Pertamina Targetkan Mulai Produksi Biodiesel B100 di 2021

Kompas.com - 25/02/2020, 20:54 WIB
Petugas menunjukkan sampel bahan bakar B30 saat peluncuran uji jalan Penggunaan Bahan Bakar B30 untuk kendaraan bermesin diesel di halaman Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6/2019). Uji jalan kendaraan berbahan bakar campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar atau B30 dengan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer tersebut bertujuan untuk mempromosikan kepada masyarakat bahwa penggunaan bahan bakar itu tidak akan meyebabkan performa dan akselerasi kendaraan turun. Aprillio AkbarPetugas menunjukkan sampel bahan bakar B30 saat peluncuran uji jalan Penggunaan Bahan Bakar B30 untuk kendaraan bermesin diesel di halaman Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6/2019). Uji jalan kendaraan berbahan bakar campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar atau B30 dengan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer tersebut bertujuan untuk mempromosikan kepada masyarakat bahwa penggunaan bahan bakar itu tidak akan meyebabkan performa dan akselerasi kendaraan turun.

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) menargetkan mulai memproduksi Biodiesel 100 persen atau B100 di 2021. Nantinya, produksi B100 itu akan dilakukan di Kilang Cilacap, Jawa Tengah.

Quick win pertengahan tahun depan sudah ada B100, 6.000 barel per hari,” ujar Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati di DPR RI, Jakarta, Selasa (25/2/2020).

Selain di Kilang Cilacap, lanjut Nicke, proses produksi B100 juga akan dilakukan di Kilang Plaju, dan Dumai. Keduanya merupakan kilang eksisting yang dikembangkan atau Refinery Development Master Plan (RDMP).

Baca juga: Airlangga Hartarto: Juli 2021, Biodiesel B40 Mulai Diberlakukan

“Stand alone 600 juta dollar AS (investasinya). Kalau kita convert (di) kilang tua, bisa hemat 50 persen daripada kita bangun baru. Jadi ini yang lebih kita ke depannya,” kata Nicke.

Namun, Nicke meminta keistimewaan harga dan pasokan minyak sawit (CPO) untuk penerapan program B100. Keistimewaan yang diminta itu berbentuk kewajiban pasokan dalam negeri (Domestic Market Obligation) minyak sawit.

“Ongkos produksi tergantung harga CPO-nya. Kami meminta DMO untuk CPO. Jadi, CPO khusus Bioenergi. DMO Volume, dan DMO harga,” ucap dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X