Ini Cara Menghindari Reksa Dana “Saham Gorengan”

Kompas.com - 17/02/2020, 14:45 WIB
Ilustrasi pergerakan harga saham THINKSTOCKSIlustrasi pergerakan harga saham

KOMPAS.com - Sehubungan dengan perkembangan kasus investasi yang menimpa beberapa perusahaan manajer investasi dan asuransi, belakangan ini muncul istilah reksa dana saham gorengan.

Tidak hanya Nilai Aktiva Bersih per unit yang turun drastis, investor bahkan tidak bisa melakukan pencairan. Bagaimana caranya agar terhindar dari jenis reksa dana ini?

Yang dimaksud dengan reksa dana saham gorengan adalah reksa dana yang menginvestasikan portofolio efeknya pada saham-saham gorengan. Jenisnya bisa reksa dana saham, bisa juga reksa dana campuran. Tapi kebanyakan memang reksa dana saham.

Ciri-Ciri Saham Gorengan

Beberapa ciri saham gorengan antara lain seperti memiliki fluktuasi harga yang besar, kinerja harga saham tidak sesuai dengan kinerja laporan keuangan perusahaan, dan memiliki volume transaksi jual beli yang tidak wajar.

Fluktuasi harga yang besar dapat dilihat seringnya suatu saham digolongkan dalam UMA (Unusual Market Activity) karena harganya sering menyentuh batas tertinggi kenaikan atau batas terendah penurunan harga yang diperbolehkan dalam satu hari.

Baca juga: Industri Reksa Dana Hadapi Ujian Berat, Investor Diimbau Tidak Panik

Saham yang masuk golongan UMA berpotensi dihentikan perdagangannya (di-suspend) oleh pihak bursa untuk dilakukan investigasi.

Dalam proses investigasi tersebut, biasanya pihak perusahaan diminta untuk memberikan penjelasan apakah memiliki rencana aksi korporasi atau rencana bisnis yang berpotensi menyebabkan perubahan secara signifikan pada perusahaan.

Jika misalkan perusahaan memiliki rencana bisnis atau aksi korporasi yang berpengaruh signifikan seperti membagikan dividen dalam jumlah besar, melakukan akusisi, menerbitkan saham atau hutang baru, mengubah arah bisnis, merombak manajemen dan sebagainya, bisa menjadi penjelasan pada lonjakan naik turunnya harga saham.

Sebagai contoh jika harga saham perusahaan mengalami kenaikan 50 persen hanya dalam waktu 2 minggu, rupanya hal ini untuk antisipasi laporan keuangan akan datang yang akan diterbitkan dalam waktu dekat yang menyebutkan adanya kenaikan penjualan dan laba bersih yang sebesar 70 persen dibandingkan periode sebelumnya. Jika skenario ini yang terjadi, maka lonjakan harga bisa dijustifikasi.

Namun dalam banyak kasus saham gorengan, kenyataannya tidak ada. Dalam keterbukaan informasi yang dikeluarkan perusahaan, biasanya berisi pernyataan standar bahwa perusahaan tidak memiliki rencana bisnis atau aksi korporasi yang berpengaruh signifikan.

Informasi mengenai apakah suatu saham masuk dalam kategori UMA dan keterbukaan informasinya merupakan informasi publik yang bisa diakses pada website perusahaan, bursa efek, aplikasi trading perusahaan sekuritas atau situs penyedia data saham seperti RTI.

Kenaikan atau penurunan harga secara signifikan biasanya disebabkan dari volume transaksi yang tidak wajar. Untuk bisa melihat wajar atau tidaknya volume transaksi, memang harus punya pengalaman. Orang awam atau investor pemula biasanya juga tidak mengerti cara melihatnya.

Risiko Terbesar – Risiko Likuiditas

Risiko terbesar dari saham gorengan bukan hanya penurunan harga secara signifikan ke harga 50 (batas paling bawah harga saham). Tapi juga pada risiko likuiditasnya yaitu tidak bisa dicairkan.

Ketika suatu saham gorengan “gosong”, sering sekali tidak ada yang mau beli lagi sehingga tidak bisa diuangkan.

Tidak adanya permintaan ini bisa berjalan bertahun-tahun bahkan sampai perusahaan bangkrut atau dikeluarkan (delisting) dari bursa. Yang dipegang investor hanyalah kertas kepemilikan saham yang tidak ada harganya.

