BTN: Mau Dapat Relaksasi Kredit? Debitur Jangan Sulit Dihubungi

Kompas.com - 16/05/2020, 10:49 WIB
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Pahala Mansury saat ditemui di Plaza Indonesia, Sabtu (23/11/2019) KOMPAS.com/Rina Ayu LarasatiDirektur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Pahala Mansury saat ditemui di Plaza Indonesia, Sabtu (23/11/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Pahala Nugraha Mansury meminta para debitur untuk tidak susah dihubungi perbankan bila ada cicilan kredit.

Pasalnya, bank bersandi saham BBTN ini mengaku masih terus melakukan restrukturisasi kredit untuk meringankan beban nasabah terdampak Covid-19. Bila sulit dihubungi, perseroan tidak tahu kondisi nasabah tengah dalam kesulitan.

"Makanya kita berharap dalam kondisi ini debitur terus bisa berkomunikasi dan bisa dihubungi oleh BTN. karena dengan begitu kita bisa tahu kebutuhan debitur ini apa sebenarnya? Apa memang butuh ada penangguhan dan sebagainya?" kata Pahala dalam konferensi video, Jumat (15/5/2020).

Baca juga: BTN Pangkas Target Pertumbuhan Kredit Jadi 2-3 Persen Pada 2020

Dia pun menuturkan, komunikasi perbankan kepada debitur bukan hanya bermaksud menagih cicilan kredit.

Pahala bilang, nasabah bisa menyampaikan keluhan sehingga perbankan mengetahui kebutuhan-kebutuhan apa yang bisa diberikan.

"Jadi ini kita imbau kepada masyarakat terus, ya kita tentunya kalau menagih bukan berarti bahwa, ya justru dalam proses interaksi dengan perbankan ini nasabah bisa menyampaikan kebutuhannya apa," ujarnya.

Namun dia mengakui, tak semua nasabah bisa mendapat relaksasi kredit. Hanya nasabah-nasabah yang telah sesuai dengan kriteria dalam aturan pemerintah yang menerima.

Baca juga: Dorong Pembiayaan Perumahan, BTN Salurkan SSB Mulai Bulan Ini

Aturan itu tertuang dalam Perppu Nomor 1 Tahun 2020 dan POJK Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian sebagai Kebijakan Countercyclical.

"Diberikan karena debitur terpengaruh Covid-19, tapi tetap harus berdiskusi dulu dengan kita agar kita bisa menilai apa yang menyebabkan debitur bisa direstrukturisasi," jelasnya.

Adapun hingga kuartal I 2020, perseroan telah merestrukturisasi 30.000 nasabah. Diperkirakan, jumlah nasabah yang mendapat restrukturisasi pada April bertambah antara 75.000 hingga 77.000 nasabah begitupun seterusnya pada bulan Mei 2020.

"Kami tidak bisa memperkirakan akan berapa banyak lagi yang akan direstrukturisasi, tapi hingga saat ini kami terus hitung dan kami berikan," pungkasnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X