Ini Cara Mengatur Aset Alokasi Reksa Dana Dalam Segala Situasi Pasar

Kompas.com - 12/03/2020, 11:17 WIB
Ilustrasi pergerakan harga saham THINKSTOCKSIlustrasi pergerakan harga saham

KOMPAS.com - Kondisi pasar modal yang fluktuatif belakangan merupakan salah satu kesempatan yang tepat untuk mengevaluasi kembali portofolio investasi.

Apakah investor masih bisa tidur nyenyak dengan penurunan yang terjadi? Bagaimana sebaiknya mengatur aset alokasi yang ideal?

Bisa tidur dengan nyenyak pada saat hasil investasi negatif merupakan indikator paling nyata seseorang bisa menerima risiko pasar modal. Sebaliknya jika sudah tidak bisa tidur nyenyak berarti memang sebaiknya beralih ke instrumen yang lebih konservatif.

Pertanyaan mengenai toleransi risiko memang menjadi salah satu pertanyaan standar dalam formulir pembukaan rekening reksa dana. Namun ironisnya terkadang investor harus merasakan dulu penurunan 15-20 persen baru bisa menjawab dengan jujur apakah dia benar siap atau tidak.

Baca juga: Harga Minyak Anjlok, Belum Ada Penarikan Besar-besaran Reksa Dana

Investor yang tidak siap, ketika mendapatkan kenyataan bahwa hasil investasi telah turun 15 persen, 20 persen atau bahkan lebih, biasanya akan mengambil keputusan seperti menghentikan investasi berkala. Ada juga yang melakukan cutloss karena khawatir kerugian bertambah banyak.

Apakah tindakan di atas salah? Tentu tidak. Semua orang bisa memutuskan apa yang terbaik dan nyaman bagi dirinya sendiri. Namun untuk kategori investor ini, sangat disarankan untuk tidak masuk lagi ke jenis reksa dana saham pada saat pasar sudah membaik.

Sebab yang namanya pasar saham memang fluktuatif. Sekalipun sudah naik nanti, situasi penurunan seperti ini berpotensi kembali berulang.

Untuk itu, jika nantinya memutuskan untuk berinvestasi kembali, bisa memilih jenis reksa dana yang lebih konservatif seperti pasar uang, pendapatan tetap dan terproteksi dengan tetap memperhatikan risikonya.

Bagaimana dengan investor yang siap? Reaksinya juga beragam. Ada yang tetap cutloss karena kerugian telah mencapai batas risiko yang ditetapkan sejak awal.

Namun tidak sedikit juga yang tetap melanjutkan investasi berkala atau bahkan melakukan pembelian dalam jumlah besar karena saat ini harga reksa dana saham memang sedang terdiskon.

Diversifikasi Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Dollar AS

Terdapat juga sebagian investor tetap berinvestasi di reksa dana saham karena percaya akan prospek jangka panjang, namun pada saat yang sama melakukan diversifikasi ke reksa dana pendapatan tetap karena kinerja yang baik dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai gambaran kinerja tahunan antara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menjadi acuan reksa dana saham dan rata-rata reksa dana pendapatan tetap (RDPT) selama 5 tahun terakhir adalah sebagai berikut :

• Tahun 2015 IHSG -12,13 persen vs RDPT +3 persen
• Tahun 2016 IHSG +15,32 persen vs RDPT +8,02 persen
• Tahun 2017 IHSG +19,99 persen vs RDPT +10,72 persen
• Tahun 2018 IHSG -2,54 persen vs RDPT -2,20 persen
• Tahun 2019 IHSG +1,70 persen vs RDPT +9,00 persen
• Year to Date 11 Maret 2020 IHSG -17,12 persen vs RDPT +1,60 persen

Apakah diversifikasi ke reksa dana pendapatan tetap bisa menurunkan risiko? Tentu bisa. Sebagai contoh di tahun 2015 turun -12.13%, 2019 dimana IHSG hanya naik 1.7%, tahun 2020 hingga Maret IHSG turun -17.12%, reksa dana pendapatan tetap membukukan kinerja yang positif.

Namun pernah juga terjadi di tahun 2018, dimana IHSG dan reksa dana pendapatan tetap sama-sama turun. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai instrumen diversifikasi, reksa dana pendapatan tetap masih belum “sempurna” karena masih bisa sama-sama turun.

Masyarakat meyakini bahwa emas batangan merupakan salah satu instrumen diversifikasi yang baik. Sebagaimana yang terjadi pada saat ini dimana ketika pasar sedang gonjang ganjing, harga emas terus mengalami kenaikan.

Namun untuk Indonesia, menurut saya pasar untuk emas masih kurang efisien. Sebab untuk harga pembelian dan penjualan emas batangan masih dimonopoli oleh satu perusahaan. Kemudian pada prakteknya terdapat selisih yang cukup jauh antara harga penjualan dengan harga pembelian kembali.

Baca juga: Valuasi Saham Kian Murah, Reksa Dana Saham Bisa Dilirik

Dari aspek kenyamanan, membeli emas batangan agak repot karena tidak semua investor memiliki sarana untuk menyimpan secara fisik. Jika dititipkan, biasanya ada biaya bulanan yang harus ditanggung.

