Survei: Publik Ingin Pemerintah Aktif Kurangi Jumlah Perokok

Kompas.com - 04/02/2020, 18:30 WIB
Ilustrasi rokok ShutterstockIlustrasi rokok

JAKARTA, KOMPAS.com - Baru-baru ini Philip Morris International Inc. (PMI) merilis kajian baru berjudul Unsmoke Your Mind: Pragmatic Answers to Tough Questions for a Smoke-Free Future.

Hasil dari kajian tersebut menunjukkan minat publik yang tinggi terhadap adanya sains dan informasi yang terbuka serta kebijakan yang didasari fakta ilmiah terhadap produk tembakau aternatif bebas asap.

“Produk alternatif bebas asap menawarkan pendekatan yang masuk akal bagi tujuan kesehatan masyarakat,” kata Jacek Olczak, Direktur Operasional PMI seperti dikutip dari Associated Press, Selasa (4/2/2020).

Baca juga: Philip Morris: Jumlah Perokok Dewasa Akan Berkurang pada 2025

Kajian itu dilakukan oleh perusahaan riset independen, Povaddo LCC. Survei tersebut dilakukan terhadap 17.251 orang dewasa berusia 21-74 tahun di 14 negara.

Sebanyak 9 dari 10 responden atau 87 persen setuju bahwa ketika mengembangkan peraturan, pembuat kebijakan, dan badan kesehatan masyarakat harus mempertimbangkan keseluruhan bukti dan kajian ilmiah yang berkaitan dengan rokok elektrik dan produk tembakau yang tidak dipanaskan.

Kajian tersebut juga menyimpulkan sekitar 89 persen responden setuju sebelum memperkenalkan rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan kepada konsumen, produsen harus melakukan penelitian ilmiah yang komprehensif terhadap produk mereka masing-masing.

“Bagi PMI, penelitian ini memperkuat pentingnya transparansi dalam berbagai ilmu pengetahuan dibalik produk bebas asap milik kami, menjadikannya terbuka untuk semua, baik pemerintah, pembuat kebijakan, ilmuwan, akademisi, atau masyarakat umum,” ungkap Olczak.

Baca juga: Perokok Bakal Berhenti Merokok Jika Harga Per Bungkus Rp 70.000

Olczak menambahkan sains dan teknologi telah menciptakan alternatif yang lebih baik daripada rokok dan pria serta wanita ( perokok dewasa) harus memiliki akses ke produk tersebut.

Menghalangi mereka untuk mengakses ke produk yang lebih baik dan berbasis ilmiah ini, berarti mereka tidak ada pilihan lain selain terus merokok.

Adapun ke-14 negara yang disurvei oleh Povaddo meliputi, Argentina, Australia, Brasil, Jerman, Hong Kong, Israel, Italia, Jepang, Meksiko, Belanda, Norwegia, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat. Survei tersebut dilakukan dari 4-19 Desember 2019.

Adapun margin kesalahan dari penelitian tersebut kurang lebih 0,75 persen, dengan interval kepercayaan 95 persen.

Pada 2019 lalu, PMI juga telah mengeluarkan kajian berjudul Unsmoke: Clearing the Way for Change. Dua poin utama pada kajian tersebut adalah dampak merokok pada hubungan pribadi dan kurangnya informasi yang tersedia tentang produk bebas asap.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X