Kompas.com - 31/01/2020, 14:39 WIB
Harga cabai rawit merangkak naik, Dinas Perdagangan Kota Kediri, Jawa Timur gelar operasi pasar cabai, Senin (15/7/2019). KOMPAS.com/ M.AGUS FAUZUL HAKIMHarga cabai rawit merangkak naik, Dinas Perdagangan Kota Kediri, Jawa Timur gelar operasi pasar cabai, Senin (15/7/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga cabai di pasar masih saja tinggi sejak beberapa minggu terakhir. Di Jakarta, harga cabai jenis rawit bahkan sudah menembus Rp 90.000 per kilogramnya.

Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid mengungkapkan lonjakan harga cabai dalam beberapa waktu terakhir terjadi karena banyak petani yang gagal panen imbas kekeringan panjang akhir tahun lalu.

"Cabai saya informasikan naiknya luar biasa, terutama cabai rawit. Penyebab pertama itu iklim, karena banyak petani cabai kita salah memprediksi," ucap Hamid kepada Kompas.com, Jumat (31/1/2020).

Dia mencontohkan, pada Oktober lalu, petani memprediksi musim hujan sudah mulai datang yang artinya mereka bisa mulai menanam cabai.

Baca juga: Harga Cabai di Tegal Meroket

"Ternyata kondisinya Oktober belum hujan, sampai November juga ternyata belum hujan juga. Sementara banyak petani sudah terlanjur tanam di bulan itu buat dipanen nanti (Januari)," jelas Hamid.

Akibat kekeringan tersebut, banyak tanaman cabai petani gagal panen. Ini membuat pasokan cabai di bulan pertama 2020 anjlok yang berimbas pada harga di pasaran.

"Ternyata banyak nggak panen, karena masih kekeringan. Banyak tanaman cabai mati, air yang ditunggu tidak datang. Memang ada yang panen, tapi jumlahnya sangat sedikit," ujarnya.

Selain kekeringan, hujan yang datang berhari-hari di sejumlah daerah sentra cabai juga membuat tanaman cabai tak bisa segera dipanen.

Baca juga: Harga Cabai di Karawang Naik 2 Kali Lipat Jadi Rp 70.000 Per Kg, Pedagang Resah

Jika petani tetap memaksa panen cabai saat kondisi hujan, malah akan membuat cabai cepat rusak sebelum sampai ke pasar.

"Nah sekarang sudah hujan, masalahnya lagi hujannya kebanyakan. Januari ini kan hujan terus, itu juga banyak sebabkan banyak cabai mati dan susah dipanen, sekitar 60 persen (rusak)," terang Hamid.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X