Pengakuan Susi Pudjiastuti: Sulitnya Susi Air di Tengah Pandemi

Kompas.com - 29/04/2020, 21:39 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014-2019 Susi Pudjiastuti saat menghadiri diskusi Sengketa Natuna dan Kebijakan Kelautan di kantor DPP PKS, Jakarta, Senin (20/1/2020). KOMPAS.com/ACHMAD NASRUDIN YAHYAMenteri Kelautan dan Perikanan periode 2014-2019 Susi Pudjiastuti saat menghadiri diskusi Sengketa Natuna dan Kebijakan Kelautan di kantor DPP PKS, Jakarta, Senin (20/1/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan sekaligus pemilik Susi Air, Susi Pudjiastuti mengaku pendapatan maskapainya menurun akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Tak tanggung-tanggung, dalam 1 bulan hampir 98 persen pesawatnya tak lagi melakukan penerbangan, baik untuk penumpang maupun penerbangan kargo.

"Susi Air contohnya perusahaan yang saya punya, dalam 1 bulan kehilangan 98 persen dari penerbangan. How can we go back to 30 percent aja belum terbayang," kata Susi dalam konferensi video, Rabu (29/4/2020).

Baca juga: Tak Jadi Menteri Lagi, Susi: Presiden Butuh yang Berbeda

Susi menuturkan, penerbangan perintis sudah 95 persen berhenti karena bandara-bandara tujuan ditutup dan dibatasi operasionalnya selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Penerbangan kargo, yang menjadi andalannya saat ini, tak senormal hari biasa.

"Hanya terbang yang kargo. Kalau charter penerbangan medis pun sekarang sangat ketat. Kita harus tahu penyakitnya apa. Karena kalau Covid-19 tidak bisa ditransportasikan. Kebanyakan ya tidak terbang," ujar Susi.

Rendahnya mobilitas penerbangan berimbas kepada operasional perusahaan. Tak jarang, efeknya pun sampai kepada karyawan yang harus cuti tanpa bayaran (unpaid leave).

Pilot-pilot Susi Air, baik warga negara Indonesia (WNI) maupun warga negara asing (WNA) sebagian memanfaatkan cuti untuk pulang ke rumah masing-masing. Sebagian lainnya, terpaksa menetap di mess karena adanya PSBB maupun karantina wilayah.

"Ya akhirnya efeknya ke karyawan, ke semua. Mereka tidak ada kerjaan cuma di mess aja," ungkapnya.

Baca juga: Dirut Garuda: Mohon Maaf Hari Ini Bapak Ibu, Tak Bisa Lagi Terlalu Melihat Wajah Pramugari Kami

Susi pun tak tahu pasti kapan operasional perusahaan akan membaik. Sebab, dunia masih bertanya-tanya kapan pandemi Covid-19 berakhir. Untuk meminimalkan kerugian dan menyejahterakan karyawan, pihaknya mengambil beragam peluang.

"Dengan apa yang kita coba lakukan mudah-mudahan 2-3 bulan ke depan bisa bertahan. Tapi kalau tidak, ya tidak tahu. Mungkin kami melakukan efisiensi, menutup base-base yang tidak produktif, menimalisir transporting cost. Ya kita perlu adjust," ungkapnya.

Tak lupa, dia menyempatkan diri untuk berbagi tips kepada masyarakat agar tetap produktif di rumah, seperti mengasah skil-skil baru. Sebab berakhirnya pandemi tak menjamin kesulitan keuangan juga berakhir. Sektor usaha masih harus bersusah payah mengembalikan ritme produksi yang normal.

"Supaya masyarakat tidak berpikir WFH seperti liburan. No. Itu hanya beberapa pekerjaan mungkin yang akan kembali (setelah berakhirnya pandemi). Nah bagaimana kita harus antisipasi ini," pungkas Susi.

Baca juga: Kebijakannya Banyak Diubah, Susi: Prihatin, Sedih Saja...



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lembaga Penjamin Simpanan Buka Banyak Lowongan Kerja, Minat?

Lembaga Penjamin Simpanan Buka Banyak Lowongan Kerja, Minat?

Work Smart
Siapa Sebenarnya Pemilik KFC?

Siapa Sebenarnya Pemilik KFC?

Whats New
Menteri Trenggono Minta Eksportir Perikanan Jangan Nakal soal Pajak

Menteri Trenggono Minta Eksportir Perikanan Jangan Nakal soal Pajak

Whats New
Minta PMI Tidak Mudik Lebaran, Pemerintah: Bersabarlah Dulu

Minta PMI Tidak Mudik Lebaran, Pemerintah: Bersabarlah Dulu

Whats New
Alamat BNI, BRI, BTN dan Mandiri untuk Tukar Uang Baru di Surabaya dan Sekitarnya

Alamat BNI, BRI, BTN dan Mandiri untuk Tukar Uang Baru di Surabaya dan Sekitarnya

Whats New
Erick Thohir Ajak Milenial Buka Lapangan Kerja Agar Tak Bergantung Pemerintah

Erick Thohir Ajak Milenial Buka Lapangan Kerja Agar Tak Bergantung Pemerintah

Whats New
Industri Tambak Udang di Bangka Menggeliat, Permintaan Listrik Ikut Melonjak

Industri Tambak Udang di Bangka Menggeliat, Permintaan Listrik Ikut Melonjak

Whats New
Di Wilayah Ini, Harga Cabai, Bawang, Daging Sapi, Ayam, dan Telur Mulai Naik

Di Wilayah Ini, Harga Cabai, Bawang, Daging Sapi, Ayam, dan Telur Mulai Naik

Whats New
Alamat BCA dan Bank Swasta Lain di Jabodebek untuk Tukar Uang Baru

Alamat BCA dan Bank Swasta Lain di Jabodebek untuk Tukar Uang Baru

Whats New
Erick Thohir Sebut Perekonomian Indonesia Mampu Tumbuh 7 Persen, ini Alasannya

Erick Thohir Sebut Perekonomian Indonesia Mampu Tumbuh 7 Persen, ini Alasannya

Whats New
Erick Thohir: Apartement untuk Generasi Milenial akan Segera Hadir

Erick Thohir: Apartement untuk Generasi Milenial akan Segera Hadir

Whats New
Banyak Negara Batasi Ekspor Vaksin Covid-19, Erick Thohir Fokus Pengadaan dari Dalam Negeri

Banyak Negara Batasi Ekspor Vaksin Covid-19, Erick Thohir Fokus Pengadaan dari Dalam Negeri

Whats New
Dua Kandidat Utama Pengelola TMII, Taman Wisata Candi yang Terkuat

Dua Kandidat Utama Pengelola TMII, Taman Wisata Candi yang Terkuat

Whats New
Baru Diblokir, Website Baru Binomo Sudah Muncul Lagi

Baru Diblokir, Website Baru Binomo Sudah Muncul Lagi

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Berburu Takjil Berbuka | Tantangan Berpuasa di Eropa | Referensi Menu Berbuka

[POPULER DI KOMPASIANA] Berburu Takjil Berbuka | Tantangan Berpuasa di Eropa | Referensi Menu Berbuka

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads X