Ekonomi Bergejolak, Bagaimana Proyeksi Industri Asuransi Ke Depan?

Kompas.com - 12/03/2020, 11:02 WIB
(ki-ka) Kabid Marketing dan Komunikasi Wiroyo Karsono, Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon, Kabid Operasional dan Perlindungan Konsumen Freddy Thamrin, dalam konferensi pers kinerja industri asuransi jiwa semester I 2019 di Jakarta, Rabu (11/9/2019). KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA(ki-ka) Kabid Marketing dan Komunikasi Wiroyo Karsono, Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon, Kabid Operasional dan Perlindungan Konsumen Freddy Thamrin, dalam konferensi pers kinerja industri asuransi jiwa semester I 2019 di Jakarta, Rabu (11/9/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kondisi pasar saat ini sedang bergejolak membuat proyeksi industri asuransi kedepannya belum bisa diterka.

Setelah diperkeruh dengan masalah gagal bayar produk JS Saving Plan dari asuransi Jiwasraya, kemunculan beberapa saham yang di suspend dari BEI dan OJK menjadi tanda tanya besar, mengenai perkembangan industri asutansi ke depannnya.

Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon mengatakan kemunculan kabar gagal bayar kasus asuransi yang marak nyatanya tidak berpengaruh pada sektor industri asuransi. Nyatanya industri asuransi tetap bertumbuh.

Baca juga: Sepanjang 2019, Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Tumbuh 18,7 Persen

"Bisnis asuransi jiwa tumbuh (2019), baik bisnisnya maupun renualnya. Kenapa begitu? Kami memandang positif saja. Masyarakat kita semakin dewasa dan sadar butuh asuransi," kata Budi di kantornya Rabu (11/2/2020).

Budi juga mengatakan, pelayanan industri asuransi kini juga semakin baik dan edukasi mengenai financial inclution terus berlanjut membuat industri asuransi masih berpeluang.

"Apakah pertumbuhan akan terus berlanjut? Kita lihat sama-sama," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Bidang R & D Pelaporan dan IT AAJI, Edy Tuhirman memproyeksikan pertumbuhan industri asuransi saat ini cukup sulit.

"Ini sangat sulit sekali. Kalau dulu kita bisa forcast 2 sampai 3 tahun kedepan. Sekarang bisa forcast 1 bulan kedepan saja sudah bagus. Tapi Kita lihat segemen jangka pendek mungkin berpengaruh. Tapi kalau yang jangka panjang mungkin tidak akan (berpengaruh)," katanya.

Edy juga mengatakan, dengan kondisi penyebaran wabah virus corona ini, maka demand daripada asuransi kesehatan akan positif. Namun tentunya ini adalah kondisi wabah yang baru, sehingga perlu dicermati lebih dalam.

"Dengan kondisi wabah virus corona ini, maka demand (asuransi) kesehatan akan bertambah tinggi. Saya melihatnya positif. Tapi jangan terlalu confidence. Karena kita belum pernah mengalami kondisi seperti ini," ungkapnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X