Kompas.com - 27/04/2020, 09:36 WIB
Petugas berinteraksi dengan sejumlah TKI Ilegal dan ABK yang baru pulang dari Malaysia. Sebanyak 44 TKI ilegal dan juga ABK di kapal tak berbendera itu diamankan Polres Tanjung Balai karena tak memiliki dokumen sah. Dok. Polres Tanjung BalaiPetugas berinteraksi dengan sejumlah TKI Ilegal dan ABK yang baru pulang dari Malaysia. Sebanyak 44 TKI ilegal dan juga ABK di kapal tak berbendera itu diamankan Polres Tanjung Balai karena tak memiliki dokumen sah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Berbeda dengan di Singapura, jumlah pekerja migran di Malaysia yang terinfeksi virus corona atau Covid-19 relatif lebih sedikit. Tetapi, untuk soal kebutuhan makanan, nasib para pekerja asing di Negeri Jiran ini lebih mengkhawatirkan.

Di Singapura, para pekerja migran banyak ditempatkan dalam asrama-asrama besar selama masa karantina. Persediaan makanan bagi pekerja migran di Singapura dijamin pemerintah Singapura. Di Malaysia, situasi berbeda.

Dalam kondisi isolasi di mana pemerintah setempat mengeluarkan larangan bekerja dan bepergian, pekerja migran di Malaysia menghadapi situasi pelik karena terbatasnya stok makanan maupun makin menipisnya uang tabungan untuk berlelanja.

Dilansir dari SCMP, Senin (27/4/2020), pekerja migran di Malaysia didominasi warga negara Bangladesh, Indonesia (Tenaga Kerja Indonesia/TKI), Nepal, dan India. Ketika Malaysia menerapkan penutupan nasional yang saat ini memasuki minggu keenam, sebagian besar tempat kerja telah ditutup.

Baca juga: Singapura Pusing Tampung Tenaga Kerja Asing Selama Corona

Otomatis, tak ada pemasukan bagi pekerja migran. Sisa uang hasil bekerja tidak akan cukup untuk membeli makanan, jika situasi sulit pandemi corona ini terus berlanjut.

Sebelumnya, Nahdatul Ulama (NU) menyebut ada 1 juta pekerja migran asal Indonesia yang kini terancam kelaparan. Mereka sudah tak lagi bekerja. Opsi pulang ke Indonesia juga bukan pilihan, karena baik pemerintah Indonesia mapun Malaysia menutup akses pulang ke kampung halaman.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Agung (30), salah seorang TKI mengatakan, hingga sekarang dirinya bertahan dengan kondisi serba sulit. Dia bertahan hidup dengan mengkonsumsi mie instan dan telur di tempat tinggal yang diperuntukkan bagi para pekerja konstruksi. Kondisi tempat tinggalnya juga jauh dari layak.

Sebagai kuli bangunan di proyek pembangunan perkantoran, dia bisa mendapatkan upah 2.000 ringgit atau Rp 7,15 juta (kurs Rp 3.576) dalam sebulan. Namun saat ini, dirinya belum mendapatkan bayaran lagi karena proyek tempatnya bekerja ditutup sementara sejak 18 April.

Baca juga: BP2MI Antisipasi Gelombang Kepulangan TKI

Dia masih terbantu dengan adanya suplai makanan bantuan dari LSM setempat dan bisa dipakai untuk bertahan hidup hingga lima hari ke depan.

"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu (makanan habis). Saya belum bisa mengirimkan uang selama dua bulan ke kampung. Untuk sekarang memang ada makanan, tapi saya tidak tahu berlama akan bisa bertahan," kata Agung yang juga mengkhawatirkan istri dan anaknya yang tinggal di pinggiran Kota Medan, Sumatera Utara.

TKI dilarang mudik

Agung adalah salah satu dari 2,5 juta TKI dengan upah rendah di Malaysia. Di Indonesia, pemerintah juga sudah menegaskan melarang orang untuk mudik. Pemerintah Indonesia juga menyarankan TKI tak kembali ke kampung halaman untuk sementara waktu hingga situasinya membaik.

 

Mahfud Budinono, koordinator NU di Malaysia mengatakan ada 700.000 pekerja migran Indonesia yang tercatat secara resmi. Berikutnya ada 1,5 juta pekerja asal Indonesia yang masuk tanpa dokumen resmi yang bekerja di sektor konstruksi, restoran, tenaga kebersihan, dan sebagainya.

Hampir semua TKI tersebut dirumahkan sementara tanpa bayaran. Bahkan, ada sekitar 400.000 orang yang terancam harus keluar dari rumah kontrakannya karena tak sanggup membayar sewa.

Baca juga: Banyak Diburu TKI, Harga Masker Naik 9 Kali Lipat

Rata-rata harga kontrakan di Malaysia rata-rata sekitar 1.200 ringgit dan biasanya digunakan bersama-sama oleh beberapa orang TKI.

Menteri Wilayah Federal Malaysia Annuar Musa mengatakan telah menyumbangkan 1.000 karung berisi 5 kilogram beras pada awal bulan April lalu. Sementara Kementerian Luar Negeri Indonesia mendistribusikan 100.000 paket sembako kepada para TKI.

Tak hanya menimpa TKI, kondisi serupa terjadi pada semua tenaga migran di Malaysia.

"Kami belum dibayar sejak Februari karena lockdown sejak pertengahan Maret," kata Mohamad Hanif, pekerja migran asal Bangladesh yang tinggal di kontainer di pinggiran Kuala Lumpur.

Baca juga: Urus Nasib TKI, BNP2TKI Ganti Nama Jadi BP2MI

"Kami memasak bersama. Kami biasanya makan nasi dengan tambahan sayuran dengan campuran kari. Tapi sekarang sulit, karena tidak ada uang. Tidak cukup makanan untuk dibagikan dan kita semua di sini lapar. Kami butuh bantuan," ucap Hanif.

Sebagai informasi, Malaysia jadi rumah sementara bagi sekitar 5,5 juta pekerja migran, dengan lebih dari setengahnya atau sekitar 3,3 juta orang merupakan pekerja tanpa dokumen resmi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.