Penguatan Rupiah Positif, BI Diminta Pertahankan Suku Bunga Acuan

Kompas.com - 21/01/2020, 13:00 WIB
Ilustrasi rupiah ShutterstockIlustrasi rupiah

Menariknya, nilai ekspor komoditas seperti minyak sawit (HS15) dan batubara (HS27) naik sejalan dengan apresiasi mata uang.

"Sementara yang sebaliknya terjadi pada kuartal IV 2018, rupiah melemah ke level Rp 15.200 per dollar AS bertepatan dengan penurunan harga komoditas global," ujar Satria.

Baca juga: Luhut: Dulu Orang Marahin Saya karena Ngomong Rupiah Bakal Menguat...

Pelemahan rupiah belum tentu kendalikan impor

Berdasarkan set data yang sama, Satria menyebut pergerakan nilai tukar mungkin tidak mempengaruhi impor barang-barang manufaktur.

Seperti diketahui, barang-barang manufaktur meliputi HS84 dan HS85 merupakan 2 kategori impor terbesar, bernilai 46,6 miliar dollar AS atau 31,3 persen dari total nilai impor nonmigas RI yang sebesar 148,8 miliar dollar AS.

"Pada kenyataannya, hubungan REER-impor mungkin tidak signifikan secara statistik sama sekali," ucap dia.

Satria bilang, kenyataan tersebut juga konsisten dengan studi tahun 2019 yang dilakukan BI dengan IMF. Studi itu menyimpulkan, apresiasi rupiah mungkin tidak menaikkan harga barang-barang ekspor dalam jangka pendek atau 2 kuartal.

"(Kesimpulan lainnya) dapat menekan harga barang-barang impor hanya di jangka menengah hingga panjang," sebut Satria

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X