Minat Kerja Jadi TKI di Taiwan? Ini Kisaran Gajinya

Kompas.com - 04/05/2020, 10:01 WIB
Pemulangan 335 Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Sri Lanka dan Maladewa ke Tanah Air, pada Jumat (24/4/2020). Dok. KBRI ColomboPemulangan 335 Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Sri Lanka dan Maladewa ke Tanah Air, pada Jumat (24/4/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Dari tahun ke tahun, Taiwan semakin diminati sebagai salah satu negara tujuan pengiriman bagi para pekerja migran asal Indonesia. Dibanding di Malaysia, gaji yang diterima pekerja asal Indonesia di negara tersebut relatif lebih tinggi.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Taiwan jadi negara kedua penampung terbanyak pekerja migran asal Indonesia setelah Malaysia. Taiwan tercatat menampung tenaga kerja Indonesia (TKI) sebanyak 79.574 orang atau hampir menyamai Malaysia yang jumlah TKI-nya mencapai 79.662.

Angka tersebut hanya mencatat jumlah TKI yang masuk dengan jalur resmi, sehingga mengabaikan mereka yang bekerja tanpa dokumen legal. 

Dikutip dari Harian Kompas, Senin (4/5/2020), sebelum pandemi virus corona (Covid-19), di Taiwan, ada lebih dari 260.000 warga negara Indonesia, mayoritas adalah pekerja migran. Sebagian besar dari mereka berprofesi menjaga orang lanjut usia dan tugas asisten rumah tangga lainnya.

Baca juga: 10 Negara Penampung TKI Terbanyak, Taiwan Hampir Samai Malaysia

Gaji TKI di Taiwan rata-rata berkisar 17.000 NT (dollar Taiwan) sampai 23.000 NT atau Rp 8.638.000 hingga Rp 11.687.000 (kurs Rp 506).

Setelah dipotong untuk agen sebesar 1.500 NT. Setiap bulan rata-rata tenaga kerja Indonesia (TKI) di Taiwan bisa mengirim uang ke kampung halaman sekitar 10.000 NT (Rp 5.081.000).

Secara keseluruhan, jumlah pekerja migran di Taiwan sekitar 670.000. Di mana pekerja migran Indonesia cukup mendominasi di Taiwan. 

Kehidupan TKI di Taiwan

Para pekerja migran Indonesia di Taiwan lebih bisa merasakan kebebasan berekspresi di negara demokrasi. Sebut saja, Bening, pekerja migran Indonesia, asal Solo, yang sering diundang tampil menari di acara-acara di Taiwan.

”Di sini lebih bisa berekspresi,” ujar Wahyuni, pekerja asal Jawa Timur yang pernah bekerja di Arab Saudi.

Banyak juga di antara mereka yang kemudian menikah dengan orang Taiwan dan kemudian menetap di Taiwan. Seperti Rosada, asal Indramayu, yang menikah dengan orang Taiwan dan tinggal di Taichung.

Baca juga: Jutaan TKI di Malaysia Dihantui Kelaparan

”Saat ada tamu dari Indonesia, saya diundang membantu menemani atau menerjemahkan,” kata Rosada yang punya nama Taiwan, Cienti.

Sejumlah warga negara Indonesia yang menikah dengan orang Taiwan ada juga yang sukses berusaha di Taipei. Banyak warung-warung Indonesia dan makanan Indonesia dibuka di Taipei, khususnya di kawasan Indonesia, di dekat stasiun utama Taipei.

 

Dari sisi tampilan, pekerja migran Indonesia di Taiwan tampak lebih modis. Telepon pintar tak pernah lepas dari tangannya. Di tempat-tempat menarik mereka ber-selfi ria ada yang melakukan video call dengan lawan bicaranya.

Hari Minggu ibaratnya hari kemerdekaan bagi para pekerja migran. Pada hari Minggu-lah mereka bisa bebas dan bertemu dengan sesama pekerja migran.

Lobi utama stasiun kereta di pusat kota Taipei selalu diokupasi pekerja migran Indonesia. Mereka berada di sana, berkumpul, dan saling berbagi informasi. Ada juga beberapa di antaranya yang ikut kursus di Global Worker untuk meningkatkan kompetensi.

Baca juga: Urus Nasib TKI, BNP2TKI Ganti Nama Jadi BP2MI

Namun, tidak setiap hari Minggu, para pekerja migran itu bisa keluar rumah.

”Kadang majikan tak mengizinkan ke luar. Ada kompensasi uang dari majikan jika mereka tak bisa keluar rumah. Namun, yang pasti setiap bulan ada satu hari Minggu, mereka bisa menikmati kebebasan,” ujar seorang pekerja.

Global Workers’ Organization (GWO) adalah sebuah LSM di Taiwan. Lembaga itu berfokus untuk meningkatkan kompetensi pekerja migran.

Pekerja migran sangat minim mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan pendidikan selama bekerja. Setelah kembali ke negara asal, sebagian besar dari mereka kesulitan lahan pekerjaan yang mampu mendukung perekonomian mereka sehingga mereka harus kembali bekerja sebagai pekerja migran. Karena itu, organisasi ini hadir,” kata seorang pengurus GWO.

Kehadiran GWO untuk meningkatkan keterampilan ini sejalan dengan program Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO).

