Pengusaha Elektronik RI Keluhkan Kelangkaan Bahan Baku Akibat Corona

Kompas.com - 24/02/2020, 11:08 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan setrika di Pabrik PT Selaras Citra Nusantara Perkasa (SCNP), Cileungsi, Jawa Barat, Kamis (10/10/2019). PT SCNP merupakan perusahaan yang bergerak dalam produksi alat elektronik rumah tangga sejak 1980-an, dan saat ini telah memiliki kapasitas produksi hingga 4 Juta unit per tahun. Selain itu, PT SCNP juga melakukan ekspor produk ke negara di ASEAN dan Amerika Serikat. KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZESPekerja menyelesaikan pembuatan setrika di Pabrik PT Selaras Citra Nusantara Perkasa (SCNP), Cileungsi, Jawa Barat, Kamis (10/10/2019). PT SCNP merupakan perusahaan yang bergerak dalam produksi alat elektronik rumah tangga sejak 1980-an, dan saat ini telah memiliki kapasitas produksi hingga 4 Juta unit per tahun. Selain itu, PT SCNP juga melakukan ekspor produk ke negara di ASEAN dan Amerika Serikat.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaku industri elektronika mulai merasakan dampak penurunan arus aktivitas perdagangan China akibat virus corona. Arus pasokan komponen dan bahan baku dari negara ini mulai terasa tersendat, sehingga mengancam kegiatan produksi dan ekspor industri elektronika nasional.

Ketua Umum Gabungan Elektronika (Gabel) Oki Widjaya mengatakan, pemerintah melalui instansi terkait diharapkan bisa mengeluarkan kebijakan yang dapat membantu pelaku industri elektronik mengatasi masalah pasokan bahan baku dan komponen ini.

“Sebagian bahan baku dan komponen produk elektronika, kita masih menggunakan komponen dari China karena harganya memang lebih bersaing dibandingkan pemasok negara lain," kata Oki dalam keterangannya, Senin (24/2/2020).

Kata dia, dengan adanya wabah virus corona sekarang ini, pasokan komponen dari China mulai tersendat, dan ini tentu akan sangat mengganggu kegiatan produksi dan ekspor industri elektronika nasional.

Baca juga: Dampak Corona, Proyek KA Cepat Jakarta-Bandung Andalkan Pekerja Lokal

"Melihat dampak virus corona yang kian masif, kami harapkan pemerintah memberi perhatian terhadap pasokan komponen ini, agar tidak berdampak buruk pada kinerja produksi dan ekspor industri elektronika nasional,” ungkap Oki.

Menurut Oki yang juga Presiden Direktur PT Galva Technologies Tbk, harapan Gabel tersebut juga terkait dengan implementasi roadmap Making Indonesia 4.0 yang disusun pemerintah.

Dimana industri elektronik merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang mendapat prioritas pengembangan agar lebih berdaya saing global, khususnya dalam kesiapan memasuki era industri 4.0.

Untuk itu pihaknya mendesak melalui koordinasi Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, Perindustrian, Perdagangan, Tenaga Kerja, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, pemerintah segera melakukan sinergi menyelamatkan sektor industri primadona ekspor dari dampak buruk penyebaran virus corona.

Baca juga: Sri Mulyani Beberkan Strategi Antisipasi Perlambatan Ekonomi Akibat Virus Corona

“Tanpa upaya komprehensif dikhawatirkan kegiatan produksi industri elektronika tersendat, bahkan terancam berhenti. Apabila kondisi ini tak juga teratasi akan berdampak signifikan terhadap neraca perdagangan, penerimaan negara, nasib tenaga kerja, dan investasi,” tegasnya.

Sementara itu, Sekjen Gabel Daniel Suhardiman mengungkapkan, terjaminnya pasokan komponen untuk industri elektronika nasional harus diakui merupakan salah satu faktor pendukung utama industri ini masih memiliki peluang menjadi pemain yang kuat di pasar domestik.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X