Hambatan Non Tarif Perdagangan Dinilai Merugikan Konsumen

Kompas.com - 21/01/2020, 14:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Hambatan non tarif dalam perdagangan pangan dinilai merugikan konsumen karena menyebabkan tingginya harga komoditas pangan.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, salah satu komoditas pangan yang terkena dampak penerapan hambatan non-tarif adalah beras.

”Konsumen, terutama mereka yang tergolong miskin, dirugikan karena mereka harus membayar lebih mahal," ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Selasa, (21/1/2020).

Baca juga: Edhy Prabowo Soal Impor Garam: Saya Pikir Ini Enggak Perlu Diributkan

"Padahal kalau harga beras lebih murah, mereka bisa membeli komoditas pangan lain untuk mencukupi kebutuhan gizi keluarga atau bisa menyisihkan pendapatannya untuk biaya pendidikan atau kesehatan,” sambungnya.

Galuh menyebut, Indonesia masih menerapkan berbagai bentuk hambatan non-tarif. Padahal menurutnya, Indonesia harus menunjukan komitmen mentaati perjanjian dagang.

Sebenarnya kata dia, Indonesia sudah menandatangani General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) WTO pada 1994 lalu yang menyebutkan kalau hambatan non tarif tidak boleh menjadi pembatasan dalam perdagangan.

Baca juga: Komisi XI DPR Bentuk Panja Industri Keuangan, Awasi Jiwasraya hingga Asabri

Namun pada kenyataannya, Indonesia dinilai justru membatasi impor pada beberapa komoditas.

Di sisi lain proses persetujuan impor dinilai sangat panjang. Padahal menurut Galuh, berdasarkan penelitian CIPS, Bulog dapat menghemat lebih dari 21 juta dollar AS andai dapat membeli beras ketika harganya lebih rendah dari Januari 2010 hingga Maret 2017.

Selama ini keputusan impor biasanya melalui rapat koordinasi antar kementerian dan lembaga.

Meski begitu, CIPS menilai peningkatan produksi beras dalam negeri harus terus didorong sehingga kebutuhan dalam negeri tak harus dipenuhi oleh beras impor.

Baca juga: Saat Rindu Jajanan 90-an Jadi Peluang Usaha Meraup Jutaan Rupiah

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.