Tutup Defisit Fiskal Rp 1.400 Triliun, Ini Hitungan BI dan Pemerintah

Kompas.com - 29/04/2020, 12:04 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo serta perwakilan Otoritas Jasa Keuangan dan Lembaga Penjamin SImpanan melakukan konferensi hasil rapat KSSK di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (1/11/2018). KOMPAS.com/AMBARANIE NADIAMenteri Keuangan Sri Mulyani bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo serta perwakilan Otoritas Jasa Keuangan dan Lembaga Penjamin SImpanan melakukan konferensi hasil rapat KSSK di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (1/11/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo telah melakukan hitung-hitungan dengan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan (Kemenkeu) guna membiayai defisit fiskal Rp 1.400 triliun.

Dalam paparannya, Perry menyebut defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 1.400 triliun akan dipenuhi dari beberapa sumber pendanaan.

Pertama, defisit akan dipenuhi dari saldo kas pemerintah yang tersedia di bank sentral maupun di perbankan secara umum.

Baca juga: Tiga Cara Agar Pemerintah Mampu Menekan Defisit Anggaran

Totalnya akan genap mencapai Rp 500 triliun bila dipenuhi dari dana-dana BLU, program pinjaman ADB dan Bank Dunia, serta penerbitan obligasi berdenominasi valuta asing (valas).

"Hitung-hitungan kami, kalau dijumlah-jumlah itu Rp 500 triliun. Sisanya masih (defisit) Rp 900 triliun. Yang sudah dikeluarkan kurang lebih Rp 225 triliun jadi masih sisa Rp 675 triliun, di antaranya untuk pemulihan ekonomi Rp 150 triliun," kata Perry dalam konferensi video, Rabu (29/4/2020).

Kemudian, pemenuhan lainnya berasal penurunan Giro Wajib Minimun (GWM) yang berujung perbankan akan membeli Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar perdana sebesar Rp 100 triliun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Rp 675 triliun dikurang Rp 150 triliun (untuk pemulihan ekonomi) dan Rp 100 triliun (dari penurunan GWM) sisanya sekitar Rp 425 triliun," terang Perry.

Adapun Rp 425 triliun sisanya akan dipenuhi dari lelang Surat Berharga Negara (SBN). Dia memprediksi, target lelang yang diumumkan pemerintah cukup untuk memenuhi defisit APBN.

"Kalau kita hitung sisa lelang sampai akhir tahun itu, kebutuhan yang dari lelang sebetulnya tidak kemudian melonjak tinggi. Jadi target lelang yang diumumkan pemerintah, insya Allah cukup untuk memenuhi pembiayaan fiskal," sebut BI.

Perry yakin, para investor akan berminat mengikuti lelang karena suku bunga dan imbal hasil (yield) yang ditawarkan lebih menarik dibanding surat utang dari negara lain termasuk US Treasury.

"Bandingkan dengan misalnya US Treasury, itu di atas 7,5 persen. Perbedaan suku bunga SBN kita dengan luar itu tinggi banget. Itu menarik. Kalau pasar ini sadar, jumlah lelang yang diinginkan pemerintah cukup untuk memenuhi kebutuhan fiskal," pungkas Perry.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.