BI Pastikan Cadangan Devisa Cukup untuk Stabilisasi Rupiah

Kompas.com - 06/04/2020, 17:32 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan cadangan devisa saat ini lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah meski ada penurunan akibat wabah virus corona (Covid-19).

Untuk itu, BI belum memiliki rencana untuk mengadopsi langkah Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) alias pertukaran mata uang bilateral dengan beberapa bank sentral dunia.

"Kami sampaikan jumlah cadangan devisa saat ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan impor, pembayaran utang pemerintah, maupun langkah-langkah stabilisasi nilai tukar," kata Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2020).

Baca juga: Pertamina Buka Lowongan Besar-besaran untuk Lulusan S1 dan D3

Bahkan Perry menyebut, kondisi likuiditas lebih dari cukup. BI sendiri telah menginjeksi likuiditas sebesar Rp 300 triliun.

Namun, pihaknya tak menutup kemungkinan untuk membuka peluang BCSA ke depan sebagai bantalan kedua.

BCSA sendiri merupakan kesepakatan antara kedua bank sentral untuk menukarkan mata uang dengan menetapkan jumlah uang yang ditukarkan beserta bunga.

BCSA memungkinkan negara-negara dalam perjanjian menyepakati untuk menggunakan satu nilai tukar saat bertransaksi sehingga tak terpengaruh dengan apresiasi maupun depresiasi dollar AS.

Baca juga: Menaker: Total Pekerja Dirumahkan Maupun PHK Capai 130.456 Orang

"Kami punya fasilitas setara 30 miliar dollar AS dengan Tiongkok, 22,76 miliar dollar AS Jepang, 10 miliar dollar AS Korea Selatan, dan 7 miliar dollar AS Singapura," ungkap Perry.

Sebelumnya, Bank Indonesia ( BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2020 mencapai 130,4 miliar dollar AS atau setara Rp 1.840 triliun.

Cadangan devisa per akhir Februari 2020 lebih rendah dibandingkan posisi per akhir Januari 2020 yang mencapai 131,7 miliar dollar AS. 

Baca juga: BI: Kondisi Ekonomi akibat Corona Beda dengan Krisis 2008

Bank sentral menyatakan, penurunan cadangan devisa pada Februari 2020 tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Namun, posisi cadangan devisa yang menurun itu masih cukup setara dengan pembiayaan 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Baca juga: Erick Thohir: 2.411 Tempat Tidur di RS BUMN Siap Tampung Pasien Covid-19

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tesla Beli Nikel ke Perusahaan China di Morowali, Apa Untungnya Buat RI?

Tesla Beli Nikel ke Perusahaan China di Morowali, Apa Untungnya Buat RI?

Whats New
Tingkat Imbalan Sukuk Negara yang Akan Dilelang Besok

Tingkat Imbalan Sukuk Negara yang Akan Dilelang Besok

Spend Smart
Moncer di FIME 2022, Produk Medis Indonesia Raih Potensi Transaksi 5,7 Juta Dollar AS

Moncer di FIME 2022, Produk Medis Indonesia Raih Potensi Transaksi 5,7 Juta Dollar AS

Rilis
Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp 14.876 Per Dollar AS

Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp 14.876 Per Dollar AS

Whats New
Diminta Sediakan Tiket Pesawat dengan Harga Terjangkau, Ini Kata Citilink

Diminta Sediakan Tiket Pesawat dengan Harga Terjangkau, Ini Kata Citilink

Whats New
Kembangkan Bisnis UMKM, Peran Swasta dan BUMN Sangat Dinanti

Kembangkan Bisnis UMKM, Peran Swasta dan BUMN Sangat Dinanti

Whats New
Apa Sumber Kekuatan IKM Bertahan di Masa Pandemi dan Ancaman Resesi Global?

Apa Sumber Kekuatan IKM Bertahan di Masa Pandemi dan Ancaman Resesi Global?

Whats New
Tekan Gap Kebutuhan Gula Konsumsi, Kemenperin: Produksi Terus Digenjot

Tekan Gap Kebutuhan Gula Konsumsi, Kemenperin: Produksi Terus Digenjot

Rilis
Semester I-2022, Laba Bersih UOB Group Naik Tipis

Semester I-2022, Laba Bersih UOB Group Naik Tipis

Rilis
Bangkit Jelang Penutupan, IHSG Ditutup Menguat Tipis

Bangkit Jelang Penutupan, IHSG Ditutup Menguat Tipis

Whats New
Tingkatkan Produksi Blok Rokan, PHR Punya Pusat Digitalisasi DICE

Tingkatkan Produksi Blok Rokan, PHR Punya Pusat Digitalisasi DICE

Whats New
Jaga Ketahanan Energi Nasional, Pertamina Maksimalkan Kinerja Operasi

Jaga Ketahanan Energi Nasional, Pertamina Maksimalkan Kinerja Operasi

Whats New
Ini Alasan SRO Ajak Investor Tingkatkan Transaksi di Pasar Modal pada 9 Agustus 2022

Ini Alasan SRO Ajak Investor Tingkatkan Transaksi di Pasar Modal pada 9 Agustus 2022

Whats New
Hubungan China dan Taiwan Memanas, RI Dinilai Bisa Lakukan Penetrasi Ekspor

Hubungan China dan Taiwan Memanas, RI Dinilai Bisa Lakukan Penetrasi Ekspor

Whats New
Buruh Tembakau Surati Jokowi, Memohon Revisi Aturan Pengendalian Rokok Dihentikan

Buruh Tembakau Surati Jokowi, Memohon Revisi Aturan Pengendalian Rokok Dihentikan

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.