Penurunan Harga Gas Industri Harus Diimbangi Pajak Industri?

Kompas.com - 01/03/2020, 17:21 WIB
Distribusi gas bumi kepada pelanggan menjadi tanggung jawab besar PGN di tengah tantangan global saat ini. PGN sebagai subholding gas terus fokus membangun infrastruktur gas bumi untuk memastikan ketersediaan gas bumi yang efisien di Tanah Air melalui pembangunan dan perluasan infrastruktur gas bumi di berbagai wilayah di Indonesia. dok. PGNDistribusi gas bumi kepada pelanggan menjadi tanggung jawab besar PGN di tengah tantangan global saat ini. PGN sebagai subholding gas terus fokus membangun infrastruktur gas bumi untuk memastikan ketersediaan gas bumi yang efisien di Tanah Air melalui pembangunan dan perluasan infrastruktur gas bumi di berbagai wilayah di Indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah merencanakan untuk menurunkan harga gas industri menjadi 6 dollar AS per Million British Thermal Unit (MMBTU). Ini setara sekira Rp 85.662 per MMBTU (kurs Rp 14.277 per dollar AS).

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad memandang, penurunan harga gas itu harus diseimbangkan dengan penerimaan pajak industri.

Menurut Tauhid, penurunan harga gas akan mengurangi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor minyak bumi dan gas (migas).

 

Baca juga: Jokowi Ingin Harga Gas Turun, Pertamina Minta Insentif

Oleh sebab itu, diperlukan penambahan pajak dari industri yang menggunakan bahan bakar gas.

"Harus diseimbangkan, antara penerimaan di hulu dengan pajak industri," kata Tauhid dalam keterangannya, Minggu (1/3/2020).

Tauhid mengungkapkan, sebelum diputuskan besaran penurunan harga gas industri, pemerintah harus menghitung secara cermat dampaknya dan itu harus realistisi.

"Saya kira harus realistis, mungkin tidak 6 dollar AS per MMBTU, tapi di harga yang paling menguntungkan semua pihak," terangnya.

Tauhid menilai harga gas industri Indonesia tergolong mahal. Namun, ia beralasan mahalnya harga gas itu salah satunya karena lokasi sumber gas yang berada di pulau-pulau yang menguras harga produksi.

Baca juga: DPR: Penurunan Harga Gas Industri Harus Disertai Mekanisme Kontrol

Sementara 70 persen harga gas hilir dipengaruhi oleh harga gas di hulu tersebut.

“Saat ini harga gas industri berada pada rentang 9 sampai 12 dollar AS atau sekitar Rp 125.676-Rp 167.568 per MMBTU. Angka itu jauh diatas harga gas internasional yang berkisar 5 dollar AS per MMBTU sampai 4 dollar AS per MMBTU atau cenderung berdekatan dengan fluktuasi harga minyak dunia," lanjut Tauhid.

Terkait wacana penurunan harga gas ini, sesuai Perpres Nomor 40 tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi, terdapat tujuh industri yang berhak mendapatkan harga gas 6 dollar AS per MMBTU, yaitu pupuk, petrokimia, oleochemical, industri baja, industri keramik, industri kaca, dan industri sarung tangan karet.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menko Luhut Targetkan Emisi Gas Rumah Kaca Turun 314 Juta Ton di 2030

Menko Luhut Targetkan Emisi Gas Rumah Kaca Turun 314 Juta Ton di 2030

Whats New
KPPU: Harga Telur hingga Daging Ayam Naik di Hampir Semua Provinsi

KPPU: Harga Telur hingga Daging Ayam Naik di Hampir Semua Provinsi

Whats New
Apakah Diperbolehkan Daftar Sekolah Kedinasan dan Ikut Tes CPNS/PPPK?

Apakah Diperbolehkan Daftar Sekolah Kedinasan dan Ikut Tes CPNS/PPPK?

Work Smart
Jalin Kerja Sama dengan JPEN, PGN Berusaha Dorong Daya Saing Industri Jateng

Jalin Kerja Sama dengan JPEN, PGN Berusaha Dorong Daya Saing Industri Jateng

Rilis
Kemenperin Targetkan Industri Farmasi Tumbuh Double Digit pada 2021

Kemenperin Targetkan Industri Farmasi Tumbuh Double Digit pada 2021

Whats New
Permintaan Kredit Terus Tumbuh, Ini Indikatornya

Permintaan Kredit Terus Tumbuh, Ini Indikatornya

Whats New
[TREN TEKNOLOGI KOMPASIANA] Beda Nasib LG dan Samsung | Belajar dari Italia Melestarikan Ekosistem Lingkungan

[TREN TEKNOLOGI KOMPASIANA] Beda Nasib LG dan Samsung | Belajar dari Italia Melestarikan Ekosistem Lingkungan

Rilis
Sandiaga Uno Targetkan Bali Bisa Dikunjungi Wisman Pada Tahun Ini

Sandiaga Uno Targetkan Bali Bisa Dikunjungi Wisman Pada Tahun Ini

Whats New
Aset TMII Capai Rp 20,5 Triliun, Kemenkeu: Baru Tanahnya Saja

Aset TMII Capai Rp 20,5 Triliun, Kemenkeu: Baru Tanahnya Saja

Whats New
Masih Calon Pulau, KKP Cek Lebih Lanjut Kemunculan Pulau Baru Usai Badai Seroja

Masih Calon Pulau, KKP Cek Lebih Lanjut Kemunculan Pulau Baru Usai Badai Seroja

Whats New
[TREN WORKLIFE KOMPASIANA] 4 Alasan Perempuan di Desa Memilih Tandur sebagai Profesi | 'Power of Resilience' adalah Kunci

[TREN WORKLIFE KOMPASIANA] 4 Alasan Perempuan di Desa Memilih Tandur sebagai Profesi | "Power of Resilience" adalah Kunci

Rilis
Bernie Madoff, Penjahat Skema Ponzi Terbesar yang Meninggal di Penjara

Bernie Madoff, Penjahat Skema Ponzi Terbesar yang Meninggal di Penjara

Whats New
Ramadhan, Mendag Lutfi: Harga Bahan Pokok Stabil!

Ramadhan, Mendag Lutfi: Harga Bahan Pokok Stabil!

Whats New
Ada Reshuffle Kabinet, Siapa yang Bakal Jadi Menteri Investasi?

Ada Reshuffle Kabinet, Siapa yang Bakal Jadi Menteri Investasi?

Whats New
Akhiri Pekan, IHSG dan Rupiah Ditutup Menguat

Akhiri Pekan, IHSG dan Rupiah Ditutup Menguat

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X