Baca juga: Banyak Diburu TKI, Harga Masker Naik 9 Kali Lipat

Kedua organisasi internasional itu membantu pekerja migran mencukupi kebutuhan perekonomian saat kembali ke negara asal.

Hadirnya program peningkatan kompetensi pekerja migran itu sejalan dengan program Pemerintah Taiwan yang diberi tajuk New South Bound Policy yang diinisiasi Presiden Taiwan Tsai Ing-wen dua tahun lalu.

New South Bound Policy merupakan pendekatan soft power yang dikembangkan Taiwan ke negara selatan, termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan teknologi.

 

Indonesia dan Taiwan tak punya hubungan diplomatik. Namun, kerja sama ekonomi dan perdagangan keduanya berjalan. Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu kepada wartawan Indonesia di Taipei mengatakan.

Baca juga: Bukukan Rp 218 Triliun dari Remitansi, BRI Bidik Pasar TKI

”Kami siap bergerak dan bekerja sama dengan Indonesia, termasuk meningkatkan pelayanan publik agar lebih welcome terhadap warga negara Indonesia,” ujar Joseph Wu.

Menjadi pekerja migran adalah pilihan terpaksa. Sulitnya mencari kerja di Tanah Air membuat warga negara Indonesia memilih menjadi buruh migran di sejumlah negara, termasuk Taiwan.

Santa Maria Pangaribuan, seorang mahasiswa program master di Taipei, yang menjadi sukarelawan di GWO mengatakan, program peningkatan kompetensi tenaga kerja migran penting untuk memberikan bekal ketika mereka kembali ke tanah air. ”Tetapi, yang juga penting adalah literasi mental dan kecakapan pengeloaan keuangan,” katanya.

”Saya sih berharap tidak selamanya mereka menjadi pekerja migran. Mereka harus mau pulang ke kampung halaman setelah bekal kemampuan dan finansial cukup. Ini soal motivasi dan mindset dari pekerja yang harus dibangun,” kata Santa Maria, seorang dosen di akademi keperawatan di Jakarta yang sedang studi di Taipei dan kerap mendampingi pekerja migran Indonesia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Anak Usaha BUMN Raup Rp 10,6 Miliar dari Jual Paket Sembako Ramadhan

Anak Usaha BUMN Raup Rp 10,6 Miliar dari Jual Paket Sembako Ramadhan

Whats New
Gubernur Bank Sentral Inggris Beri Warning Untuk Investor Bitcoin Cs

Gubernur Bank Sentral Inggris Beri Warning Untuk Investor Bitcoin Cs

Whats New
Membagi Biaya Pernikahan dengan Pasangan, Bagaimana Caranya?

Membagi Biaya Pernikahan dengan Pasangan, Bagaimana Caranya?

Spend Smart
India Dilanda 'Tsunami' Covid-19, Bagaimana Ekspor Batu Bara ABM Investama?

India Dilanda "Tsunami" Covid-19, Bagaimana Ekspor Batu Bara ABM Investama?

Whats New
Pemegang Polis Ritel Jiwasraya Kembalikan 14.000 Surat Program Restrukturisasi

Pemegang Polis Ritel Jiwasraya Kembalikan 14.000 Surat Program Restrukturisasi

Whats New
Terima 899 Aduan THR, Menaker Ida Minta Pemda Sanksi Tegas Pelanggar Aturan

Terima 899 Aduan THR, Menaker Ida Minta Pemda Sanksi Tegas Pelanggar Aturan

Rilis
Dapat Bantuan Alsintan dari Kementan, Ketua Kelompok Tani di Lampung Tengah: Alhamdulillah

Dapat Bantuan Alsintan dari Kementan, Ketua Kelompok Tani di Lampung Tengah: Alhamdulillah

Rilis
Harga Tiket Angkutan Umum Naik, BI Catat Inflasi 0,15 Persen di Awal Mei

Harga Tiket Angkutan Umum Naik, BI Catat Inflasi 0,15 Persen di Awal Mei

Whats New
ABM Investama Putuskan Tidak Tebar Dividen, Ini Alasannya

ABM Investama Putuskan Tidak Tebar Dividen, Ini Alasannya

Whats New
Beli Saham Holywings, Nikita Mirzani Gelontorkan Miliaran Rupiah

Beli Saham Holywings, Nikita Mirzani Gelontorkan Miliaran Rupiah

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] Melihat Hubungan Ayah dan Anak Perempuannya Lebih Dalam

[KURASI KOMPASIANA] Melihat Hubungan Ayah dan Anak Perempuannya Lebih Dalam

Rilis
Hotman Paris Jor-joran Cairkan Deposito untuk Beli Saham Holywings

Hotman Paris Jor-joran Cairkan Deposito untuk Beli Saham Holywings

Whats New
Menaker Ancam Perusahaan Yang Tak Bayar THR akan Dikenai Sanksi Tegas

Menaker Ancam Perusahaan Yang Tak Bayar THR akan Dikenai Sanksi Tegas

Rilis
Ini Alasan Nikita Mirzani Beli Saham Holywings Hingga Miliaran Rupiah

Ini Alasan Nikita Mirzani Beli Saham Holywings Hingga Miliaran Rupiah

Whats New
Jelang Lebaran, BPH Migas Minta Pertamina Jaga Pasokan BBM di Sumbagsel

Jelang Lebaran, BPH Migas Minta Pertamina Jaga Pasokan BBM di Sumbagsel

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X