Kompas.com - 05/02/2020, 14:04 WIB
Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa Natuna merupakan wilayah teritorial Indonesia yang tidak perlu di permasalahkan lagi. ?Disini ada Kabupaten, ada Bupatinya. Penduduk kita disini 81.000. Tidak ada yg perku diperdebatkan lagi, Natuna adalah Indonesia,? kata Presiden saat berkunjung ke Sentra Kelautan dan Perikanan di Selat Lampa, Natuna, Rabu (8/1). Antara Kepri/ChermanPresiden Joko Widodo menegaskan bahwa Natuna merupakan wilayah teritorial Indonesia yang tidak perlu di permasalahkan lagi. ?Disini ada Kabupaten, ada Bupatinya. Penduduk kita disini 81.000. Tidak ada yg perku diperdebatkan lagi, Natuna adalah Indonesia,? kata Presiden saat berkunjung ke Sentra Kelautan dan Perikanan di Selat Lampa, Natuna, Rabu (8/1).

JAKARTA, KOMPAS.com - Memasuki Februari 2020, harga cabai belum juga turun. Harga bahan baku utama sambal ini meroket hingga sempat menembus di atas Rp 100.000 per kg atau sudah setara dengan harga daging sapi.

Persoalan mahalnya harga cabai ini seolah jadi masalah klasik menahun yang tak kunjung dicarikan solusi. Seolah jadi langganan setiap tahun, harga cabai akan melonjak tajam, terutama saat transisi pergantian musim.

Polemik harga cabai sampai membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) merasa kesal pada tahun 2017. Mantan Wali Kota Solo ini jengkel karena harga cabai bisa jadi keributan di masyarakat selama berbulan-bulan.

"Pengendalian harga bisa kita kontrol dengan baik, jadi jangan sampai ada yang suka naik-naikkan isu, mengenai cabai Pak, harganya mahal sekali," kata Jokowi saat Temu WNI di Sydney, Australia, seperti dikutip dari laman YouTube resminya.

Lanjut Jokowi, dirinya sampai heran mengapa cabai yang bukan komoditas pangan pokok tetapi bisa memicu polemik berkepanjangan.

Baca juga: Cabai Rawit di Jakarta Kini Tembus Rp 110.000/Kg, Semahal Daging Sapi

"Yang naik hanya cabai saja kok ribut, nanti kalau musimnya juga turun, biasa, fluktuatif. Jangan termakan hal seperti itu, faktanya memang iya (cabai naik), tetapi memang fluktuasinya seperti itu," ucapnya dengan nada kesal.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jokowi awalnya membahas soal pengendalian inflasi yang relatif stabil pada periode pertama pemerintahannya. Namun, kemudian dirinya menyinggung masalah cabai yang saat itu harganya tembus di atas Rp 100.000 per kg.

Dibandingkan pencapaian penanganan inflasi, sambung Jokowi, meroketnya harga cabai seharusnya tak terlalu dipermasalahkan.

"Kita lihat posisi inflasi kita, artinya apa, kita lihat di sisi pengendalian harga, yang sebelumnya 8,3 persen. 2015 bisa kita tarik kepada 3,35 persen dan 2016 itu 3,02 persen," ungkap Jokowi.

Masalah klasik

Kenaikan harga cabai seolah sudah jadi rutinitas. Baru-baru ini, harga cabai menembus di atas Rp 100.000 di awal tahun 2020.

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, biang kerok harga cabai naik disebabkan musim hujan di akhir tahun yang menyebabkan terjadi penundaan masa tanam cabai.

"Kalau (harga) cabai agak naik sekarang itu karena kemarau yang panjang kemarin dan banjir sehingga Jawa terjadi delay penanaman. Karena itu, hasilnya juga akan dimulai sampai Februari akhir," ucapnya seusai meninjau harga bahan pangan di Pasar Senen, Jakarta, Senin (3/2/2020) lalu.

Selain itu, dalam menyelesaikan masalah kenaikan cabai, Syahrul juga akan membenahi distribusi bahan pangan agar daerah di luar Jawa yang panen, seperti Sulawesi, bisa cepat memasok bahan pangan lewat transportasi udara.

Baca juga: Pengusaha Ayam Geprek Keluhkan Harga Cabai Rawit yang Melambung

"Ini soalnya ada di hilir, bagaimana transportasi laut kita tingkatkan menjadi transportasi udara, dan kami sudah sepakat untuk membicarakan dengan Kementerian Perhubungan dan lain-lain yang bisa untuk bisa memfasilitasi," ucapnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid mengungkapkan, meroketnya harga cabai seolah sudah jadi langganan setiap pergantian musim dalam setiap tahunnya.

Selain itu, masalah ini belum juga ditemukan solusi permanennya.

"Sudah jadi masalah klasik. Masalah dari dulu kan cara berbudaya petani, paling penting di situ," kata Hamid.

Menurut dia, permintaan cabai khususnya jenis rawit terus meningkat dari tahun ke tahun seiring tren kuliner berbahan baku cabai rawit yang populer sejak beberapa tahun belakangan.

Di sisi lain, cara budidaya cabai yang dilakukan petani belum banyak berubah. Artinya, belum banyak petani cabai yang menanam dengan metode intensifikasi.

Baca juga: Biang Kerok Mahalnya Cabai dan Masalah Klasik Menahun

"Sudah begitu iklim sekarang berubah, penyakit banyak, lahan semakin menyempit, tanah menurun kesuburannya, cara menanamnya masih sama. Cara berbudidaya petani belum berubah. Pemerintah juga harus aktif melakukan pembinaan cara bercocok tanam yang baik," ujar Hamid yang juga pengepul cabai ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.