Mau Sewa Kantor Virtual di Sudirman-Thamrin, Berapa Tarifnya?

Kompas.com - 22/01/2020, 19:43 WIB
Revitalisasi Jembatan Penyeberangan Orang Bundaran Senayan di Jalan Sudirman, Jakarta, Kamis (10/1/2019). Desain ketiga JPO itu akan berbeda dengan JPO lainnya. Ketiga JPO tersebut akan dipasangi kamera closed circuit television (CCTV), akan dipasangi lift serta dilengkapi tata pencahayaan warna-warni. Revitalisasi JPO ini ditargetkan selesai pada Januari 2019. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGRevitalisasi Jembatan Penyeberangan Orang Bundaran Senayan di Jalan Sudirman, Jakarta, Kamis (10/1/2019). Desain ketiga JPO itu akan berbeda dengan JPO lainnya. Ketiga JPO tersebut akan dipasangi kamera closed circuit television (CCTV), akan dipasangi lift serta dilengkapi tata pencahayaan warna-warni. Revitalisasi JPO ini ditargetkan selesai pada Januari 2019.

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan mulai mengadopsi tren bekerja di luar kantor. Kemudahan teknologi komunikasi jadi salah satu alasannya selain efisiensi dalam bekerja.

Ekosistem pekerjaan inilah yang mendorong tumbuhnya keberadaan virtual office. Konsep kantor virtual ini mengakomodasi perusahaan yang memang tak terlalu membutuhkan ruang kantor dari segi operasional usaha perusahaan.

Sekjen Perhimpunan Pengusaha Jasa Kantor Bersama Indonesia (PERJAKBI) Hadi Nainggolan, mengatakan dari sisi biaya virtual office memang jauh lebih murah ketimbang harus menyewa ruang kantor konvensional.

"Kalau di CBD seperti kawasan Sudirman-Thamrin saja, rata-rata untuk virtual office hanya sekitar Rp 10 juta per tahun," kata Hadi kepada Kompas.com, Rabu (22/1/2020).

"Agak ke pinggir, sekitar TB Simatupang kisaran harga sewa virtual office masih sekitar Rp 7 juta per tahun. Semakin ke pinggiran Jakarta harga sewa Rp 5 juta per tahun," sambungnya.

Baca juga: Tren Virtual Office, Kantornya Karyawan Zaman Now

Menurut dia, perbandingan harga sewa menyewa kantor konvensional dengan virtual office mencapai 8 kali lipat. Ini sebabnya, kantor virtual banyak dicari perusahaan yang baru berdiri.

"Sekarang begini, perbandingan area kantor Simatupang, virtual office hanya bayar Rp 7 juta per tahun. Sementara jika harus sewa ruang kantor konvensional, dia perlu bayar Rp 80 juta untuk sekian meter," jelas Hadi.

"Itu masih ruangan kosong, tambah beli furniture jadi 120 juta. Belum lagi harus diisi dengan karyawan administrasi, satu tahun buat gaji satu orang saja sudah keluar duit Rp 40 juta," tambahnya.

Sementara dengan virtual office, satu kantor bisa dipakai secara bersamaan dengan puluhan perusahaan lain. Penyedia virtual office juga mempekerjakan karyawan untuk pekerjaan administrasi.

"Kalau virtual office nggak ada penguasaan ruangan. Kalau penyedia virtual office punya luas berapa, minimal 150 meter persegi. Itu digunakan bersama-sama," kata Hadi.

Halaman:
Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X