Rivalitas Nelayan Lokal Vs Kapal Ikan Asing di Natuna

Kompas.com - 12/01/2020, 11:54 WIB
Puluhan kapal nelayan ditambatkan di Pelabuhan Kuala Bubon, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Rabu (25/12/2019). Hukum adat laut Aceh telah menetapkan pantangan dan larangan melaut pada hari peringatan tsunami 26 Desember untuk mengenang dan memperingati peristiwa tsunami di Aceh. ANTARA FOTO/SYIFA YULINNASPuluhan kapal nelayan ditambatkan di Pelabuhan Kuala Bubon, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Rabu (25/12/2019). Hukum adat laut Aceh telah menetapkan pantangan dan larangan melaut pada hari peringatan tsunami 26 Desember untuk mengenang dan memperingati peristiwa tsunami di Aceh.

JAKARTA, KOMPAS.com - Simpanan kekayaan perikanan yang melimpah, membuat perairan di Natuna seringkali dimasuki nelayan-nelayan asing. Intensitasnya, bahkan diketahui terus meningkat sejak Desember 2019.

Maraknya kapal asing yang memasuki perairan Indonesia terjadi saat nelayan lokal tidak melaut karena ombak tinggi. Kapal-kapal penangkap ikan itu bahkan dikawal kapal penjaga dari negara asing tersebut.

Dikutip dari Harian Kompas, 12 Januari 2020, kapal ikan asing biasanya akan masuk ke zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia di Laut Natuna Utara bersamaan dengan datangnya musim angin utara pada akhir November hingga Januari.

Salah seorang nelayan Natuna, Rudi, pada periode itu tinggi gelombang bisa mencapai lebih dari 6 meter. Hal ini memang menakutkan bagi sebagian nelayan yang kapalnya rata-rata berbobot kecil.

“Ada juga sebagian yang tetap berani melaut. Gelombangnya memang lebih tinggi dari tiang kapal, tetapi untuk yang sudah biasanya seperti kami ini, ya, sambil menyanyi saja biar tak takut,” kata Rudi.

Namun, gelombang tinggi saat musim angin utara bukanlah yang paling menakutkan. Hal itu ada sejak leluhur nelayan Natuna pertama kali melaut.

Baca juga: Terkait Natuna, Luhut Emoh Dicap Lembek

Satu-satunya hal yang bisa membuat nelayan kembali ke darat sebelum waktunya adalah tali jangkar yang putus saat lari karena dikejar kapal asing pencuri ikan.

Kapal nelayan di Natuna rata-rata berukuran antara 3 grosston (gt) sampai 5 gt. Alat tangkapnya tradisional berupa pancing.

Hanya dengan perlengkapan itu mereka sanggup bertahan satu hingga dua minggu untuk menangkap ikan karang yang bernilai tinggi, yaitu kakap merah, anguli, kerapu, dan sunu.

Sedangkan kapal asing dari Vietnam maupun China yang mencuri ikan di Laut Natuna Utara rata-rata berukuran antara 30 gt sampai 100 gt, dan bahkan juga lebih.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Komisi IV DPR Sudah Ingatkan Edhy Prabowo Terkait Ekspor Benih Lobster

Komisi IV DPR Sudah Ingatkan Edhy Prabowo Terkait Ekspor Benih Lobster

Whats New
 Kendala Penyaluran Subsidi Gaji, Rekening Penerima Bermasalah hingga Data Tak Lengkap

Kendala Penyaluran Subsidi Gaji, Rekening Penerima Bermasalah hingga Data Tak Lengkap

Whats New
BPJS Kesehatan Serahkan 1,7 Juta Data Peserta Bermasalah ke Kemensos

BPJS Kesehatan Serahkan 1,7 Juta Data Peserta Bermasalah ke Kemensos

Whats New
Menaker: Subsidi Gaji Sudah Tersalur Rp 21,8 Triliun

Menaker: Subsidi Gaji Sudah Tersalur Rp 21,8 Triliun

Whats New
Edhy Prabowo Sempat Menyatakan Siap Diaudit Terkait Ekspor Benih Lobster

Edhy Prabowo Sempat Menyatakan Siap Diaudit Terkait Ekspor Benih Lobster

Whats New
Sebelum Ditangkap, Edhy Prabowo Sudah Diingatkan Soal Ekspor Lobster

Sebelum Ditangkap, Edhy Prabowo Sudah Diingatkan Soal Ekspor Lobster

Whats New
Sepekan Sebelum Ditangkap, Menteri Edhy Sempat Sindir Kebijakan Susi Pudjiastuti

Sepekan Sebelum Ditangkap, Menteri Edhy Sempat Sindir Kebijakan Susi Pudjiastuti

Whats New
Mendag Yakin Peningkatan Perdagangan Batu Bara Bisa Dorong Perekonomian

Mendag Yakin Peningkatan Perdagangan Batu Bara Bisa Dorong Perekonomian

Whats New
Mau Beli Valas? Cek Dulu Kurs Rupiah Hari Ini di Lima Bank

Mau Beli Valas? Cek Dulu Kurs Rupiah Hari Ini di Lima Bank

Whats New
Polemik Perusahaan Kader Gerindra di Pusaran Ekspor Benih Lobster

Polemik Perusahaan Kader Gerindra di Pusaran Ekspor Benih Lobster

Whats New
PT Geo Dipa Energi Buka Lowongan untuk Lulusan S1, Tertarik?

PT Geo Dipa Energi Buka Lowongan untuk Lulusan S1, Tertarik?

Whats New
Begini Konsep Sementara Penerapan Kelas Standar BPJS Kesehatan

Begini Konsep Sementara Penerapan Kelas Standar BPJS Kesehatan

Whats New
Kontroversi Ekspor Benih Lobster yang Berujung Penangkapan Menteri Edhy

Kontroversi Ekspor Benih Lobster yang Berujung Penangkapan Menteri Edhy

Whats New
Kala Edhy Prabowo Bantah Terlibat Penunjukan Eksportir Losbter

Kala Edhy Prabowo Bantah Terlibat Penunjukan Eksportir Losbter

Whats New
Pagi Ini, Rupiah Stagnan pada Level Rp 14.155 Per Dollar AS

Pagi Ini, Rupiah Stagnan pada Level Rp 14.155 Per Dollar AS

Spend Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads X