Sri Mulyani Beberkan Strategi Antisipasi Perlambatan Ekonomi Akibat Virus Corona

Kompas.com - 23/02/2020, 08:39 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Kamis (30/1/2020). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Kamis (30/1/2020).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani kembali menyebutkan penyebaran virus corona akan berdampak signifikan terhadap perekonomian global. Isu ini pun dibahas dalam pertemuan gubernur bank sentral dan menteri keuangan G20 di Riyadh, Arab Saudi.

Melalui unggahan akun instagram pribadinya, Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini yang diproyeksi mengalami penguatan akan dibayangi oleh risiko penyebaran virus corona.

Bahkan, ia menilai penyebaran virus corona atau Covid-19 akan mempunyai dampak ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan ketegangan perdagangan global.

Baca juga: DPR Minta Sri Mulyani Kreatif Garap Potensi Penerimaan dari Cukai

"Karena dampak Covid-19 menghantam berbagai lini ekonomi, baik dari sisi industri, perdagangan, investasi, dan pariwisata," kata dia dikutip dari akun instagram pribadinya, Minggu (23/2/2020).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Global Economy Pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan mengalami peningkatan karena perbaikan kondisi keuangan global dan berkurangnya ketegangan perdagangan, dibayangi oleh risiko ketegangan geopolitik, ketidakpastian kebijakan dan Covid-19 (virus corona). Penyebaran Covid-19 diyakini akan mempunyai dampak ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan ketegangan perdagangan global karena dampak Covid-19 menghantam berbagai lini ekonomi, baik dari sisi industri, perdagangan, investasi dan pariwisata. Dalam pertemuan G20 hari ini, negara-negara G20 menyampaikan simpati kepada masyarakat dan negara yang terdampak Covid-19, khususnya China dan menyepakati perlunya komitmen global untuk mengatasi dampak Covid-19, baik dalam pencegahan penyebarannya maupun munculnya virus serupa di masa depan. Negara-negara G20 berkomitmen untuk menggunakan semua alat kebijakan guna mencapai pertumbuhan yang kuat, berkelanjutan, seimbang dan inklusif, serta tahan terhadap downsize risk. Reformasi struktural juga terus dilanjutkan untuk meningkatkan potensi pertumbuhan. Kebijakan fiskal harus fleksibel dan ramah pertumbuhan, sementara kebijakan moneter harus terus mendukung kegiatan ekonomi dan mampu memastikan stabilitas harga, konsisten dengan mandat bank sentral. Perdagangan internasional dan investasi juga harus ditingkatkan karena merupakan mesin penting pertumbuhan, produktivitas, inovasi, penciptaan lapangan kerja dan pembangunan. Kebijakan global dalam menangani risiko turunnya ekonomi global juga menjadi perhatian utama Indonesia. Pemerintah menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga daya beli masyarakat antara lain dengan bauran kebijakan ekonomi dan fiskal. Kementerian Keuangan mendorong percepatan belanja efektif dan tepat sasaran serta berbagai insentif sebagai stimulus khususnya di sektor pariwisata yang terkena dampak besar dari Covid-19. Riyadh - Arab Saudi - 22 Februari 2020

A post shared by Sri Mulyani Indrawati (@smindrawati) on Feb 22, 2020 at 8:12am PST

Oleh karenanya, dalam pertemuan tersebut seluruh negara peserta berkomitmen untuk melakukan berbagai kebijakan untuk mencegah terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Langkah pertama yang akan dilakukan adalah melanjutkan reformasi struktural untuk meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi.

"Kebijakan fiskal harus lebih fleksibel dan ramah pertumbuhan, sementara kebijakan moneter harus terus mendukung kegiatan ekonomi dan mampu menstabilkan harga, konsisten dengan mandat bank sentral," tuturnya.

Baca juga: Menristek: Startup Pendidikan dan Kesehatan Berpotensi Jadi Unicorn

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menambahkan, peserta G20 sepakat untuk meningkatkan perdagangan internasional dan investasi. Pasalnya, kedua hal tersebut menjadi sangat penting untuk menggenjot perekonomian sekaligus menciptakan lapangan kerja.

Selain itu, kebijakan global dalam menangani risiko turunnya ekonomi global juga menjadi perhatian utama nasional.

"Pemerintah menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga daya beli masyarakat, antara lain dengan bauran kebijakan ekonomi dan fiskal," katanya.

Wanita yang akrab disapa Ani itu memastikan pihaknya akan terus mendorong percepatan belanja secara efektif seluruh kementerian dan lembaga RI.

"Khususnya di sektor pariwisata yang terkena dampak besar dari Covid-19," ucap dia.

Baca juga: Faye Hasian Simanjuntak, Cucu Menko Luhut, Masuk Jajaran Forbes Indonesia 30 Under 30



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X