Reksa dana yang berinvestasi pada saham gorengan juga memiliki risiko likuiditas yang sama. Secara peraturan, ketika investor memerintahkan pencairan (redemption) reksa dana, maka dalam waktu 7 hari kerja, manajer investasi melalui bank kustodian harus membayarkan sesuai dengan Nilai Aktiva Bersih per Unit (NAB per UP) waktu dicairkan.

Jika terjadi pelanggaran, berpotensi mendapat sanksi pembubaran dari Otoritas Jasa Keuangan.

Dalam hal pembubaran yang menimpa salah satu manajer investasi terkait kasus reksa dana saham gorengan, porsi saham yang bisa dijual dijadikan cash, sementara porsi saham yang gorengan yang sudah tidak bisa dijual akan diberikan kepada investor secara proporsional.

Artinya investor akan mendapat cash yang tentu sudah jauh di bawah nilai investasi awal dan saham gorengan yang entah bisa dijual atau tidak. Risiko ini sangat tidak sesuai dengan semangat investasi reksa dana yang mengedepankan kemudahan dalam melakukan pencairan.

Untuk itu, masyarakat harus bisa mengidentifikasi dan menghindari jenis reksa dana seperti ini.

Cara Menggoda Investor

Namanya juga gorengan. Walaupun kolestrolnya tinggi, banyak yang suka. Hal yang sama juga terjadi pada investasi saham gorengan. Di depan, investor bisa bilang tidak suka, menghindar dan sebagainya, tapi di belakang tidak sedikit yang tergoda juga.

Meski demikian, terdapat perbedaan cara saham gorengan dan reksa dana saham gorengan dalam menggoda investornya.

Pada saham gorengan, karena harga bisa dilihat secara transparan, investor biasanya digoda dengan kenaikan harga yang signifikan pada beberapa hari, minggu, bahkan bulan secara berturut-turut.

Investor saham yang awalnya ragu, lama-lama ikut juga. Apalagi sudah merasakan keuntungan sehingga menambah investasi dari waktu ke waktu. Tapi investor saham yang awas biasanya tidak memegang dalam jangka waktu lama. Segmennya juga terbatas hanya ke pemain saham saja.

Di reksa dana saham gorengan agak berbeda. Karena reksa dana harus melakukan diversifikasi, maka alokasi ke satu saham hanya maksimal 10 persen. Jadi pergerakan harganya tidak akan seekstrem seperti saham gorengan ketika sedang naik.

Ada kemungkinan manajer investasi akan membeli beberapa saham gorengan sekaligus kemudian berkolaborasi dengan bandar saham untuk mengatur harga sedemikian rupa sehingga kenaikan harga di reksa dana terlihat stabil.

Bahkan ketika IHSG sedang turun sekalipun, kinerja reksa dana saham bisa tetap naik.

Akibatnya ketika saham gorengan belum gosong, kinerja reksa dana akan terlihat begitu baik bahkan memenangkan beberapa penghargaan reksa dana terbaik.

Kemudian untuk menambah daya tarik ke investor, manajer investasi memberikan janji return pasti yang bisa berkisar 8 persen, 10 persen, hingga belasan persen per tahun dengan masa investasi mulai dari 3 bulan, 6 bulan, hingga 1 tahun.

Cara hitungnya adalah jika kenaikan harga reksa dana di bawah persentase yang dijanjikan, maka selisihnya akan diganti yang pada prakteknya ditransfer dari pihak lain yang bukan manajer investasi.

Sebaliknya jika kenaikan harga reksa dana di atas persentase, maka selisihnya dikembalikan oleh investor.

Berbeda dengan saham gorengan, pergerakan harga yang stabil, janji return yang moderat, dan cara kerja yang seperti deposito, membuatnya lebih mudah untuk memikat investor dalam segmen yang lebih luas tidak seperti saham gorengan yang hanya ke pemain saham saja.

Manajer Investasi yang kerjanya sesuai aturan terus terang sangat sulit untuk bersaing karena memberikan janji return selain jenis reksa dana terproteksi merupakan tindakan yang melanggar aturan.

Reksa dana terproteksi juga memiliki risiko yang harus dijelaskan secara eksplisit. Belum lagi kinerja IHSG dalam beberapa tahun ini juga stagnan dan cenderung negatif.

