Terdampak Corona, Grab Tawarkan Cuti Tanpa Gaji hingga Pengurangan Jam Kerja

Kompas.com - 01/05/2020, 14:33 WIB
Ilustrasi GrabBike Dok. GrabIlustrasi GrabBike

SINGAPURA, KOMPAS.com - Perusahaan transportasi on demand Grab menyatakan telah memberikan tawaran kepada karyawan mereka untuk mengambil cuti tanpa dibayar hingga mengurangi waktu kerja lantaran perusahaan tengah terpukul dampak pandemi virus corona (Covid-19).

Dalam keterangan tertulisnya yang dikutip dari Techinasia, Jumat (1/5/2020), perusahaan yang berbasis di Singapura itu menyatakan langkah tersebut untuk mengantisipasi dampak jangka panjang dari pandemi serta resesi ekonomi yang mengikuti.

"Terdapat banyak ketidakpastian mengenai seberapa dalam dan durasi dari pandemi ini dan kami tdak tahu akan berapa lama resesi ekonomi akan terjadi. Kami mengambil langkah aktif untuk menghemat kas dan mserta tetap mampu mengelola karyawan kami," ujar salah satu decacorn tersebut.

Baca juga: Terdampak Virus Corona, Boeing Bakal PHK 15.000 Pekerja

Grab mengatakan, telah membuka opsi untuk seluruh tim dengan kapasitas berlebih. Karyawan dapat mengambil berbagai opsi tersebut secara sukarela.

Head of Transport Grab Singapura Andrew Chan mengatakan dalam sebuah surat, perusahaan mungkin tak lagi memberi dukungan finansial tambahan kepada pengemudi jika pemerintah setempat memutuskan untuk memperpanjang pembatasan lebih dari 1 Juni.

Sebelumnya, Grab menyatakan bakal menggelontorkan 40 juta dollar AS untuk memberikan kelonggaran finansial kepada mitra pengemudi dan merchant yang terdampak pandemi.

"Tidak ada yag pernah tahu kapan situasi ini akan berakhir, namun kami mempersiapkan untuk langkah jangka panjang sekaligus sulit," ujar Chan.

"Seiring dengan terus turunnya pendapatan kami, para pimpinan Grab telah mengambil langkah pemangkasan gaji hingga 20 persen, dan karyawan Grab telah didorong untuk mengambil unpaid leave secara sukarela," jelas dia.

Berdasarkan hasil survei dari perusahaan asuransi Aon, sebanyak 21 persen perusahaan di Singapura telah mempertimbangkan untuk meminta karyawannya mengambil cuti tanpa di bayar baik secara sukarela maupun tidak.

Sebelumnya, CEO sekaligus pendiri Grab Anthony Tan sempat mengatakan perusahaan akan mengambil keputusan sulit jika melihat dampak pandemi terhadap bisnis perusahaan.

Dia mengatakan, Grab telah dihadapkan pada penurunan pendapatan yang tajam di beberapa kota dan negara yang menerapkan pembatasan aktivitas secara masif.

Baca juga: Dampak Virus Corona, British Airways Berencana Pangkas 12.000 Pegawai
Di Singapura sendiri, pemerintah setempat telah meminta masyarakat untuk beraktivitas di rumah sebanyak mungkin hingga 1 Juni tahun ini. Kebijakan tersebut melarang berbagai aktivitas di luar rumah kecuali membeli kebutuhan dasar seperti makanan serta utuk memenuhi kebutuhan kesehatan darurat.



Sumber TechinAsia
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X