Harga Elpiji 3 Kg Sudah Melonjak, Anggota DPR Ini Kritik Rencana Distribusi Tertutup

Kompas.com - 23/01/2020, 05:43 WIB
Pekerja menata tabung gas untuk pengisian tabung gas LPG berukuran 3 Kg di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji, Pertamina Marketing Operation Region (MOR) VII, Makassar, Sulawesi Selatan. 

Tribun MakassarPekerja menata tabung gas untuk pengisian tabung gas LPG berukuran 3 Kg di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji, Pertamina Marketing Operation Region (MOR) VII, Makassar, Sulawesi Selatan.

JAKARTA. KOMPAS.com - Anggota Komisi VII DPR RI, Andre Rosiade mengritisi distribusi tertutup gas elpiji 3 kilogram (kg) yang diwacanakan pemerintah.

Meski kebijakan tersebut belum ditetapkan, ternyata harga gas elpiji 3 kg telah melonjak naik di tingkat pengecer.

Politisi Partai Gerindra itu memberi contoh, kenaikan harga elpiji 3 kg di Kabupaten Agam, Sumbar dan Medan serta Deli Serdang, Sumut, harga jualnya di tingkat pengecer rata-rata Rp 25.000 - Rp 35.000 per tabung, atau naik sekitar Rp 5.000 - Rp 10.000.

“Rakyat Indonesia harus menghadapi tahun 2020 ini dengan beban berat. Di awal tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral berencana mengatur ulang distribusi elpiji 3 kg. Pemerintah ingin membatasi penyaluran dan penyesuaian harga elpiji 3 kg,” katanya saat menyampaikan interupsinya di Rapat Paripurna DPR RI, Gedung Nusantara II, Jakarta, Rabu (22/1/2020).

Saat itu pemerintah menerbitkan kartu kendali. Namun, dalam kenyataannya, kartu kendali distribusi tidak berfungsi sesuai tujuannya, sehingga distribusi menjadi bersifat terbuka.

“Artinya, siapa pun bisa dan boleh membeli. Dalam kondisi itu banyak pengguna gas elpiji turun kelas menjadi pengguna elpiji 3 kg. Berdasarkan catatan YLKI pengguna yang turun kelas mencapai 15 sampai 25 persen. Akibatnya, subsidi gas elpiji 3 kg menjadi tidak tepat sasaran,” katanya.

Baca juga: Subsidi Elpiji 3 Kg Dicabut, Pedagang Gorengan Terkejut, Pemilik Warteg Terbebani

Pemerintah berencana mulai mengurangi penyaluran gas elpiji 3 kg pada semester II 2020 nanti. Selain itu, harga jual gas tersebut juga akan disesuaikan sesuai harga pasar.

"Dari agen ke pangkalan, pengecer, itu diatur HET (harga eceran tertinggi) oleh Pemda masing-masing karena jaraknya beda-beda. Makanya, harga di pengecer bisa lebih mahal dari harga di agen. Tapi nanti akan diatur," jelas Direktur Hilir Migas Kementerian ESDM, Mohammad Hidayat, di Jakarta, Selasa (14/1/2020).

Dalam kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Migas, Djoko Siswanto mengatakan, elpiji 3 kg tetap dijual di pasaran. Tetapi, dia menyarankan bagi warga mampu untuk membeli gas di atas 3 kg. Karena, nantinya harga gas 3 kg akan dipatok sesuai harga pasar.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X