3 Tips Menghindar

Untuk menghindar dari saham gorengan, bagi orang awam yang tidak memiliki pengetahuan di pasar modal, maka bisa mencoba mencari tahu apakah saham tersebut sering masuk dalam kategori UMA atau tidak.

Perhatikan apakah kenaikan laba bersih perusahaan sejalan dengan kenaikan harganya. Dalam hal ini bisa menggunakan rasio valuasi seperti Price Earning Ratio. Biasanya jika sudah di atas 25x sudah tergolong mahal.

Reksa dana saham gorengan sebagaimana pemaparan di atas, memiliki cara menggoda investor yang berbeda.

Untuk itu, ciri utama yang harus segera kita hindari apabila reksa dana tersebut menawarkan tingkat return pasti selain jenis reksa dana terproteksi.

Menyebutkan return historis dan merata-ratakannya memang diperbolehkan, tapi itu bukan jaminan akan terulang di masa mendatang. Masa investasi reksa dana terproteksi juga biasanya 2-3 tahun. Jika ada yang di bawah 1 tahun, bisa dipastikan itu bukan reksa dana terproteksi.

Kemudian investor juga bisa melihat laporan bulanan reksa dana atau dikenal dengan Fund Fact Sheet (FFS). Dalam FFS biasanya terdapat 5 atau 10 besar saham atau obligasi yang menjadi aset dasar.

FFS dibuat oleh manajer investasi, untuk itu masih ada potensi melakukan kecurangan. Sebagai alternatif, investor bisa memilih hasil audit daripada reksa dana yang dibuat oleh auditor independent.

Reksa dana diaudit setiap tahun dan hasilnya dipublikasikan bersamaan dengan prospektus pembaharuan yang biasanya di bulan April atau Mei tahun berikutnya.

Dalam audit tersebut, terdapat bagian yang menunjukkan semua isi portofolio saham, obligasi dan deposito.

Dalam prakteknya, memiliki saham gorengan tidak melanggar aturan. Jika kebetulan dalam laporan audit tersebut ada saham gorengan, tapi bobotnya tidak sampai 5 persen, ada kemungkinan manajer investasi melakukan spekulasi. Kalau bobotnya besar, baru kita perlu berhati-hati.

Cara terakhir untuk menghindar dari reksa dana saham gorengan adalah berinvestasi pada reksa dana indeks saham. Sesuai peraturan OJK, reksa dana indeks wajib menginvestasi minimal 80 persen pada anggota suatu indeks.

Sebagai contoh, jika indeks yang dijadikan acuan adalah IDX-30 – kumpulan 30 saham yang transaksi paling likuid di bursa saham, maka reksa dana saham biasanya akan berinvestasi seluruh dananya pada 24 – 30 saham tersebut dengan bobot yang menyerupai susunan indeks.

Yang membedakan antara reksa dana indeks saham dengan reksa dana saham adalah pada kinerjanya.

Jika kinerja reksa dana indeks cenderung sama dengan indeks acuan, maka reksa dana saham bisa menang, bisa juga kalah dengan indeks acuan. Memiliki keduanya bisa menjadi suatu diversifikasi yang baik.

Jangan Pukul Rata dan Jangan Panik

Nasi sudah menjadi bubur. Untuk yang sudah bermasalah, biarlah ditangani oleh regulator dan pihak yang berwajib. Memang ada beberapa pelaku yang melanggar aturan, tapi lebih banyak lagi perusahaan manajer investasi yang kerjanya sudah sesuai aturan. Jangan sampai semua industri ini dicap tidak baik.

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat bisa melihat dengan jelas seperti apa praktek yang menyalahi aturan dan menghindarinya di masa mendatang, serta mengetahui siapa saja perusahaan yang telah bekerja sesuai dengan aturan.

Masyarakat dan investor juga diharapkan jangan panik dan melakukan rush. Saham yang likuid dari perusahaan terkemuka sekalipun kalau dijual dalam jumlah besar bisa berpotensi membuat penurunan harga signifikan juga.

Semoga kepada regulator agar proses investigasi yang sedang berlangsung ini bisa segera dituntaskan, kepada para pelaku manajer investasi untuk meningkatkan transparansi dan kinerjanya, dan kepada investor untuk selalu meningkatkan literasi investasinya untuk menghilangkan investasi bermasalah pada masa mendatang.

Semoga bermanfaat.

Tulisan merupakan pendapat pribadi.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X