IHSG Diproyeksikan Bakal Tertekan, Ini Penyebabnya

Kompas.com - 22/04/2020, 09:00 WIB
Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). IHSG dibuka pada 6.381,18 naik 22,56 poin dibandingkan penutupan perdagangan Jumat lalu. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). IHSG dibuka pada 6.381,18 naik 22,56 poin dibandingkan penutupan perdagangan Jumat lalu.
Penulis Kiki Safitri
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan akan melanjutkan pelemahan pada hari ini. Kemarin IHSG ditutup negatif dengan penurunan 1,62 persen.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, IHSG hari ini akan bergerak tertekan karena terdorong sentimen harga harga emas yang turun 1,3 persen di pasar spot. Sementara emas berjangka AS turun 1,4 persen.

“Indeks kita akan tertekan, faktor utama yang menekan indeks adalah faktor emas. Kemarin kan kontrak Mei negatif ya, kemudian ada perbaikan sedikit. Kemarin analogi pasar AS dan Eropa kembali mengalami penurunan,” kata Hans kepada Kompas.com

Baca juga: Nekat Mudik, Ini Sanksi Paling Ringan hingga yang Terberat

Adapun faktor lain yang menjadi sentiment IHSG hari ini adalah masah pandemic virus corona yang terus berlangsung. Hal ini membuat banyak orang khawatir mengenai kapan virus itu akan berhenti mempengaruhi pasar

“Dua faktor itu akan mempengaruhi perderakan indeks hari ini,” jelas dia.

Sementara itu sentimen positif datang dari stimulus terbaru yang digelontorkan pemerintah AS sebesar 484 miliar dollar AS yang telah disetujui oleh senat AS. Dana tersebut akan diberikan kepada UKM, Rumah Sakit dan Pengujian obat untuk virus corona.

Indeks Wall Street berada pada zona merah kemarin dengan anjloknya indeks Dow Jones sebesar 631,5 poin atau 2,67 persen. Sementara itu, indeks S&P 100 turun 86,67 poin atau 3,07 persen yang disusul merosotnya indeks Nasdaq sebesar 297,5 poin atau 3,48 persen.

Indeks pasar saham Eropa juga ditutup merah terdorong faktor harga minyak, dimana kontrak Juni melemah 43,4 persen mnjadi 11,57 dollar AS per barel.

“Jadi apa yang kita tangkap dari minyak itu adalah mereka melihat bulan Mei dan Juni itu, ada kemungkinan masalah Covid-19 belum berlalu karena kontrak-kontrak minyaknya turun,” ujar dia.

Baca juga: Iuran BPJS Kesehatan Batal Naik, Bagaimana yang Sudah Terlanjur Bayar?

Indeks saham Eropa FTSE turun 171,8 poin atau 2,96 persen disusul oleh indeks Xetra dax yang terperosok 426,1 poin atau turun tajam 3,9 persen. Penurunan harga minyak ini juga terjadi lantaran kilang minyak yang sudah penuh, sementara kontrak sudah jatuh tempo. Maka dari itu Eropa menjual minyak dengan posisi rugi.

Hans menilai kondisi harga minyak yang turun ini tidak akan berlangsung lama. Karena penurunan harga cukup ekstrim biasanya akan kembali normal setelah beberapa waktu.

“Kayanya sih enggak akan lama-lama banget. Saya perkirakan minyaknya sendiri mulai recovery karena kemarin ekstrim ya turunnya. Kontrak Mei ada recovery, Juni pun mungkin rada volatile,” ungkap dia.

Hans memproyeksikan IHSG akan bergerak pada level support 4.463 sampai dengan 4.317 dan resisten pada level 4.575 sampai dengan 4.747.

Baca juga: Fakta-fakta Larangan Mudik, Diterapkan 24 April hingga Tak Boleh Keluar Zona Merah



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X