Derita Peternak Sumut Karena Teror Flu Babi Afrika

Kompas.com - 26/01/2020, 12:04 WIB
Personel Babinsa TNI mengangkat bangkai babi dari aliran Sungai Bederah, untuk dikubur, di Kelurahan Terjun, Medan, Sumatera Utara, Selasa (12/11/2019). Sedikitnya 5.800 ekor babi mati diduga akibat wabah virus Hog Kolera dan African Swine Fever atau demam babi Afrika di 11 kabupaten/kota di Sumut. ANTARA FOTO/IRSAN MULYADIPersonel Babinsa TNI mengangkat bangkai babi dari aliran Sungai Bederah, untuk dikubur, di Kelurahan Terjun, Medan, Sumatera Utara, Selasa (12/11/2019). Sedikitnya 5.800 ekor babi mati diduga akibat wabah virus Hog Kolera dan African Swine Fever atau demam babi Afrika di 11 kabupaten/kota di Sumut.


JAKARTA, KOMPAS.com - Wabah African Swine Fever atau flu babi sudah menjangkiti 16 Kabupaten Kota di Sumatra Utara. Wabah penyakit ternak ini membuat peternak di Sumut mengalami keterpurukan.

Dikutip dari Harian Kompas, Minggu (26/1/2020), Kematian babi yang dilaporkan di sejumlah wilayah di Sumatera Utara sudah mencapai lebih dari 42.000 ekor.

Pemerintah daerah belum bisa bergerak karena tidak ada dana darurat. Perusahaan skala besar pun kini ikut terpuruk karena tidak bisa menjual ternaknya.

Ketua Asosiasi Peternak Babi Sumut Hendri Duin Sembiring mengungkapkan peternak perlu penjelasan apakah akan melakukan depopulasi dan ada kompensasi.

Depopulasi dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus, tetapi harus diikuti pemberian kompensasi.

”Peternak hingga kini juga tak tahu apa yang harus dilakukan terhadap ternak mati, terjangkit, sehat, dan kandang yang bebas dari ASF. Kami sendirian hadapi ini,” katanya.

Baca juga: Mentan Khawatir Wabah Flu Babi di Sumut Ganggu Ekspor RI

Kini, perekonomian peternak babi di Sumut kian terpuruk sejak deklarasi ASF karena tidak diikuti penanggulangan. Ternak babi dari Sumut kini tidak diterima lagi di provinsi lain ataupun di luar negeri.

Peternak kecil maupun besar semakin terpuruk sejak deklarasi ASF. Pemprov DKI Jakarta, misalnya, tidak menerima lagi babi dari Sumut.

Padahal, 60 persen produksi babi Sumut diserap Jakarta. Penurunan penjualan secara keseluruhan mencapai 80 persen.

Meski tak terjangkit ASF, peternakan babi skala perusahaan terpuruk. Populasi di kandang meningkat dua kali, tetapi tidak bisa dijual.

Pemerintah pun berencana mengeluarkan sertifikat bebas ASF terhadap kandang-kandang tertentu agar bisa dijual ke luar daerah.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X