BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan OPPO

Jauhi Zona Nyaman, Rajin Berinovasi Bikin Blue Bird Terus Bertahan

Kompas.com - 16/03/2020, 12:02 WIB
Ilustrasi pengemudi Blue Bird dan armada taksi yang dikemudikan Dok. ShutterstockIlustrasi pengemudi Blue Bird dan armada taksi yang dikemudikan

JAKARTA, KOMPAS.com - Agar tak kalah bersaing dengan perusahaan rintisan (start up), perusahaan mapan perlu terus berinovasi agar bertahan di tengah perubahan.

Pelaku usaha dituntut adaptif dan lincah bergerak agar bertahan di tengah ketatnya persaingan.

Tulisan berjudul “Bahaya Berada di Zona Nyaman” yang ditulis Tjahja Gunawan Diredja di Kompas.com (11/09/2012) mengatakan, tidak ada pertumbuhan di zona nyaman (comfort zone) dan tidak ada kenyamanan dalam zona pertumbuhan.

Hal itu diamini Indra Priawan Djokosoetono, cucu pendiri taksi Blue Bird yang kini meneruskan usaha yang dirintis neneknya, almarhum Mutiara Fatimah Djokosoetono.

Baca juga: Menyusul Tesla dan BYD, Prius PHEV Sedang Diincar Jadi Taksi Blue Bird

Indra mengatakan, perusahaan yang mampu mempertahankan eksistensinya adalah perusahaan yang tak berada di comfort zone. Dengan begitu, menurut Indra, managemen perusahaan selalu terpacu berpikir untuk terus berinovasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Menghindari comfort zone adalah salah satu cara untuk selalu berinovasi dan terus memperbaiki apa yang bisa diperbaiki dari service (layanan) yang diberikan,” kata Indra kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Mengawali tonggak operasinya pada 1972, Blue Bird memilih mobil Holden Torana pabrikan Australia sebagai armada generasi awal.

Mengutip artikel Kompas.com (10/02/2015), kala itu mobil merek Jepang belum jadi pemain dan masih didominasi merek asal Amerika dan Eropa.

Baca juga: Antisipasi Virus Corona, Blue Bird Lakukan Langkah Ini

Berbeda dengan taksi modern, Holden Torana bahkan belum memiliki power steering dan Air Conditioner (AC).

Sistem hitung ongkos berdasarkan kilometer pada masa itu masih menggunakan alat mekanis. Para pengemudi taksi Blue Bird sering menyebutnya dengan istilah “argo jewer”.

Bukan tanpa alasan mitra pengemudi menyematkan istilah itu. Untuk menyalakan ‘argo jewer’, pengemudi harus ‘menjewer’ alat itu terlebih dahulu.

Indra mengatakan, sistem argo yang dianut Blue Bird kala itu merupakan bukti bahwa taksi yang dirintis keluarganya merupakan taksi pioner pengguna argo.

Baca juga: Blue Bird Kembalikan 15.884 Barang Tertinggal ke Penumpang Sepanjang 2019

“Kami dari dulu selalu menjadi pencetus. Kayak dulu Indonesia belum ada taksimeter, kami jadi taksimeter pertama,” terang Indra.

Pelopor layanan eksekutif

Dalam berinovasi, Blue Bird tak berhenti di situ saja. Ketatnya persaingan bisnis taksi, mendorong Blue Bird menjadi pelopor dengan layanan eksekutif.

“Saat di Indonesia belum ada taksi eksekutif, Blue Bird menjadi taksi eksekutif pertama di Indonesia,” ujarnya.

Pria yang pernah menjabat sebagai manajer operasional Blue Bird itu menjelaskan, Blue Bird jadi taksi pertama di Indonesia yang menggunakan mobil Mercy (Mercedes-Benz).

Baca juga: Bahan Dasar Sirih, Ini Inovasi Hand Sanitizer Teknologi Nano Dosen UGM

Saat kompetitor lain dan taksi taksi online mulai bermunculan, lanjut Indra, banyak kritik yang diterima Blue Bird.

Kritik tersebut khususnya berkaitan soal kemudahan sistem pemesanan melalui aplikasi.

Pihaknya pun merespons dengan menelurkan aplikasi My Blue Bird yang memudahkan pelanggan memesan taksi secara online.

“Banyak kritik yang meminta kami agar order taksi menjadi lebih mudah, sistem aplikasi yang lebih bagus, serta kedatangan taksi yang lebih cepat,” ungkapnya.

Baca juga: Inovasi Siswa SMAN 2 Sampit, Manfaatkan Air Gambut dan Kulit Nanas jadi Listrik

Indra beranggapan kritik-kritik seperti itu yang akhirnya menjadikan Blue Bird sebagai technology driven company (perusahaan berbasis teknologi).

“Bukan hanya conventional base company (perusahaan berbasis sistem konvesional), tapi menjadi technology driven company,” jelas Indra.

Blue Bird merupakan perusahaan perusahaan taksi pertama di Indonesia yang menyediakan layanan taksi eksekutif.Dok. Shutterstock Blue Bird merupakan perusahaan perusahaan taksi pertama di Indonesia yang menyediakan layanan taksi eksekutif.

Kritik-kritik yang bersifat detail dinilai Indra sebagai salah satu pendorong lahirnya inovasi Blue Bird.

