IAPI: Kasus Asabri dan Jiwasraya Punya Pola yang Sama

Kompas.com - 13/01/2020, 20:51 WIB
Ketua Umum IAPI Tarkosunaryo (kiri) menyampaikan siaran publik atas permasalahan yang membelit PT Asuransi Jiwasraya di Jakarta, Senin (13/1/2020). KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYAKetua Umum IAPI Tarkosunaryo (kiri) menyampaikan siaran publik atas permasalahan yang membelit PT Asuransi Jiwasraya di Jakarta, Senin (13/1/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau PT Asabri (Persero) belakangan tengah jadi sorotan. Menyusul gagal bayarnya polis asuransi PT Asuransi Jiwasraya karena kecurangan.

Meski belum meneliti lebih lanjut, Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) menilai kasus laporan keuangan pada Jiwasraya dan Asabri memiliki pola yang sama.

"Kami belum meneliti lebih lanjut soal laporan keuangan Asabri. Apalagi yang RNI. Case-nya juga baru ramai beberapa hari ini. Tapi kalau dari polanya, itu hampir sama," kata Ketua Umum IAPI Tarkosunaryo di Jakarta, Senin (13/1/2020).

Tarko menuturkan, sama seperti Jiwasraya, Asabri juga cenderung menutupi laporan keuangannya kepada publik. Dilihat pada laman resminya, publikasi laporan keuangan Asabri berakhir pada tahun 2016.

Sementara Jiwasraya, publikasi terakhir yang tercantum baik terakhir pada 2016. Meskipun laporan keuangan tahun 2017 dipublikasi, tidak diberikan keterangan jelas adanya opini tidak wajar (adverse opinion) dari auditor karena kurangnya pencadangan senilai Rp 7,7 triliun.

Kemudian, akuntan publik belum mengaudit laporan keuangan Jiwasraya tahun 2018-2019.

"Kemarin saya sempat lihat di website casenya kurang lebih hanya sampai tahun buku 2016 saja. Artinya setelah 2016, kayaknya tertutup artinya tidak dipublikasikan," ujar Tarko.

Hal itu membuat Tarko menduga laporan keuangan yang belum dipublikasi karena adanya masalah keuangan pada perusahaan tersebut.

"Ini kayaknya kalau yang rugi-rugi, itu kayaknya enggak dipublikasikan. Kalau belum diaudit, itu laporan keuangan enggak bisa disahkan di RUPS. Mestinya direksinya tidak bisa dilepaskan tanggung jawab, karena syarat pelepasan adalah laporan keuangan yang audited," ungkap Tarko.

Sebelumnya, Asabri juga disamakan dengan Jiwasraya karena salah mengelola penempatan dana. Kabarnya, portofolio saham milik Asabri anjlok hingga 90 persen. Kerugiannya pun disebut-sebut mencapai lebih dari Rp 10 triliun.

Ditelusuri, penyebab ambruknya kinerja dua BUMN ini karena pengelolaan penempatan dana investasi. Baik Jiwasraya maupun Asabri, sama-sama tersandung saham gorengan.

Hingga November 2019, berdasarkan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Asabri punya portofolio di 14 saham dengan kepemilikan di atas 5 persen.

Sementara Jiwasraya, aset berupa saham pada Desember 2017 tercatat sebesar Rp 6,63 triliun, menyusut drastis menjadi Rp 2,48 triliun pada September 2019.

Yang paling parah, terjadi pada aset yang ditempatkan di reksa dana, dimana pada Desember 2017 tercatat sebesar Rp 19,17 triliun, nilainya anjlok menjadi Rp 6,64 triliun pada September 2019.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X