Bus AKAP Kembali Beroperasi, Organda: Minatnya Enggak Banyak...

Kompas.com - 13/05/2020, 17:40 WIB
Sejumlah warga membawa barang bawaan menuju bis antar provinsi untuk mudik lebih awal di Terminal Bus Pakupatan, Serang, Banten, Kamis (23/4/2020). Meski pemerintah melarang mudik lebaran tahun 2020, sejumlah warga tetap pulang ke kampung halamannya sebelum puasa dengan alasan sudah tidak ada pekerjaan meski nantinya harus menjalani isolasi mandiri. ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMANSejumlah warga membawa barang bawaan menuju bis antar provinsi untuk mudik lebih awal di Terminal Bus Pakupatan, Serang, Banten, Kamis (23/4/2020). Meski pemerintah melarang mudik lebaran tahun 2020, sejumlah warga tetap pulang ke kampung halamannya sebelum puasa dengan alasan sudah tidak ada pekerjaan meski nantinya harus menjalani isolasi mandiri.

JAKARTA, KOMPAS.com - Bus Antar Kota Antar Provinsi ( AKAP) kembali diperbolehkan beroperasi keluar atau masuk wilayah zona merah secara terbatas. Bus AKAP dioperasikan untuk memfasilitasi masyarakat yang dikecualikan dalam aturan larangan mudik.

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organisasi Angkutan Darat (Organda) Ateng Aryono mengatakan, sejauh ini tingkat okupansi bus AKAP yang diperbolehkan beroperasi masih rendah.

Meskipun tidak memiliki data detail, Ateng memastikan tingkat okupansi bus AKAP yang sudah dibatasi hingga 50 persen tidak pernah terpenuhi.

"Minatnya enggak banyak, (tingkat okupansi) tidak terpenuhi," katanya kepada Kompas.com, Rabu (13/5/2020).

Baca juga: Bus AKAP Kembali Beroperasi, Ini Rute-rute yang Dilayani

Dengan rendahnya tingkat okupansi tersebut, Ateng mengakui biaya operasional menjadi lebih tinggi dibanding pendapatan dari penjualan tiket penumpang.

Padahal, setiap PO Bus hanya diberikan izin untuk mengoperasikan 1 bus AKAP setiap rutenya.

"Kalau itu dihitung secara akutansi biaya enggak ketemu, karena demand tidak bisa meng-cover biaya operasional suplainya," kata Ateng.

Menurut dia, rendahnya tingkat okupansi penumpang dikarenakan ketatnya persyaratan yang diberikan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 bagi calon penumpang yang ingin berpergian keluar atau masuk wilayah zona merah.

"Selain itu masyarakat sudah mulai aware, virus corona ini enggak boleh main-main," ujarnya.

Baca juga: Menhub Bantah Tak Ada Koordinasi terkait Pengendalian Transportasi

Kendati demikian, Ateng memastikan, 36 PO Bus yang telah ditunjuk oleh Kementerian Perhubungan akan tetap beroperasi melayani calon penumpang yang dikecualikan dalam aturan larangan mudik.

"Kalau ini sudah berjalan,teman-teman (PO Bus) mendapatkan penugasan, tentu teman-teman sudah siap dengan berbagai risiko," ucapnya.

Sebagai informasi, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub telah menunjuk 36 PO Bus untuk beroperasi keluar atau masuk wilayah zona merah selama periode larangan mudik berlangsung. Setiap PO Bus mendapatkan 1 jadwal keberangkatan untuk setiap 1 rute perjalanan.

Adapun tujuan wilayah yang dilayani oleh bus AKAP adalah, Cirebon, Tasikmalaya, Purwokerto, Semarang, Solo, Yogyakarta, Ngawi, Surabaya, Malang, Palembang, Padang, dan Bengkulu.

Baca juga: Soal Keputusan Kemenhub, Pengusaha Bus: Kami Bingung, Apalagi Masyarakat



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X