PT Timah Punya Utang Jatuh Tempo Rp 8,79 Triliun yang Jatuh Tempo Tahun Ini

Kompas.com - 16/04/2020, 12:38 WIB
ilustrasi rupiah thikstockphotosilustrasi rupiah

JAKARTA, KOMPAS.com - Ada yang menarik dalam laporan keuangan PT Timah Tbk (TINS) tahun 2019. Dipublikasikan Rabu 15/4/2020, perusahaan negara dengan kode saham TINS itu merugi Rp 611,28 miliar.

Bukan hanya itu saja, manajemen TINS harus berjibaku untuk bisa melunasi utang jangka pendeknya. Sebagaimana dikutip dari Kontan.co.id, Kamis (16/4/2020), TINS memiliki utang yang akan jatuh tempo tahun ini. Totalnya mencapai Rp 8,79 triliun.

Dalam laporan keuangan TINS yang diunggah di laman Bursa Efek Indonesia, utang TINS tercatat di bank-bank swasta dan juga bank milik negara.

Baca juga: PT Timah Revisi Laporan Keuangan, Ada Apa?

Dalam daftar utang dari kreditur jangka pendek perinciannya sebagai berikut;

Utang dalam mata uang rupiah:

1. MUFG dengan pinjaman sebesar Rp 1,08 triliun
2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 1,5 triliun
3. PT CIMB Niaga Tbk(CIMB) Rp 1 triliun
4. PT Bank Permata Tbk (BNLI) Rp 500 miliar

Utang dengan mata uang dollar AS:

1. MUFG setara rupiah Rp 875,76 miliar
2. Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) setara rupiah Rp 556,04 miliar
3. PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB) sebanyak Rp 396, 18 miliar
4. Bank DBS Indonesia setara dengan Rp 139 miliar

Total utang ke pihak ketiga itu sebesar Rp 6,05 triliun.

Utang lain dari pihak berelasi, dalam mata uang rupiah Rp 2,07 trliun dan dalam dollar AS yang setara rupiah sebesar Rp 668 miliar. Alhasil, utang jangka pendek TINS sebesar Rp 8,79 triliun.

Adapun perincian jatuh tempo utang-utang tersebut di tahun ini sebagai berikut:

Utang ke Bank Mandiri (BMRI) cabang Eropa dan Hong Kong dengan jatuh tempo bervariasi mulai Februari, Mei, dan Juni 2020.

Tercatat utang TINS di BMRI adalah utang modal kerja Rp 1,53 triliun dan US$ 85 juta akan jatuh tempo 28 Juni 2020. Utang ini memiliki bunga antara 3,5 persen sampai 8,6 persen per tahun.

Utang itu belum termasuk utang di Bank Mandiri cabang Hong Kong dan Eropa serta utang ke PT Bank Mandiri Syariah sebesar Rp 500 miliar.

Khusus utang Bank Mandiri Eropa untuk sebesar 12 juta dollar AS telah mendapatkan relaksasi berupa perpanjangan tenor. Jatuh tempo pinjaman ini dimundurkan 1 tahun ke 2 Februari 2021 dengan tingkat bunga 2,75 persen.

Adapun fasilitas pinjaman dari PT Bank Central Asia Tbk(BBCA) senilai Rp 1,5 triliun akan jatuh tempo pada 28 Juli 2020 dengan tingkat suku bunga 7,7 persen.

Baca juga: Erick Thohir Ungkap Ada Bos BUMN yang Tak Mengerti Laporan Keuangan

Sementara utang di BTPN Rp 1 triliun yang jatuh tempo 30 November 2020 dengan tingkat suku bunga 7,98-8,08 persen serta bunga 3,15 persen-3,25 persen atas utang dollar AS.

Utang PT Timah ke CIMB sebesar Rp 1,4 triliun dengan bunga 8,25% jatuh tempo pada 12 April lalu.

Adapun Utang ke Bank Permata atau BNLI akan jatuh tempo pada 27 Juni 2020 nanti. Besaran utang ke BNLI sebesar Rp 500 miliar dengan bunga 8,2 persen.

Tak hanya itu saja, utang obligasi dan sukuk yang masuk dalam kewajiban jangka pendek Timah mencapai Rp 600 miliar.

Jumlah ini terdiri dari obligasi penerbitan tahun 2017 I Seri A sebesar Rp480 miliar dengan tingkat bunga 8,5% dan sukuk ijarah penerbitan tahun 2017 I Seri A senilai Rp120 miliar. Keduanya akan jatuh tempo 28 September 2020.

Kinerja Keuangan

Sepanjang tahun 2019, PT Timah membukukan pendapatan sebesar Rp 19,3 triliun naik 75,13 persen dari pendapatan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 11,02 triliun.

Kenaikan pendapatan ditopang kenaikan penjualan logam timah dari Rp 9,74 triliun menjadi Rp 17,72 triliun pada tahun 2019.

Pendapatan dari tin solder sebanyak Rp 381,71 miliar, tin chemical Rp 335,02 miliar, pendapatan dari aluminium Rp 316,23 miliar, dan pendapatan bisnis rumah sakit Rp 222,37 miliar, bisnis real estat Rp 210,84 miliar, penjualan nikel Rp 74,00 miliar, jasa galangan kapal Rp 36,44 miliar, dan lain-lain sebesar Rp 178 juta.

Hanya, kenaikan pendapatan perusahaan tersebut juga diiringi beban pendapatan usaha Timah yang melonjak 82,79 persen menjadi Rp 18,17 triliun dari beban pendapatan usaha 2018 Rp 9,94 triliun.

Di sisi lain, beban umum dan administrasi juga naik menjadi Rp 1,05 triliun pada 2019 dari tahun sebelumnya hanya Rp 829,35 miliar.

Ini pula yang membuat perseroan menanggung rugi bersih Rp 611,28 miliar, berbanding terbalik saat 2018 ketika perseroan mengantongi laba bersih Rp 132,29 miliar.

 

Berita ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: PT Timah Revisi Laporan Keuangan, Ada Apa?



Sumber
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X