Wabah Corona Merebak, Permintaan Drone untuk Pertanian Melonjak

Kompas.com - 11/03/2020, 11:28 WIB
Ilustrasi drone. AP PhotoIlustrasi drone.

HONG KONG, KOMPAS.com – Dampak virus corona terus memukul sektor industri. Namun beberapa perusahaan teknologi baru di bidang pertanian mengalami peningkatan permintaan, termasuk drone khusus pertanian.

"Dalam dua bulan pertama tahun 2020, kami mengirimkan 4.000 unit drone pertanian yang baru dirilis," kata Justin Gong, salah satu pendiri XAG, pembuat drone pertanian sebagaimana dikutip dari CNBC, Rabu (11/3/2020).

Selain XAG, perusahaan drone lain Beijing Yifei Technology melalui Chief Marketing Officer, Liu Zhuo mengatakan perusahaan memproyeksikan pendapatan melonjak hingga empat kali lipat tahun ini menjadi lebih dari 30 juta yuan atau 4,31 juta dollar AS atau Rp 602 miliar (Kurs Rp 14.000 per dollar AS).

"Baru-baru ini, kami menerima lebih banyak pertanyaan tentang drone pertanian dan kendaraan tak berawak," kata Liu.

Baca juga: Karena Wabah Corona, China Lahirkan Lebih Banyak Miliarder, Kok Bisa?

Adapun pembeli dari drone pertanian ini adalah perusahaan pertanian besar, pemerintah daerah, dan distributor produk pertanian. Ini dilakukan sebagai pengganti tenaga manusia yang rentan dengan wabah corona.

Di China, munculnya virus corona memberi dorongan untuk mengurangi penggunaan tenaga manusia. Hal ini menjadi tantangan besar karena sebagian besar industri agrikultur China umumnya masih menggunakan tangan manusia untuk pengolahan pertanian kecil.

Awalnya ketertarikan pada produk dan layanan teknologi pertanian muncul ketika pemerintah China berupaya mengurangi ketergantungan pada impor makanan dari AS dan negara-negara lain selama beberapa tahun terakhir.

Modernisasi pertanian China juga masuk dalam rencana pemerintah dalam lima tahun ke depan.

Kementerian pertanian China memperkirakan lebih dari 30.000 drone akan dipesan untuk perlindungan tanaman dari wabah corona untuk musim semi ini.

China memproyeksikan pertumbuhan produk pertanian berbasis teknologi tahun ini akan naik menjadi 26,8 miliar tahun ini. Sementara tahun 2015 kurang dari 13,7 miliar dollar AS.



Sumber CNBC
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X