Ekonomi Kuartal I Tertekan, Pemerintah Bersiap Masuk Skenario Sangat Berat

Kompas.com - 06/05/2020, 20:05 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat pelantikan pejabat eselon II dan III Kementerian Keuangan di Jakarta, Senin (9/3/2020). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat pelantikan pejabat eselon II dan III Kementerian Keuangan di Jakarta, Senin (9/3/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah membuka kemungkinan terealisasinya skenario sangat berat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di akhir tahun.

Hal tersebut tercermin dari realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 yang hanya mencapai 2,97 persen.

Sebelumnya, pemerintah masih optimistis perekonomian kuartal I bisa tumbuh di kisaran 4,5 persen hingga 4,7 persen, dan baru akan mengalami tekanan cukup dalam di kuartal II 2020.

Baca juga: BPS: Ekonomi RI Tumbuh 2,97 Persen di Kuartal I

Dengan demikian, hingga akhir tahun perekonomian diproyeksi tumbuh 2,3 persen.

Namun demikian, dengan melihat kinerja perekonomian terakhir, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah tengah mengantisipasi skenario sangat berat, yaitu perekonomian tumbuh minus 0,4 persen bila di kuartal III dan IV 2020 tak terjadi perbaikan.

"Sehingga kemungkinan masuk skenario sangat berat mungkin terjadi dari 2,3 persen menjadi minus 0,4 persen," ujar Sri Mulyani ketika memberikan paparan dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI secara virtual, Rabu (6/5/2020).

"Kalau kuartal III dan IV tidak mampu recover atau pandemi menimbulkan dampak lebih panjang di kuartal II dan IV, dan PSBB belum ada pengurangan, kalau itu dilakukan kita masuki skenario sangat berat," jelas Sri Mulyani.

Bendahara Negara itu pun menjelaskan konsumsi rumah tangga sebagai pendorong utama perekonomian juga merosot menjadi hanya 2,84 persen secara tahunan (year on year/yoy) di kuartal I 2020.

Baca juga: BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020 di Bawah 2,3 Persen

Dia pun menjelaskan jika bercermin dari data tahun lalu, konsumsi rumah tangga ini senilai Rp 9.000 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dan 55 persennya atau lebih dari Rp 5.000 triliun berada di Pulau Jawa.

"Kalau dari Rp 9.000 triliun, Rp 5.000 triliun di Jawa dan mereka mengalami kontraksi, maka kalau pun ada bansos Rp 110 triliun tidak bisa subtitusi penurunan konsumsi dari Rp 5.000 triliun tersebut," kata Sri Mulyani.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X