Jokowi Geram Harga Gula Naik Gila-gilaan, Ulah Mafia?

Kompas.com - 14/05/2020, 17:31 WIB
Kapolres Madiun, AKBP Eddwi Kurniyanto menunjukkan 4,5 ton gula pasir yang disita dari tangan pemilik toko pakan burung lantaran menjualnya tanpa ijin dari pemerintah dan menjual dengan harga diluar kewajaran. KOMPAS.COM/MUHLIS AL ALAWIKapolres Madiun, AKBP Eddwi Kurniyanto menunjukkan 4,5 ton gula pasir yang disita dari tangan pemilik toko pakan burung lantaran menjualnya tanpa ijin dari pemerintah dan menjual dengan harga diluar kewajaran.

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo ( Jokowi) merasa curiga dengan harga gula pasir yang tak kunjung turun, padahal impor gula sudah dilakukan. Dia menduga ada oknum atau mafia pangan yang berupaya memainkan harga demi mendapatkan keuntungan.

Pada ratas di Istana Negara, Presiden Jokowi geram harga gula pasir saat ini mencapai Rp 17.000 hingga Rp 17.500 per kilogram. Padahal, harga eceran tertinggi sudah ditetapkan pemerintah di level Rp 12.500 per kilogram.

Jokowi juga mencurigai adanya permainan harga di pasaran. Untuk itu, Presiden meminta kementerian terkait untuk mencari tahu penyebab tingginya harga dua komoditas tersebut.

Mengutip data Info Pangan Jakarta, Kamis (14/5/2020), harga bahan pemanis di pasar-pasar di DKI Jakarta rata-rata dijual sebesar Rp 17.727 per kilogram.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Indonesia, Soemitro Samadikoen, mengungkapkan selama ini memang tak ada pengawasan ketat peredaran gula pasir dari pabrik gula dan importir hingga sampai di pedagang pasar.

Baca juga: Presiden Soroti Tingginya Harga Bawang dan Gula, Satgas Pangan Polri Gelar Sidak

"Selama ini pengawasan hanya di importir atau pabrik gula. Misalnya importir datangkan gula, lalu setelah DO (delivery order) itu sudah tidak diawasi, siapa yang pegang DO, gulanya ke mana, siapa yang ambil, dijual berapa, itu tidak dikontrol," tutur Soemitro kepada Kompas.com.

Pemerintah sendiri menetapkan harga gula dari importir dan pabrik gula dijual dengan harga tertinggi Rp 11.200 per kilogram. Kenyataannya, lantaran tanpa ada pengawasan ketat dalam distribusinya, harganya dikendalikan pemain besar di rantai pasok distribusi gula pasir.

"Ya benar sesuai perintah pemerintah harga DO Rp 11.200 per kilogram. Terus ke mana barangnya, itu yang tidak diawasi. Pemerintah sendiri kan menetapkan HET (harga eceran tertinggi) gula pasir itu Rp 12.000 per. Siapa yang kuasai gula, kan bisa ditelusuri," ujar dia.

Rantai distribusi gula yang tak transparan dan hanya dikendalikan sekelompok grup usaha ini yang membuat masalah harga gula selalu saja muncul.

Menurut perkiraan Soemitro, stok gula nasional sebenarnya cukup secara nasional. Apalagi, impor gula sudah masuk secara bertahap sejak beberapa waktu lalu, baik gula pasir maupun gula mentan (raw sugar).

Baca juga: Jokowi Soroti Harga Bawang Merah dan Gula Pasir, Curiga Ada yang Bermain

Bahkan, pemerintah juga mengambil langkah merealokasi gula rafinasi sebanyak 99.000 ton ke pasar ritel modern dan tradisional. Namun tetap saja, harga gula pasir masih mahal.

"Impor memang awal tahun 2020 belum keluar, tapi sekarang sudah masuk. PTPN sudah dapat izin impornya, RNI sudah dapat, rafinasi juga sudah dapat, Bulog dapat kuota impor. Jadi bukan di stok gulanya, tapi ke mana gulanya," ucap Soemitro.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X