Faisal Basri: PLN dan Pertamina Sumbang 70 Persen Masalah di BUMN

Kompas.com - 21/02/2020, 19:28 WIB
Pengamat Ekonomi Faisal Basri saat di Jakarta, Kamis (14/2/2019). KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMAPengamat Ekonomi Faisal Basri saat di Jakarta, Kamis (14/2/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom Senior Faisal Basri mengatakan 70 persen masalah di Badan Usaha Milik Negara ( BUMN) berasal dari 2 BUMN besar, yakni PT PLN (Persero) dan PT Pertamina.

Dia berseloroh, permasalahan di perusahaan-perusahaan BUMN akan lebih baik bila masalah di perusahaan listrik negara dan perusahaan migas itu bisa diselesaikan.

"PLN dan Pertamina ini, itu 70 persen dari masalah di BUMN. Dua (perusahaan) ini bagus, selesai BUMN lainnya tidak masalah," kata Faisal di Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Faisal menuturkan, pemerintah mesti memperkokoh dua perusahaan besar itu agar banyak masalah di BUMN terselesaikan. Pemerintah juga dituntut untuk konsisten menjalankan kebijakan.

"70-80 persen di sini, tapi di sinilah yang harus kita perkokoh. Kemudian konsisten menjalankan kebijakan. Jadi ayodong kita tertib. Kasihan PLN kasihan Pertamina. Wah dikit-dikit problem dan macet-macet gitu," ungkap Faisal.

Baca juga: Politisi Jadi Komisaris BUMN, Erick Thohir: Tak Ada yang Dilanggar

Kendati demikian, Faisal bilang masalah tersebut bukan karena salah PLN maupun Pertamina. Dia kemudian menyoroti utang pemerintah kepada 2 perusahaan pelat merah itu. Bila digabung, utang pemerintah melebihi Rp 100 triliun.

"Kasihan anak kandung kita sendiri BUMN itu harus sehat. Sedangkan pemerintah belum bayar utang pertamina Rp 75 triliun, dan ke PLN sampai akhir tahun ini Rp 83 triliun. Sekali lagi, ini bukan salah Pertamina atau PLN," ucapnya.

Piutang yang diberikan kepada pemerintah itu, kata Faisal, merupakan salah satu yang menyumbang masalah. Sebab, piutang tersebut membuat dua BUMN besar terseok-seok meski laporan keuangan perusahaan terlihat baik-baik saja.

"Jadi zaman Pak Sofyan Basir (mantan Direktur Utama PLN) oke-oke saja. Laporan keuangannya baik. Karena apa? Karena piutang pemerintah dimasukkan ke pendapatan, jadi untung. Padahal krisis likuiditas," beber Faisal.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X