Pendapatan Negara di 2020 Diperkirakan Anjlok 10 Persen Akibat Corona

Kompas.com - 06/04/2020, 17:00 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ketika memberikan keterangan kepada media melalui video conference di Jakarta, Selasa (24/3/2020). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ketika memberikan keterangan kepada media melalui video conference di Jakarta, Selasa (24/3/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan pendapatan negara bakal mengalami tekanan hingga akhir tahun.

Menurut dia, pendapatan negara pada APBN 2020 bakal mengalami penurunan 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan perekonomian yang diperkirakan hanya tumbuh 2,3 persen hingga akhir tahun, penerimaan negara hanya mencapai Rp 1.760,9 triliun atau 78,9 persen dari target APBN 2020 yang sebesar Rp 2.233,2 triliun.

"Dengan kebijakan fiskal untuk siap mendukung dan membuat masyarakat maupun ekonomi dan negara bisa merespons, baik pusat dan daerah, maka sudah bisa diprediksi APBN kita mengalami tekanan luar biasa," ujar Bendahara Negara itu ketika melakukan video conference ketika melakukan rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI melalui video conference, Senin (6/4/2020).

Baca juga: Akibat Corona, Modal Asing Rp 171,6 Triliun Kabur hingga Rupiah Ambrol

Sri Mulyani mengatakan, penerimaan perpajakan (pajak dan bea cukai) turun 5,4 persen dibandingkan tahun lalu.

Dengan rincian, penerimaan pajak yang dikelola Ditjen Pajak akan turun 5,9 persen, sementara penerimaan bea cukai juga akan turun 2,2 persen di tahun ini.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan, penurunan pendapatan perpajakan disebabkan oleh kegiatan ekonomi yang mengalami tekanan dan harga minyak dunia yang juga terus menurun.

Selain itu di sisi lain, pemerintah juga mengguyur insentif pajak kepada dunia usaha yang turut menekan pendapatan perpajakan.

Di sisi penerimaan bea dan cukai, berkurangnya pendapatan disebabkan oleh stimulus pembebasan bea masuk untuk 19 industri.

Untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) diperkirakan turun 26,5 persen dari realisasi tahun lalu. Sri Mulyani menyebut, salah satu penyebab penurunan itu karena adanya perubahan asumsi ICP yang lebih rendah dari target APBN 2020.

Di sisi lain, Sri Mulyani mengatakan belanja negara akan mengalami lonnjakan dari target APBN 2020 yang sebesar RP 2.540,4 triliun menjadi Rp 2.613,8 triliun,

Hal tersebut menyebabkan defisit APBN yang tahun ini ditargetkan sebesar 1,76 persen dari PDB atau sebesar Rp 307,2 triliun melebar menjadi Rp 853 triliun atau 5,07 persen dari PDB.

Defisit APBN yang melebar itu juga akan meningkatkan pembiayaan sebesar Rp 545,7 triliun, yang terdiri dari pembiayaan utang Rp 654,5 triliun dan pembiayaan non utang Rp 108,9 triliun.

Sri Mulyani pun mengatakan pembiayaan utang akan dipenuhi dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dan penarikan pinjaman.

"Pembiayaan ini akan kami upayakan mendapatkan financing dari berbagai sumber yang paling aman dan tingkat biaya paling kecil, terutama pertama dari SAL (Sisa Anggaran Lebih), kita bahkan sudah akan pertimbangkan seluruh dana abadi pemerintah dan dana-dana yang dikelola BLU sudah masuk first line financing untuk pembiayaan yang diperkirakan meningkat," ujar dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dengan Industri 4.0, Pemerintah Yakin Indonesia Masuk 10 Besar Negara Ekonomi Terkuat

Dengan Industri 4.0, Pemerintah Yakin Indonesia Masuk 10 Besar Negara Ekonomi Terkuat

Whats New
Ini Skema Penghitungan THR Lebaran 2021

Ini Skema Penghitungan THR Lebaran 2021

Whats New
Awal Perdagangan Hari Pertama Puasa,  IHSG dan Rupiah Melemah

Awal Perdagangan Hari Pertama Puasa, IHSG dan Rupiah Melemah

Whats New
Turun Rp 2.000, Ini Rincian Harga Emas Antam Mulai dari 0,5 Gram hingga 1 Kg Terbaru

Turun Rp 2.000, Ini Rincian Harga Emas Antam Mulai dari 0,5 Gram hingga 1 Kg Terbaru

Whats New
2 Hari Lagi Hangus, Peserta Prakerja Gelombang 14 Buruan Beli Pelatihan Pertama!

2 Hari Lagi Hangus, Peserta Prakerja Gelombang 14 Buruan Beli Pelatihan Pertama!

Whats New
Bisnis Kebutuhan Muslim di Indonesia Tak Gentar Lawan Pandemi

Bisnis Kebutuhan Muslim di Indonesia Tak Gentar Lawan Pandemi

BrandzView
THR 2021 Wajib Dibayar Penuh, Buruh Minta Kemenaker Tegas

THR 2021 Wajib Dibayar Penuh, Buruh Minta Kemenaker Tegas

Whats New
IHSG Masih Merah? Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

IHSG Masih Merah? Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Whats New
Disebut Beri Upah Rendah ke Kurir, Shopee: Insentif Mitra Sangat Kompetitif

Disebut Beri Upah Rendah ke Kurir, Shopee: Insentif Mitra Sangat Kompetitif

Whats New
Duo Pendiri Google Akhirnya Masuk Klub 100 Miliar Dollar AS

Duo Pendiri Google Akhirnya Masuk Klub 100 Miliar Dollar AS

Whats New
Grab dan Traveloka Bakal Segera Melantai di Bursa Saham AS

Grab dan Traveloka Bakal Segera Melantai di Bursa Saham AS

Whats New
Punya Banyak Dompet Digital? Kelola dengan 5 Cara Ini agar Tidak Boros

Punya Banyak Dompet Digital? Kelola dengan 5 Cara Ini agar Tidak Boros

Spend Smart
[POPULER MONEY] Hal yang Perlu Diketahui dalam Pendaftaran CPNS dan PPPK | Denda dan Sanksi bagi Perusahaan yang Telat Bayar THR

[POPULER MONEY] Hal yang Perlu Diketahui dalam Pendaftaran CPNS dan PPPK | Denda dan Sanksi bagi Perusahaan yang Telat Bayar THR

Whats New
Pertamina Tetapkan Belanja Modal Rp 156 Triliun, untuk Apa Saja?

Pertamina Tetapkan Belanja Modal Rp 156 Triliun, untuk Apa Saja?

Whats New
Mudik Lebaran Dilarang, Ini Tanggapan Pengusaha Makanan

Mudik Lebaran Dilarang, Ini Tanggapan Pengusaha Makanan

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X