Bisakah Pinjaman Online Beri Keringanan Kredit? Ini Tanggapan AFPI

Kompas.com - 21/04/2020, 18:18 WIB
Ilustrasi fintech www.thinkstockphotos.comIlustrasi fintech

JAKARTA, KOMPAS.com - Wabah virus corona (Covid-19) membuat pemerintah memberikan beragam stimulus dan meminta perbankan/perusahaan leasing untuk merestrukturisasi kredit.

Aturan mnegenai restrukturisasi kredit pun telah diatur melalui POJK Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian sebagai Kebijakan Countercyclical.

Lantas, bagaimana dengan fintech peer to peer (P2P) lending alias pinjaman online melalui aplikasi?

Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah mengatakan, ada perbedaan bisnis model antara pinjol dengan perbankan dan perusahaan leasing. Perbedaan model bisnis juga mempengaruhi kualitas restrukturisasi kredit.

Baca juga: UMKM Ingin Ajukan Keringanan Kredit ke Fintech? Ini Kriterianya

Fintech, yang merupakan perantara antara peminjam (borrower) dan pemberi pinjaman (lender) tidak bisa serta merta memberikan relaksasi seperti perbankan.

Fintech hanya sebuah perantara, bukan yang bertindak langsung memberi pinjaman seperti perbankan dan perusahaan multifinance.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kalau ditanya customer, customer kami itu ada borrower dan lender. Lender pun ada lender individu ada lender institusi. Ini uniknya di fintech P2P. Di tengah-tengah adalah platform, bertugas memeriksa, memberi peringkat, menjadi perantara, dan memproses operasional," kata Kuseryansyah dalam konferensi video, Selasa (21/4/2020).

Dia menuturkan, bank bisa bertindak langsung sebagai pemberi pinjaman dan proses kerjanya diatur dalam Undang-Undang (UU) Perbankan. Ini membuatnya bisa dengan mudah memberikan restrukturisasi kredit.

Sedangkan fintek yang pemberi pinjamannya bukan dari lembaga keuangan tidak bisa diatur dalam kewenangan OJK. Pemberian restrukturisasi tentu akan lebih menantang.

"Fintek itu decision ada di lender. Kalau lendernya lembaga keuangan boleh dikatakan proses restrukturisasi berjalan lebih mudah, karena lembaga keuangan sudah terbiasa dan sudah ada regulasi. Tapi kalau bukan lembaga keuangan, mereka bukan dalam yurisdiksi yang bisa diatur oleh OJK," terang dia.

Baca juga: Mitigasi Dampak Corona, Fintech Modalku Siapkan 3 Langkah

Kuseryansyah mengaku, hal ini memang menjadi tantangan di tengah wabah virus corona (Covid-19). Tantangan ini bisa menjadi peluang untuk menentukan skema yang baik dari sisi peminjam maupun pemberi pinjaman.

"Ini challenge (tantangan) buat kami bagaimana mengelola restrukturisasi ke lender individual. Kondisi sekarang merupakan suatu peluang bagi kami untuk bisa mendefinisikan skema-skema yang baik untuk melayani 2 hal, dari sisi lender dan borrower. Kami sangat intens mengelola ini," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.