Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siap Bawa Xendit Jadi Unicorn, Co-Founder Fintech Ini Punya Mimpi dan Visi Khusus

Kompas.com - 24/03/2020, 07:03 WIB
Kurniasih Budi

Penulis

Titik awal

Ia pun memutar kembali ingatannya ke masa lalu. Saat berusia 12 tahun, Moses pertama kali membongkar komputernya dan berhasil memasangnya kembali.

Momentum itulah menjadi awal kecintaan Moses Lo terhadap komputer dan perangkat lunak.

Ia pun mendapatkan informasi mengenai sistem cadangan fraksional (fractional reserve banking), di mana bank-bank komersial dapat secara efektif meningkatkan pasokan uang di luar uang pokok yang dibuat oleh bank sentral.

Menurutnya pada saat itu, sistem tersebut amat menarik untuk mencetak lebih banyak uang.

“Dua minat ini terus tumbuh dalam diri saya. Maka dari itu, saya memilih untuk belajar sistem informasi dan juga keuangan saat di bangku kuliah. Saya selalu ingin berada di antara dua hal yang saya minati, yaitu teknologi dan keuangan.”

Tumbuh di dalam keluarga yang sangat menghargai etika kerja, ia pun percaya bahwa dalam mengerjakan sesuatu ia menerapkan prinsip “Everything is a game, play it different”.

Prinsip itu memang pernah ia terapkan saat menghadapi kompetisi public speaking di masa kecilnya.

Bersama ibunya, Moses membedah aturan kompetisi dan mencoba memainkan permainan secara berbeda, dibandingkan dengan bagaimana kebanyakan orang memainkannya.

“Melalui cara ini, saya dapat meraih kemenangan di kompetisi public speaking tersebut, walaupun saya tidak memiliki bakat public speaking yang alami. Startup juga adalah tentang berkompetisi, namun dengan cara yang berbeda,” tuturnya.

Tantangan awal

Membangun bisnis startup ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Persoalan pertama yang ia hadapi adalah product market-fit.

Ia menjelaskan, seringkali startup tidak punya gambaran yang jelas apa yang diinginkan pelanggan dan apakah produk yang ditawarkan ini dibutuhkan pelanggan.

“Sebagian besar startup tidak melakukan ini. Mereka membangun aplikasi yang mereka inginkan, lalu berharap mereka dapat menjualnya ke publik. Maka dari itu, lebih baik mencari tahu dulu baru membuat sesuatu,” ucapnya.

Kendala selanjutnya yakni mencari orang yang tepat dan berbakat di tengah persaingan dengan unicorn-unicorn di Indonesia.

Baca juga: Menristek: Startup Pendidikan dan Kesehatan Berpotensi Jadi Unicorn

Ia pun menyampaikan tawaran kepada sekelompok teman tentang keunggulan Xendit.

“Kami mengatakan bahwa kami belajar coding dari UC Berkeley. Kami tidak dapat membayar Anda lebih banyak dari perusahaan lain, tetapi kami dapat pastikan bahwa Anda akan bekerja dengan teman-teman terbaik,” ujarnya..

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com