IMF Proyeksi Ekonomi RI 2021 Tumbuh 8,2 Persen, Faisal Basri: Ada yang Aneh...

Kompas.com - 24/04/2020, 18:13 WIB
Ekonom Senior Indef, Faisal Basri usai ditemui di Kongkow Bisnis Pas FM, Jakarta, Rabu (20/11/2019). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIEkonom Senior Indef, Faisal Basri usai ditemui di Kongkow Bisnis Pas FM, Jakarta, Rabu (20/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Dana Moneter Internasional ( IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2021 bisa melesat hingga 8,2 persen.

Sementara tahun ini, perekonomian Indonesia diproyeksi tumbuh 0,5 persen lantaran tertekan oleh pandemik virus corona (Covid-19).

Ekonom Senior Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mengatakan, proyeksi IMF tersebut tak masuk akal. Pasalnya, tahun depan pertumbuhan ekonomi RI hasil proyeksi IMF tersebut adalah yang tertinggi sejak era Soeharto.

"Ada yang aneh dari IMF, rebound 2021 luar biasa melebihi pertumbuhan ekonomi tahun-tahun sebelumnya. Jadi istilahnya kemerosotan tahun ini akan dibayar penuh, dan bonus di tahun berikutnya seakan-akan perekonomian akan normal dan hidup kembali," ujar dia ketika memberikan keterangan melalui video conference, Jumat (24/4/2020).

Baca juga: BI Ramal Ekonomi Indonesia Pulih Pada 2021

Menurut Faisal, perekonomian Indonesia tahun ini hanya akan tumbuh 0,5 persen. Namun jika kondisinya semakin buruk, bisa mencapai negatif 2,5 persen.

Selanjutnya di 2021, Faisal memproyeksi ekonomi RI tumbuh 4,9 persen dan meningkat 5 persen di 2022. Sementara di 2023-2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi sebesar 5,2 persen.

"Jadi enggak ada tuh 8 persen," jelasnya.

Menurut Faisal, cenderung tertekannya pertumbuhan ekonomi Indonesia disebabkan oleh penanganan pandemik virus corona yang tidak karuan.

Puncak pandemi virus corona yang belum diketahui waktunya akan membuat ongkos ekonomi semakin mahal.

"Indonesia amat sulit prediksi, karena penanganan COVID-19 enggak karu-karuan, tanggung, mudik udah jutaan orang keluar baru dilarang. PSBB, macet di Pancoran seperti enggak ada apa-apa. Kita enggak pernah tahu puncak kapan dan ongkos ini akan semakin besar," tuturnya.

Meski demikian, Faisal menyebut masih ada beberapa sektor yang menjadi tumpuan ekonomi dan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan tahun ini. Di antaranya adalah sektor farmasi dan produk konsumsi.

"Farmasi, hospital, intinya ada sektor-sektor enggak bisa hidup tanpa dia. Consumer product, enggak akan terdampak karena dia hasilkan produk yang dibutuhkan masyarakat. Ke depan, yang bisa dikembangkan adalah sektor industri manufaktur," tambahnya.

Baca juga: Dampak Wabah Corona, Luhut Perkirakan Ekonomi Indonesia Hanya 4 Persen



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Besok, Pemerintah Lelang SUN Maksimal Rp 40 Triliun

Besok, Pemerintah Lelang SUN Maksimal Rp 40 Triliun

Earn Smart
Menhub: Bakal Ada Kota Baru Dekat Pelabuhan Patimban bernama 'Kota Rebana'

Menhub: Bakal Ada Kota Baru Dekat Pelabuhan Patimban bernama "Kota Rebana"

Whats New
Bahas Antisipasi Banjir, Luhut Wanti-wanti soal Klaster Baru Covid-19

Bahas Antisipasi Banjir, Luhut Wanti-wanti soal Klaster Baru Covid-19

Whats New
Patimban Mulai Beroperasi Desember 2020, Menhub Ingin Ekspor yang Lebih Besar

Patimban Mulai Beroperasi Desember 2020, Menhub Ingin Ekspor yang Lebih Besar

Whats New
Realisasi Anggaran Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Capai Rp 431,54 Triliun

Realisasi Anggaran Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Capai Rp 431,54 Triliun

Whats New
Ada Lonjakan Kasus Covid-19, Erick Thohir Minta Masyarakat Tak Lengah

Ada Lonjakan Kasus Covid-19, Erick Thohir Minta Masyarakat Tak Lengah

Whats New
MenkopUKM Tekankan 3 Hal Dorong UMKM 'Go Digital', Apa Saja?

MenkopUKM Tekankan 3 Hal Dorong UMKM "Go Digital", Apa Saja?

Whats New
Dukung Pemerintah, Enesis Group Luncurkan Kampanye #EnesisSafeTravel

Dukung Pemerintah, Enesis Group Luncurkan Kampanye #EnesisSafeTravel

Rilis
IHSG dan Rupiah Terjun Bebas di Akhir November

IHSG dan Rupiah Terjun Bebas di Akhir November

Whats New
Pasar Keuangan Optimistis Skenario Vaksin Covid-19 Pulihkan Ekonomi Tahun 2021

Pasar Keuangan Optimistis Skenario Vaksin Covid-19 Pulihkan Ekonomi Tahun 2021

Whats New
Walhi Nilai Perpres Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional Bisa Rugikan Lingkungan Hingga Negara

Walhi Nilai Perpres Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional Bisa Rugikan Lingkungan Hingga Negara

Whats New
Usaha Logistik AirAsia Siap Bantu Distribusi Vaksin Covid-19

Usaha Logistik AirAsia Siap Bantu Distribusi Vaksin Covid-19

Rilis
Masih Belum Terima Subsidi Gaji dari Pemerintah? Ini Cara Mengadukannya

Masih Belum Terima Subsidi Gaji dari Pemerintah? Ini Cara Mengadukannya

Whats New
Mentan Sebut Tanaman 'Janda Bolong' Diminati di AS dan Eropa

Mentan Sebut Tanaman "Janda Bolong" Diminati di AS dan Eropa

Whats New
Sri Mulyani Ingatkan Para Youtuber untuk Bayar Pajak

Sri Mulyani Ingatkan Para Youtuber untuk Bayar Pajak

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X