Soal Dana Kelolaan, BPJAMSOSTEK Sebut Enggan "Main" Saham Gorengan

Kompas.com - 14/01/2020, 12:23 WIB
Ilustrasi saham KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIIlustrasi saham

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagkerjaan (BPJAMSOSTEK) memastikan dana kelolaan perusahaan tidak ditempatkan di saham gorengan.

Direktur Pengembangan Investasi BPJAMSOSTEK Amran Nasution memastikan bahwa dana kelolaan yang ditempatkan di pasar saham seluruhnya berstasus LQ45 atau saham blue chip.

"Saham kita LQ45. Full LQ 45. Jadi kita enggak mau main yang goreng-gorengan," kata dia di Jakarta, Selasa (14/1/2020).

Baca juga: Biar Paham, Ini Penjelasan soal Saham Gorengan

Amran menjelaskan, meskipun ada saham yang saat ini tidak berstatus LQ45, ia memastikan bahwa saham tersebut sebelumnya sempat masuk ke daftar saham LQ45.

Salah satu contoh saham yang tidak lagi berstatus LQ45 adalah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA).

"Kita ada Garuda kecil, terus terang dikit. Karena BUMN kan. Dulu dia LQ45 sekarang udah enggak, keluar. Itu jumlahnya 1,89 persen," ujarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Amran, saham berstatus LQ45 memiliki kepastian return alias imbal hasil yang jelas. Berbeda dengan saham gorengan yang memiliki risiko jauh lebih besar.

"Memang pada saat untung, untung sesaat, tapi pada saat rugi begini," katanya.

Baca juga: Asabri dan Jiwasraya Senasib, Limbung karena Saham Gorengan

Tahun lalu, BPJSAMSOSTEK menempatkan 18 persen total dana kelolaannya di pasar saham. Sementara mayoritas dana kelola masih ditempatkan di instrumen obligasi yakni sebesar 62 persen.

"Tambah deposito 10 persen jadi ada 72 persen BPJAMSOSTEK itu fixed income. Enggak terkait dengan gonjang-ganjing indeks," ucap Amran.

Sebagai informasi, saat ini PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau PT Asabri (Persero) tengah jadi sorotan. BUMN asuransi ini dikabarkan tekor karena salah kelola dana penempatan.

Dikabarkan, portofolio saham milik Asabri anjlok hingga 90 persen. Kerugiannya pun disebut-sebut mencapai lebih dari Rp 10 triliun.

Sebelumnya juga ramai diperbincangkan limbungnya keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Persero), yang juga diakibatkan kesalahan penempatan investasi yang dilakukan manajemen terdahulu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.