Gubernur BI: Kondisi Ekonomi Saat Ini Berbeda dengan Krisis 2008 dan 1998

Kompas.com - 26/03/2020, 15:35 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo update perkembangan moneter terkini melalui konfrensi video, Jakarta, Kamis (26/3/2020). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIGubernur BI Perry Warjiyo update perkembangan moneter terkini melalui konfrensi video, Jakarta, Kamis (26/3/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan kondisi perekonomian Indonesia saat ini berbeda dengan krisis global yang terjadi tahun 2008 maupun krisis Asia 1998.

Hal itu disampaikan oleh Perry melalui konferensi video, Jakarta, Kamis (26/3/2020).

"Yang terjadi (kondisi ekonomi saat ini) sangat berbeda dengan krisis global 2008, apalagi dengan krisis Asia (1998)," ujarnya.

Baca juga: Di Tengah Wabah Corona, Pemerintah Dapat Rp 6,6 Triliun dari Lelang Sukuk

Pada krisis global, itu yang terjadi adalah bagaimana pasar keuangan di Amerika karena ada subline mortgage yang kemudian itu menjadi default dan terjadi kepanikan di pasar Amerika, kemudian menjalar ke Eropa dan kita kena dampaknya," sambung dia.

Saat ini lanjut Perry, kondisi yang terjadi yakni para investor asing memilih untuk melepas asetnya pada dua pekan lalu. Hal ini disebabkan oleh adanya wabah virus corona (Covid-19).

Cepatnya pandemi virus corona yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa membuat banyak kekhawatiran.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Perry mengatakan pasar keuangan global panik menyusul pandemi virus corona yang begitu cepat.

Baca juga: Terimbas Virus Corona, Industri Penerbangan Terpuruk

Akhirnya para pemilik dana global melepas atau menjual aset-aset keuangannya mulai dari saham, obligasi hingga emas,

"Di Amerika, di Eropa, kita tidak hanya dengar jumlah kasus tapi kematian di Italia lebih tinggi dari China. Begitu pula dengan Jerman, Prancis, Spanyol dan Inggris. Tadi malam saya baca Prince Charles juga positif," kata dia.

Sebelumnya, Perry mengatakan, aliran modal asing yang keluar dari Indonesia sepanjang awal Januari-pekan ketiga Maret 2020 mencapai Rp 125,2 triliun (year to date/ytd).

Baca juga: Ada 9 Negara Eropa yang Berencana Terbitkan Obligasi Corona, Apa Itu?

BI merinci, sejak awal tahun 2020, aliran modal asing keluar yang berasal dari SBN mencapai Rp 112 triliun, kemudian dari saham Rp 9,2 triliun.

"Aliran modal asing yang keluar dari Indonesia pada tahun ini. Secara total tahun ini terjadi aliran modal asing yang keluar baik dari SBI, SBN, obligasi korporasi, dan saham totalnya sebesar Rp 125,2 triliun," katanya melalui konferensi video, Jakarta, Selasa (24/3/2020).

Baca juga: Cegah Virus Corona, BI Karantina dan Ganti Uang yang Beredar



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.