Ekonomi Indonesia Diprediksi Capai 5,3 Persen, Ini Faktornya

Kompas.com - 15/01/2020, 19:04 WIB
Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto dalam diskusi digital outlook 2020 di Jakarta, Rabu (15/1/2020). KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYAChief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto dalam diskusi digital outlook 2020 di Jakarta, Rabu (15/1/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto memprediksi ekonomi Indonesia pada 2020 bisa mencapai 5,3 persen. Pertumbuhan itu tak lepas dari faktor eksternal dan internal yang membaik.

Ketegangan global seperti perang dagang AS-China mulai menunjukkan tanda-tanda perdamaian, keluarnya Inggris dari Uni Eropa akhir Januari melalui cara baik-baik, dan perang Iran dan AS telah bergeser dari isu geopolitik.

"Ini memberikan sentimen yang positif untuk emerging market (negara berkembang), termasuk Indonesia," kata Ryan di Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Baca juga: Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Dipangkas, Apa Kata Sri Mulyani?

Ryan menuturkan, dampak eksternal yang membaik akan mempengaruhi kondisi dalam negeri. Terlebih RI masih mampu berdiri ditopang oleh konsumsi domestik yang berkontribusi sebesar 56 persen sampai 57 persen dari total PDB.

"Dari kontribusi itu, harapannya bisa tumbuh batas bawah 5,1 persen sampai 5,3 persen, baru konsumsi lho ya," ucap dia.

Prediksi tumbuhnya PDB RI sampai 5,3 persen, kata Ryan, didorong pula oleh investasi PMA dan PMDN. Belum lagi pemerintah yang mendorong belanja modal dan belanja barang sehingga akan menstimulasi kegiatan ekonomi.

"Kemudian ada ekspor yang tahun 2018 negatif, tahun ini forecast positif sekitar 1-2 persen. BPS mengumumkan full year masih defisit tapi mengecil dari 8,9 miliar dollar AS jadi 3,6 miliar dollar AS tahun ini. Luar biasa," tutur Ryan.

Baca juga: Bank Dunia Kembali Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global

Selain itu kata Ryan, kebijakan yang dilakukan Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan tetap bersifat dovish alias pro pertumbuhan. BI dikabarkan akan kembali memangkas suku bunga hingga 4,75 persen.

Sementara kebijakan fiskal Kementerian Keuangan, akan mengarahkan belanja kepada penyerapan yang mendorong kegiatan ekonomi, salah satu infrastruktur. Terbukti, hampir 20 persen atau sekitar Rp 450 triliun dari total APBN dialokasikan untuk infrastruktur.

"Kebijakan BI dan Kemenkeu senada, saling sinergi, saling sinkron. Itu yang kami yakini rasanya tahun ini 5,1 persen sampai 5,2 persen sudah di tangan ibaratnya. Ditambah, kebijakan fiskal lebih cepat rasanya 5,3 persen pun sudah bisa," sebut Ryan.

Baca juga: Indef Prediksi Ekonomi Indonesia Hanya Tumbuh 4,8 Persen pada 2020

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X