Jokowi Bilang Eksportir Tak Suka Rupiah Menguat, Ini Penjelasan BI

Kompas.com - 22/01/2020, 15:00 WIB
Konferensi Pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Rabu (22/1/2020). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAKonferensi Pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Rabu (22/1/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo sempat menyoroti nilai tukar rupiah yang terus menguat sejak awal tahun.

Adapun berdasarkan data Bloomberg per pukul 13.30 WIB, nilai tukar rupiah menguat 0,05 persen atau 7,5 poin menjadi Rp 13.661,5 per dollar AS.

Menurut Jokowi, di dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 Kamis (16/1/2020) lalu, eksportir tidak senang dengan penguatan nilai tukar. Sebab, margin keuntungan yang didapatkan para pelaku ekspor mengecil jika rupiah terus menguat.

Baca juga: Penguatan Rupiah Positif, BI Diminta Pertahankan Suku Bunga Acuan

Adapun Gubernur Bank Indonesia ( BI) Perry Warjiyo mengatakan, sebenarnya eksportir tidak terlalu sensitif dengan pergerakan nilai tukar rupiah. Faktor yang paling berpengaruh terhadap untung tidaknya kegiatan ekspor adalah harga komoditas dan permintaan luar negeri.

"Memang iya kalau ekspor komoditas melemah karena pengaruhnya lebih ke hasil, jadi kalau rupiah melemah hasil yang didapatkan dari ekspor lebih tinggi. Tapi ekspor komoditas tidak terlalu sensitif terhadap perlemahan rupiah. Lebih ke harga komoditas dan permintaan luar negeri," ujar dia di Jakarta, Rabu (22/1/2020).

Perry pun mengatakan, saat ini menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih sejalan dengan fundamental. Indikator perekonomian, seperti pertumbuhan ekonomi yang meningkat, dan kemudian neraca pembayaran indonesia yang diprediksi akan surplus hingga akhir tahun 2019 lalu.

Baca juga: Rupiah Bisa Jadi Mata Uang Terkuat di Asia Tahun Ini?

Selain itu, aliran modal asing juga cukup deras masuk ke dalam negeri seiring dengan mekanisme pasar.

"Saya laporan waktu itu (kepada Presiden) penguatan rupiah masih sejalan dengan fundamental, pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan juga kemudian neraca pembayaran surplus. Aliran modal asing juga masuk, makannya sejalan dengan mekanisme pasar," ujar dia.

Selain itu Perry juga menjelaskan, pengaruh nilai tukar di Indonesia berbeda dengan negara lain. Dengan nilai tukar yang menguat, bisa turut mendorong masuknya investasi ke dalam negeri.

Baca juga: Rupiah Ditutup Melemah Terdorong Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global

Sebab, banyak industri di Indonesia memiliki kandungan impor barang modal dan bahan baku yang cukup tinggi, termasuk industri manufaktur.

"Banyak industri yang kandungan impornya tinggi, termasuk juga mendorong ekspor khususnya manufaktur," ujar dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X