Asosiasi: Industri Rokok Elektrik Bisa Bantu Petani Tembakau

Kompas.com - 17/01/2020, 12:38 WIB
Pekerja memilah daun tembakau sebelum dijemur di Kampung Cikendi, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (26/7/2018). Tembakau merupakan salah satu komoditas pertanian utama di kasawan kaki Gunung Putri, sasaran pasar tembakau di antaranya Jawa tengah dan Jawa Timur. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGPekerja memilah daun tembakau sebelum dijemur di Kampung Cikendi, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (26/7/2018). Tembakau merupakan salah satu komoditas pertanian utama di kasawan kaki Gunung Putri, sasaran pasar tembakau di antaranya Jawa tengah dan Jawa Timur.

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno mengatakan, saat ini serapan hasil panen tembakau dalam negeri masih bergantung kepada produksi rokok.

Meski demikian, seiring dengan hadirnya industri rokok elektrik di Indonesia, ia melihat ada peluang positif bagi pertumbuhan serapan hasil panen tembakau di Indonesia. Sebab, cairan yang digunakan pada rokok elektrik menggunakan ekstrak nikotin yang berasal dari tembakau.

"Kalau industri rokok elektrik (agrokimia) dikembangkan di Indonesia, dapat berpotensi menyerap tanaman tembakau lokal,” kata Soeseno dalam keterangannya, Jumat (17/1/2020).

Baca juga: Industri Rokok Elektrik Jadi Potensi Baru Serapan Tembakau Lokal

Soeseno menuturkan, nikotin cair yang termasuk dalam kategori Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) ini juga memiliki potensi membuka pasar ekspor. Ia mengaku, petani tembakau di Indonesia terbuka dengan kemitraan intensif dalam pemanfaatan tembakau untuk rokok elektrik.

Apalagi jika petani diberikan bimbingan teknis untuk meningkatkan kualitas tembakau, kemitraan dengan produsen rokok elektrik akan saling menguntungkan.
Ia mengatakan untuk merealisasikan hal tersebut, perlu mendapat dukungan pemerintah lewat regulasi yang tepat.

“Pemerintah sebaiknya lebih peduli dan serius terhadap pertanian tembakau agar hasil panen lebih menguntungkan,” sebut Soeseno.

Baca juga: Sempat Anjlok, Kini Harga Tembakau Kembali Normal

Sebelumnya, Eko Prio HC, Ketua Bidang Produksi Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) menyatakan, nikotin cair hasil ektraksi tidak hanya untuk pasar lokal, tapi juga berpotensi untuk di ekspor.

“Potensi ekspor cairan nikotin terbuka lebar. Jika terus dikembangkan dan didukung pemerintah, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi salah satu pemasuk cairan nikotin dunia. Apalagi, berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO), Indonesia merupakan produsen tembakau terbesar nomor enam di dunia,” terang Eko.

Selama ini, imbuh Eko, China dan India merupakan produsen terbesar cairan nikotin di dunia. Kedua negara tersebut juga sudah mengolah nikotin cair yang berasal dari ekstraksi tembakau.

Di negara-negara tersebut, penggunaan nikotin cair hasil ekstraksi tembakau lokal juga terbukti membantu menopang penyerapan tembakau petani.

Baca juga: Asosiasi Minta Aturan Khusus untuk Produk Tembakau Alternatif

Oleh karena itu, Eko mengaku pihaknya terus mencari cara untuk menggunakan cairan nikotin hasil ekstraksi tembakau lokal mulai tahun ini.

“Kami berharap, nikotin cair yang berasal dari ekstraksi tembakau lokal ini ke depan bisa meningkat dan bersaing dengan produk nikotin cair yang selama ini impor dari China dan India,” imbuh Eko.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X