Industri Loyo Gara-gara Corona, Pemerintah Bakal Bebaskan BM Impor Bahan Baku

Kompas.com - 04/03/2020, 18:39 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memimpin rapat koordinasi di Kemenperin, Jakarta, Senin (30/12/2019). (Foto: Humas Kemenperin) KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIMenteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memimpin rapat koordinasi di Kemenperin, Jakarta, Senin (30/12/2019). (Foto: Humas Kemenperin)

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah mengungkapkan beberapa kelonggaran untuk memberikan kemudahan bagi dunia usaha yang membutuhkan bahan baku impor.

Pasalnya, saat ini kebutuhan bahan baku untuk para pelaku industri tengah terbatas akibat pasokan dari China yang terhenti sejak wabah virus corona merebak awal tahun.

Menteri perindustrian Agus Gumiwang Kertasasmita mengatakan, untuk mengurangi beban pelaku industri, pemerintah bakal menggratiskan bea masuk impor bahan baku.

Baca juga: Redam Dampak Corona, Menperin Dorong Tarif Listrik Industri Didiskon

Hal itu berlaku tak hanya untuk impor bahan baku dari China, namun juga negara lain.

"Impor-impor yang tujuannya bahan baku kalau bisa dinolkan, justru akan bagus. Paling tidak ada keringanan bea masuk," ujar Agus di Jakarta, Rabu (4/3/2020).

Selain menggratiskan bea masuk, pemerintah juga bakal melakukan pengurangan biaya untuk perusahaan yang membuka Letter of Credit (LC) baru.

Sebagai catatan, dokumen Letter of Credit (LC) memungkinkan eksportir menerima pembayaran tanpa menunggu berita dari luar negeri setelah barang dan berkas dokumen dikirimkan keluar negeri kepada pemesan atau importir dan akan memudahkan pihak-pihak yang berada didalamnya.

"Kami sudah berkomunikasi dengan Kementerian BUMN dan BI (Bank Indonesia). Jadi kalau LC menjadi bagian dari struktur cost itu bisa ditekan, itu dia akan berdampak pada lebih rendahnya harga bahan baku yang harus dibayar oleh industri," kata dia.

Baca juga: Geger Corona, Penjual Wedang Jahe Susu Diserbu Pembeli

Agus mengatakan, hingga saat ini sebanyak 30 persen impor bahan baku industri di Indonesia berasal dari China. Namun, sejak wabah virus corona atau covid-19 merebak industri manufaktur di China pun terganggu dan membuat negara mitra dagang utama seperti Indonesia harus mencari sumber bahan baku lain.

Agus pun memaparkan, saat ini harga bahan baku untuk beberapa sektor industri sudah mulai tinggi akibat mandegnya kegiatan manufaktur di China. Hal itu pun membebani industri di dalam negeri.

Padahal, permintaan produk industri bakal meningkat lantaran sebentar lagi sudah memasuki puasa dan Lebaran.

"Karena ini kan supply and demand-lah. Ketika demand meningkat, supply-nya juga menurun bahkan tidak ada, tentu harganya naik. Jadi negara harus hadir," jelasnya.

Baca juga: Ada Virus Corona, Pemerintah Tegaskan Tidak Larang Ekspor Masker



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[TREN FILM KOMPASIANA] Anggota Yakuza Alih Profesi Jadi Bapak Rumah Tangga | 'Hello Me!', Drama Ringan yang Penuh Pesan Moral

[TREN FILM KOMPASIANA] Anggota Yakuza Alih Profesi Jadi Bapak Rumah Tangga | "Hello Me!", Drama Ringan yang Penuh Pesan Moral

Rilis
Airlangga Minta Rencana Kerja Pemda Disinergikan dengan Pemerintah Pusat

Airlangga Minta Rencana Kerja Pemda Disinergikan dengan Pemerintah Pusat

Rilis
Ini Jadwal Penyekatan Kendaraan Mudik di Jalan Tol

Ini Jadwal Penyekatan Kendaraan Mudik di Jalan Tol

Whats New
 Dalam Hannover Messe 2021, Telkom Kenalkan Produk dan Layanan Digital

Dalam Hannover Messe 2021, Telkom Kenalkan Produk dan Layanan Digital

Rilis
Muncul Wacana Reshuffle Kabinet, Bagaimana Pengaruhnya ke IHSG?

Muncul Wacana Reshuffle Kabinet, Bagaimana Pengaruhnya ke IHSG?

Whats New
Tarif Layanan Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Priok Naik, Ini Alasannya

Tarif Layanan Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Priok Naik, Ini Alasannya

Whats New
Menhub: Penggunaan Transportasi Perkotaan Meningkat Selama Pandemi Covid-19

Menhub: Penggunaan Transportasi Perkotaan Meningkat Selama Pandemi Covid-19

Rilis
Ombudsman Sebut Kilang Balongan Sudah Tiga Kali Terbakar

Ombudsman Sebut Kilang Balongan Sudah Tiga Kali Terbakar

Whats New
Ini Jadwal dan Lokasi Tukar Uang Baru, Tetap Buka Meski Mudik Dilarang

Ini Jadwal dan Lokasi Tukar Uang Baru, Tetap Buka Meski Mudik Dilarang

Whats New
Tahun Ini ASN Hanya Dapat Jatah Cuti Bersama 2 Hari, Tanggal Berapa Saja?

Tahun Ini ASN Hanya Dapat Jatah Cuti Bersama 2 Hari, Tanggal Berapa Saja?

Whats New
Pamit dari Aceh, Kantor Cabang hingga ATM BRI Bakal Dioperasikan BSI

Pamit dari Aceh, Kantor Cabang hingga ATM BRI Bakal Dioperasikan BSI

Whats New
Pasca-Reshuffle Kabinet Indonesia Maju, Siapa Menteri Dengan Persepsi Paling Positif?

Pasca-Reshuffle Kabinet Indonesia Maju, Siapa Menteri Dengan Persepsi Paling Positif?

Whats New
Diskon Tarif Listrik Dipangkas, Ini Langkah PLN Agar Pelanggan Tidak Kaget

Diskon Tarif Listrik Dipangkas, Ini Langkah PLN Agar Pelanggan Tidak Kaget

Whats New
Ini Tarif Baru Layanan Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok

Ini Tarif Baru Layanan Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok

Whats New
Lambat Cegah Kebakaran Kilang Balongan, Pertamina Dinilai Lalai

Lambat Cegah Kebakaran Kilang Balongan, Pertamina Dinilai Lalai

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X