“Contohnya pengemudi mulanya enggak pakai sepatu, akhirnya mendorong kami membuat kebijakan semua pengemudi Blue Bird harus berpenampilan rapi. Termasuk menggunakan sepatu pantofel, celana hitam, dan pakai baju batik yang rapi,” terangnya.

Baca juga: 5 Fitur Andalan Oppo Find X2 dan Find X2 Pro

Pengemudi yang berpenampilan rapi dan bersih, menurut Indra, mencerminkan Blue Bird sebagai perusahaan profesional.

“Jadi kritik-kritik kecil yang tampak sederhana itu sangat membangun dalam melahirkan inovasi untuk memberikan kepuasan dan membangun kepercayaan pelanggan,” katanya.

Inovasi tanpa henti

Sebagai salah satu pimpinan sekaligus pemegang saham Blue Bird Group, Indra memacu dirinya untuk terus berinovasi. Salah satunya dengan membaca.

“Di era digital ini, inovasi dan new things (hal baru) bergulir cepat sekali. Langkah untuk dapat adaptasi terhadap perubahan adalah harus banyak baca, banyak belajar dari orang lain,” ungkap Indra.

Baca juga: Oppo Find X2 dan X2 Pro Punya Chip Khusus untuk Layar, Fungsinya?

Ia mengatakan, buku berbagai topik tak luput untuk dibaca. Bacaannya pun tak cuma bertumpu pada bidang engineering (teknik) seperti yang digelutinya saat kuliah di jurusan Teknik Industri Universitas Indonesia (UI).

PT Blue Bird Tbk (BIRD) memperkenalkan armada taksi mobil listrik yang diberi nama e-Taxi. Ini merupakan salah satu inovasi yang digagas Blue Bird untuk membirukan langit Indonesia.Dok. Shutterstock PT Blue Bird Tbk (BIRD) memperkenalkan armada taksi mobil listrik yang diberi nama e-Taxi. Ini merupakan salah satu inovasi yang digagas Blue Bird untuk membirukan langit Indonesia.

Menurutnya, membaca dapat membuka mata terhadap kondisi dunia di era global.

Pengetahuan terhadap isu terkini merupakan salah satu faktor penting dalam berinovasi.

“Dengan melek terhadap perkembangan industri-industri lain, tren perkembangan teknologi, dan juga consumer behavior (perilaku konsumen), maka hal positif yang bisa dipetik dapat diterapkan di bidang transportasi,” imbuhnya.

Baca juga: Video: Hands-on Oppo Find X2 dan X2 Pro

Gairah inovasi yang dimiliki pria lulusan pascasarjana Hult International Business School, Amerika Serikat itu ditularkan pada tim yang dipimpinnya.

Memberikan kebebasan dalam menyampaikan pendapat pada rekan kerja merupakan salah satu kunci dirinya memotivasi timnya untuk berinovasi.

“Saya tidak ingin rekan kerja saya seolah bekerja untuk kami (Blue Bird), tetapi bekerja untuk hal yang mereka cintai,” jelas Indra.

Indra menilai, penerapan pola kepemimpinan yang egaliter atau sederajat, justru berdampak signifikan terhadap kinerja tim yang dipimpinnya.

Baca juga: Spesifikasi serta Harga Oppo Find X2 dan Find X2 Pro di Indonesia

“Dengan pola ini, setiap orang tak merasa segan atau takut menyampaikan idenya. Gagasan-gagasan yang diutarakan akan ditampung sebagai bahan ide inovasi selanjutnya,” kata Indra.

Teknologi terdepan

Sebagai pebisnis muda, diakuinya tak dapat lepas dari teknologi bernama internet.
Indra beranggapan, kehadiran internet memberikan peluang yang sama bagi setiap orang untuk mengambil peran dalam ekonomi digital.

“Kehadiran internet tak bisa dinafikkan (diingkari), khususnya dalam kemudahan berkomunikasi. Saya harus bergerak cepat dan butuh komunikasi yang cepat pula dalam berbisnis,” tuturnya.

Mobilitasnya yang tinggi membutuhkan ketepatan dan teknologi mobile terdepan.

Baca juga: Kamera Oppo Find X2 Pro Jadi yang Terbaik Versi DxOMark

Menurut Indra, aktivitas dalam kesibukan sehari-hari yang lancar bisa menjadi kunci utama kesuksesan dalam berinovasi.

Oleh karena itu, ia butuh device (alat) yang tepat untuk mengakomodir hal itu seperti Oppo Find X2.

Lahir dengan ‘DNA’ inovasi teknologi, Oppo Find X2 selalu menemukan inovasi dan tren baru pada kesempurnaan mobilitas dalam teknologi, dengan menggunakan layar 2K dengan refresh rate 120 Hz serta 10-bit color depth.

Dengan konektivitas 5G & SuperVOOC 65W Flash Charge charging hanya 30 menit, Find X2 menjadi teknologi pendukung aktivitas pelaku bisnis menjadi jauh lebih cepat.

Baca juga: Membandingkan Oppo Find X2 dan Find X2 Pro, Apa Saja Bedanya?

Oppo Find X2 merupakan device yang bisa memenuhi kebutuhan kehidupan saya dalam dunia bisnis, professional, hingga entertaiment,” ujar Indra.

“Menjadi yang pertama merasakan rancangan smartphone terbaru Find Series yang sempurna, mencerminkan diri saya yang selalu ingin bernovasi,” katanya.

 

 


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.