Selain emas, sebenarnya dari kacamata pasar modal, mata uang USD juga merupakan salah satu instrumen diversifikasi yang baik. Sebab sama seperti emas, ketika kondisi sedang kurang baik, biasanya mata uang USD juga menguat terhadap Rp

Sebagai gambaran nilai tukar USD berdasarkan kurs tengah BI pada akhir tahun 2019 adalah di sekitar 13.900. Pada bulan Maret 2020 ini telah naik ke 14.300an, sehingga investor yang membeli USD pada tahun lalu telah mengalami keuntungan.

Sebab USD lebih mudah dibeli dan disimpan dibandingkan emas batangan. Penjualan mata uang USD ke Rp juga selisih jauh seperti halnya harga jual beli emas.

Sebagai gambaran, kinerja antara IHSG, RDPT, dan Kurs USD terhadap Rp (berdasarkan Kurs Tengah BI) untuk periode yang sama adalah sebagai berikut :

• Tahun 2015 IHSG -12.13% vs RDPT +3% vs USD +10.92%
• Tahun 2016 IHSG +15.32% vs RDPT +8.02% vs USD -2.60%
• Tahun 2017 IHSG +19.99% vs RDPT +10.72% vs USD +0.83%
• Tahun 2018 IHSG -2.54% vs RDPT -2.20% vs USD +6.89%
• Tahun 2019 IHSG +1.70% vs RDPT +9.00% vs USD -4.01%
• Year to Date 11 Maret 2020 IHSG -17.12% vs RDPT +1.60% vs USD +3.04%

Dari data di atas, perlu disadari bahwa dollar AS juga bisa rugi sebagaimana yang terjadi pada tahun 2016 dan 2019. Namun yang menariknya adalah ketika IHSG negatif di tahun 2015, 2018 dan 2020 ini, dollar AS selalu positif.

Dengan kata lain, dollar AS merupakan instrumen diversifikasi yang lebih baik dibandingkan reksa dana pendapatan tetap. Sebab tidak pernah dalam IHSG dan dollar AS turun bersamaan.

Aset Alokasi

Untuk itu dalam melakukan aset alokasi untuk menyeimbangkan risiko di reksa dana saham, investor bisa mempertimbangkan reksa dana pendapatan tetap dan USD. Berapa bobot alokasi yang ideal?

Ini merupakan pertanyaan umum yang sering ditanyakan. Sayangnya tidak ada jawaban yang pasti karena profil risiko setiap investor berbeda. Untuk itu, bobot alokasi yang ideal sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko investor.

Tujuan dari aset alokasi adalah untuk mengurangi risiko dari reksa dana saham. Dengan demikian ketika investor membuat portofolio dengan aset alokasi katakan 30 persen reksa dana saham dan 70 persen reksa dana pendapatan tetap, harus diukur bagaiman risikonya jika 100 persen semuanya di reksa dana saham.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan menggunakan data IHSG, Rata-rata Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Kurs dollar AS dari tahun 2001 hingga Maret 2020, dengan menggunakan rata-rata perbandingan risiko 3 tahunan, risiko dari suatu portofolio Saham – Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Saham – Reksa Dana Pendapatan Tetap – USD terhadap risiko IHSG adalah sebagai berikut :

dok Rudiyanto reksa dana

Cara bacanya adalah sebagai berikut

• Sumbu X mendatar adalah bobot saham dalam portofolio. Angka 40 persen artinya sebanyak 40 persen dari investasi ditempatkan pada Saham

• Sumbu Y tegak lurus adalah risiko portofolio terhadap risiko IHSG. Angka 0,5 artinya kombinasi dari suatu portofolio memiliki risiko setara 0.5 kali dari IHSG. Misalkan IHSG turun 10 persen, ada kemungkinan portofolio bisa turun 5 persen

• Biru adalah portofolio dengan kombinasi Saham – Reksa Dana Pendapatan Tetap. Jika Saham 10 persen, maka 90 persen di Reksa Dana Pendapatan Tetap. Jika Saham 40% maka 60% di Reksa Dana Pendapatan Tetap

• Orange adalah portofolio dengan kombinasi Saham – Reksa Dana Pendapatan Tetap – dollar AS. Jika Saham 10 persen, maka 45 persen di Reksa Dana Pendapatan Tetap dan 45 persen di USD. Jika Saham 50 persen, maka 25 persen di Reksa Dana Pendapatan Tetap dan 25 persen di dollar AS.

Menggunakan contoh di atas, untuk kombinasi (biru) 10 persen Saham – 90 persen Reksa Dana Pendapatan Tetap, menghasilkan risiko 0,44 kali IHSG. Artinya jika investor memiliki aset alokasi tersebut dan pasar IHSG sedang turun 20 persen, maka kemungkinan portofolionya akan turun 0,44 x 20 persen = 8,8 persen.

Untuk kombinasi (orange) 50 persen Saham – 25 persen Reksa Dana Pendapatan Tetap – 25 persen USD, menghasilkan risiko 0,49 IHSG. Artinya jika investor memiliki aset alokasi tersebut dan pasar IHSG sedang turun 20 persen, maka kemungkinan portofolionya akan turun 0,49 x 20 persen = 9,8 persen.

Investor yang sudah merasakan ganasnya risiko di reksa dana saham tentu bisa menakar sendiri berapa besar penurunannya.

Jika memang dia nyamannya dengan risiko sekitar 0.7 kali dari IHSG, maka berdasarkan grafik di atas bisa memilih portofolio dengan 60 persen Saham – 40 persen Reksa Dana Pendapatan Tetap (Biru) atau 70 persen Saham – 15 persen Reksa Dana Pendapatan Tetap – 15 persen USD (Orange), karena memiliki risiko paling mendekati 0,7.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X