Curhat Luhut, dari Jadi Prajurit hingga Wejangan Gus Dur...

Kompas.com - 10/04/2020, 11:52 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar pandjaitan menjawab beberapa pertanyaan terkait tindakan pemerintah tangani virus corona di akun Instagramnya, Selasa (24/3/2020). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIMenko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar pandjaitan menjawab beberapa pertanyaan terkait tindakan pemerintah tangani virus corona di akun Instagramnya, Selasa (24/3/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sekaligus Pelaksana tugas sementara Menteri Perhubungan, Luhut Binsar Pandjaitan menceritakan kisah hidupnya.

Ini menyusul kritikan yang dilontarkan mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu.

Melalui laman Instagramnya, dia masih mengingat janji dan sumpah prajurit serta Sapta Marga yang sempat disindir oleh Said Didu.

Baca juga: Soal PSBB dan Mudik, Luhut Koordinasi Intensif dengan Pemda

Luhut bercerita ketika dia menjadi prajurit selama 30 tahun, kehilangan anak buah semasa bertempur di Timor Timur, hingga menjadi asing di mata anaknya yang pertama bernama Uli.

"Sapta Marga mengajarkan saya untuk terus membela kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Saya terbiasa untuk tidak mudah memasukkan semua kritik ke dalam hati karena saya senang mendapat masukan juga kritik yang membangun dari siapa saja," tulis Luhut dalam unggahan pada akun Instagram pribadinha, Jumat (10/4/2020).

"Saya selalu mempersilahkan siapapun yang ingin menyampaikan kritik untuk datang dan duduk bersama mencari solusi permasalahan bangsa. Bukan melempar ucapan yang menimbulkan kegaduhan tanpa fokus pada inti permasalahan," sambung tulisan tersebut.

Bahkan, dia tak habis pikir, di tengah kondisi pandemi virus corona (Covid-19) saat ini, ujaran kebencian dan fitnah masih ada malah melampaui batas.

Baca juga: Pengusaha Tambang hingga Juragan Tanah, Ini Profil Kekayaan Luhut

"Mengapa kita masih diliputi dengan sentimen sektarian di saat seluruh anak bangsa harusnya bersatu melawan musuh bersama yaitu virus corona, yang mengancam kesehatan serta keselamatan seluruh masyarakat Indonesia? Mengapa kita malah terus-terusan mencari perbedaan, tanpa sedikitpun berpikir persatuan?" tanyanya.

Di dalam curhatannya tersebut, mendiang Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur juga disebut-sebut. Sebab, Luhut teringat akan wejangannya.

"Momen seperti ini membuat saya rindu kepada almarhum Gus Dur yang semangat positifnya selalu menginspirasi setiap langkah saya menjalani hidup sebagai pejabat negara. Dari Gus Dur pula saya belajar bahwa perbedaan dan kritik pasti ada dan tidak bisa dihilangkan, karena perbedaan itu lahir bersama kita," ujarnya.

Baca juga: Tak Ada Permintaan Maaf, Luhut Ngotot Tuntut Said Didu ke Jalur Hukum

"Wejangan Gus Dur inilah yang membuat saya selalu berprinsip bahwa persaudaraan antar anak bangsa harus di kedepankan," sambung Luhut.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X