-hati dan waspada.

"dengan pattern yang selama ini kita lihat, ketidakpastian akan muncul terus. Jadi kita harus waspada terhadap itu. Artinya warning 2020, riisko yang muncul di 2020 akan tetap dinamis," ujar dia.

Beberapa faktor lain yang menurut dia bakal memengaruhi gejolak perekonomian sepanjang 2020 di adalah siklus pemilu di Amerika Serikat, juga banyak negara yang memiliki ruang fiskal serta moneter yang terbatas.

"Jadi mereka belum bisa meningkatkan ekonomi secara lebih signifikanlah dan itu harus jadi perhatian kita. Kita tetep saja domestik harus fokus gunakan semua instrumen untuk menjaga (perekonomian)," ujar dia.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X