Yenny Wahid: Kelas Menengah adalah Orang-orang yang Resah...

Kompas.com - 31/01/2020, 08:14 WIB
Yenny Wahid saat menyambangi Kantor Kemenko Polhukam, di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (23/1/2020). KOMPAS.com/Deti Mega PurnamasariYenny Wahid saat menyambangi Kantor Kemenko Polhukam, di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (23/1/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mengatakan, kelompok masyarakat ekonomi kelas menengah adalah orang-orang yang diliputi keresahan.

Sebab, meskipun mereka secara ekonomi sudah masuk dalam kategori aman dan mampu memenuhi kebutuhan dasar dengan banyak pilihan, dalam beberapa hal lain kelompok kelas menengah masih terhimpit berbagai risiko yang muncul akibat digitalisasi.

" Kelas menengah ini orang-orang yang resah karena mereka terjepit. Satu dari enam pekerjaan kelas menengah akan hilang dengan adanya automation. Itu membuat kita resah karena ketidakpastian," ujar Yenny ketika Bank Dunia meluncurkan laporan terbarunya yang bertajuk Aspiring Indonesia, Expanding the Middle Class di Jakarta, Kamis (31/1/2020).

Baca juga: Bank Dunia: 115 Juta Penduduk Indonesia Rawan Kembali Miskin

Kelompok kelas menengah tersebut tidak memiliki kepastian mengenai masa depan dunia kerja.

Berdasarkan laporan McKinsey tahun lalu, beberapa industri yang rentan digantikan oleh mesin adalah jasa akomodasi dan makanan, pertanian, manufaktur, transportasi dan pergudanganm perdagangan ritel hingga industri keuangan dan asuransi.

Selain itu, Yenny mengatakan para kelas menengah dengan uang yang saat ini mereka miliki ternyata nilainya tak lebih besar jika dibandingkan dengan yang dimiliki oleh orang tua mereka dengan jumlah uang yang sama.

Padahal, kelompok kelas menengah tersebut memiliki aspirasi bisa memiliki kehidupan yang lebih baik dibandingkan dengan orang tua mereka.

Baca juga: Ingin Keluar dari Jebakan Pendapatan Kelas Menengah, Apa Langkah Jokowi?

"Mereka memiliki keinginan untuk punya kualitas hidup yang lebih baik dari orang tuanya. Tapi kenyataannya dengan uang yang sama yang dia punya ternyata nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan uang yang orang tuanya miliki dulu. Apalagi di sosial media merkea melihat di negara-negara lain kualitas hidup bisa lebih baik, kenapa di negara kita enggak?" lanjut dia.

Namun demikian, Yenny menekankan peran kelas menengah sangat penting di tatasan sosial masyarakat.

Sebab, tak hanya berkontribusi dalam mendorong perekonomian dengan konsumsi saja, namun berbagai gerakan sosial juga muncul dari golongan ini.

"Banyak kegiatan sosial, pembelahaan terhadap hak-hak perempuan dilakukan oleh kelas menengah. Justru tugas-tugas pemerintah yang nggak dilakukan oleh pemerintah banyak diisi oleh kelas menengah," ujar dia.

Baca juga: Presiden: Jumlah Kelas Menengah di Indonesia akan Jadi Magnet Investasi

Sebagai informasi Bank Dunia baru saja mengeluarkan laporan yang menceritakan, meski Indonesia telah berhasil menekan angka kemiskinan di bawah 10 persen, setidaknya 115 juta penduduk masih rentan kembali jatuh miskin.

Angka tersebut setara dengan 45 persen dari populasi Indonesia keseluruhan.

Dengan demikian, 115 juta penduduk tersebut harus bisa didorong untuk masuk ke dalam kelompok kelas menengah sehingga tak hanya mendongkrak laju perekonomian namun juga kian menekan angka kemiskinan dan kesenjangan.

Berdasarkan catatan Bank Dunia, kelompok yang masuk dalam kategori rawan jatuh miskin lagi ini adalah mereka yang memiliki konsumsi per kapita Rp 532.000 hingga Rp 1,2 juta per bulan.

Baca juga: Fakta-fakta Soal Turunnya Angka Kemiskinan dan Kesenjangan

Kelompok ini memiliki kesempatan kurang dari 10 persen untuk kembali jatuh miskin (konsumsi per kapita kurang dari Rp 354.000 per bulan) di tahun berikutnya, atau lebih dari 10 persen masuk ke dalam kelompok rentan (konsumsi per kapita Rp 354.000 hingga Rp 532.000 per bulan).

Sementara kelompok kelas menengah memiliki kesempatan kurang dari 10 persen untuk kembali jatuh miskin atau rentan miskin.

Pengeluaran per kapita kelompok kelas menengah berada di kisaran Rp 1,2 juta hingga Rp 6 juta per bulan.

Menurut Bank Dunia, kelompok kelas menengah lebih pesat dibandingkan dengan kelompok lain. Saat ini, kelompok kelas menengah atau yang masuk dalam kategori aman secara ekonomi mencapai 52 juta jiwa atau 20 persen dari populasi.

Sementara penduduk yang masuk dalam kategori miskin sebesar 11 persen dari populasi dengan 24 persen lainnya masuk dalam kategori rentan miskin.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X