BCA Sebut MRT dan Ojek Online Pengaruhi Permintaan Kredit Kendaraan

Kompas.com - 20/02/2020, 22:01 WIB
Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja memberikan keterangan pers kepada awak media, di Menara BCA, Jakarta, Selasa (3/12/2019). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIDirektur Utama BCA Jahja Setiaatmadja memberikan keterangan pers kepada awak media, di Menara BCA, Jakarta, Selasa (3/12/2019).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) secara keseluruhan menurun sebesar 1,1 persen menjadi Rp 46,7 triliun sepanjang 2019.

Penurunan kredit tersebut dipengaruhi oleh kredit kendaraan roda dua yang menurun sebesar 34,5 persen menjadi Rp 2,1 triliun pada 2019 dari Rp 3,3 triliun pada 2018.

Sedangkan, kredit kendaraan roda empat masih tumbuh sebesar 1, 4 persen menjadi Rp 45,4 triliun pada 2019 dari Rp 44,8 triliun pada 2020.

Baca juga: Pertengahan 2020, BCA Sulap Bank Royal Jadi Bank Digital

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan, penurunan kredit kendaraan bermotor dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup masyarakat yang kerap menggunakan angkutan umum, seperti Moda Raya Terpadu (MRT) dan ojek online.

"Ada beberapa problem khususnya untuk penjualan KKB. Karena apa? MRT sudah lumayan bisa mengakomodasi kebutuhan masyarakat. Nomor dua ada grab (ojek online), ini jujur saja sangat memudahkan," kata Jahja di Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Jahja menuturkan, adanya ojek online yang mampu datang ke depan rumah hingga mengantar ke tempat tujuan lumayan mengikis permintaan pasar, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta.

Padahal kata Jahja, kredit kendaraan BCA dari segi harga sudah cukup kompetitif.

"Kalau sari segi pricing sudah sangat baik. Namun kekuatan pasar berkata lain," terangnya.

Baca juga: Laba BCA Tembus Rp 28,6 Triliun Pada 2019

Selain perubahan gaya hidup, BCA mesti bersaing dengan perusahaan pembiayaan yang dimiliki oleh pembuat kendaraan (manufacturing). Perusahaan pembiayaan itu biasanya menjual produk-produk kendaraan yang 3-6 bulan sebelumnya telah disiapkan.

Bila prediksi penjualan salah sementara perusahaan telah membeli komponen dan siap merakit kendaraan, otomatis perusahaan tersebut harus menjual produknya dengan berbagai diskon.

"Dan biasanya finance company dari manufacturing itu punya diskon khusus dari mereka, itu yang tidak bisa kita lawan," ungkap Jahja.

Di sisi lain, penjualan kendaraan roda dua dikuasai oleh merek-merek dominan.

"Di sini produsen yang memiliki brand dominan menguasai pasar jadi kita masuk ke situ agak sulit. Apalagi di sektor motor kita belum jadi top of mind," sebutnya.

Baca juga: Erick Thohir Mau Bubarkan 5 Anak Usaha Garuda Indonesia



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pendiri Start Up Jaringan Bengkel Mobil Asal Indonesia Masuk Daftar Forbes 30 Under 30

Pendiri Start Up Jaringan Bengkel Mobil Asal Indonesia Masuk Daftar Forbes 30 Under 30

Whats New
Dukung UMKM ke Pasar Global, KGX Luncurkan Layanan Export Delivery Service

Dukung UMKM ke Pasar Global, KGX Luncurkan Layanan Export Delivery Service

Whats New
Tertarik Asuransi Unit Link? Pahami Dulu Manfaat dan Kerugiannya

Tertarik Asuransi Unit Link? Pahami Dulu Manfaat dan Kerugiannya

Spend Smart
Pendapatan Turun, Multi Bintang Tetap Bagi Dividen Rp 475 Per Saham

Pendapatan Turun, Multi Bintang Tetap Bagi Dividen Rp 475 Per Saham

Whats New
Pertamina Rosneft Mulai Desain Rinci Kilang Tuban

Pertamina Rosneft Mulai Desain Rinci Kilang Tuban

Whats New
Dalam Sepekan, Dogecoin Sudah Menguat 600 Persen

Dalam Sepekan, Dogecoin Sudah Menguat 600 Persen

Whats New
Selain Suku Bunga Rendah, Ini Jurus BI Percepat Pemulihan Ekonomi Nasional

Selain Suku Bunga Rendah, Ini Jurus BI Percepat Pemulihan Ekonomi Nasional

Whats New
Bogasari Ditunjuk Jadi Industri Percontohan Kawasan Tangguh Jaya

Bogasari Ditunjuk Jadi Industri Percontohan Kawasan Tangguh Jaya

Whats New
Pemerintah Siapkan 5 Prioritas Program Energi Terbarukan Hingga 2024

Pemerintah Siapkan 5 Prioritas Program Energi Terbarukan Hingga 2024

Whats New
Pasar Mitra Tani Berikan Gratis Ongkir untuk Masyarakat

Pasar Mitra Tani Berikan Gratis Ongkir untuk Masyarakat

Rilis
[TREN TRAVEL KOMPASIANA] Pesona Kawah Ijen | Kiat dan Trik Mendaki Gunung Talamau | Jalan Kaki Menikmati Alam Sentul

[TREN TRAVEL KOMPASIANA] Pesona Kawah Ijen | Kiat dan Trik Mendaki Gunung Talamau | Jalan Kaki Menikmati Alam Sentul

Rilis
Gubernur BI: Alhamdulillah, Suku Bunga Dasar Kredit Sekarang Sudah Single Digit...

Gubernur BI: Alhamdulillah, Suku Bunga Dasar Kredit Sekarang Sudah Single Digit...

Whats New
Berdamai dengan KPPU Australia, Garuda Bayar Denda Rp 241 Miliar

Berdamai dengan KPPU Australia, Garuda Bayar Denda Rp 241 Miliar

Whats New
Kemenkop Minta UMKM Ekspor Rempah dalam Bentuk Bumbu hingga Jamu

Kemenkop Minta UMKM Ekspor Rempah dalam Bentuk Bumbu hingga Jamu

Whats New
Waskita Karya Incar Pendanaan Rp 15,3 Triliun untuk Rampungkan Berbagai proyek

Waskita Karya Incar Pendanaan Rp 15,3 Triliun untuk Rampungkan Berbagai proyek

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X